SUARA SUMEDANG - Performa Persib Bandung yang terseok-seok di Liga 1, serta permasalahan antara Bobotoh dan manajemen mengundang respon dari budayawan.
Budayawan asal Bandung, Budi Dalton memberikan respon terkait permasalahan antara Bobotoh dengan manajemen Persib.
Menurutnya ada sebuah sistem yang tidak nyambung antara Bobotoh dan manajemen.
Dalam sesi wawancaranya yang dipublikasikan di YouTube, Budi menilai jika tim yang berjuluk Maung Bandung itu, sudah menjadi idiom bagi orang-orang Jawa Barat.
Terkait tradisi yang hilang dalam Persib, Budi menuturkan bilamana ada konsep moderninasi dalam konteks budaya dipastikan ada perubahan.
“Tinggal kita melihat di sudut yang mana, apakah jauh jadi lebih baik atau tidak. Menurut saya, semua perubahan ingin menuju lebih baik, walaupun pasti ada yang hilang, seperti tradisi yang menjadi kebiasaan,” kata Budi Dalton.
Ketika ditanya soal mempertahankan tradisi dan budaya dari Bobotoh, Budi memberikan sebuah analogi kecintaan Bobotoh yang tak akan hilang terhadap Persib.
“Saya coba mengilustrasikan kecintaan kepada Persib, maka saya coba analogikan jersey itu adalah seragam. Seragam pemain dipakai oleh Bobotoh. Bisa dilihat, ada orang yang berangkat ke luar negeri memakai jersey Persib, tidak ada yang memakai seragam pramuka,” kata Budi.
“Jadi tetap akan ada kebanggaan terhadap Persib, tidak akan pernah hilang namun hanya beda-beda bentuk saja,” sambungnya.
Baca Juga: Terawang Lesti Kejora Usai Dihujat Selebgram, Peramal: Banyak yang Ingin Senggol
Melihat polemik yang terjadi antara Bobotoh dan manajemen, Budi mengatakan harus ada keterbukaan antara Bobotoh, pemain dan manajemen.
“Menurut saya tidak ada salahnya melibatkan orang-orang yang pernah terlibat. Pengurus harusnya terbuka, segala macam aspirasi ditampung, siapa tahu itu menjadi salah satu perubahan,” ucap Budi.
“Maka harus dibuka ruang masukan, aspirasi dari siapa pun, siapa tahu ternyata ada yang lebih cerdas diluar sana, untuk membuat strategi Persib. Lalu, ikatan emosional kultural menurut saya penting, karena perubahan harus diikat dengan emosional kultural, dari pemain termasuk pengurus,” tutupnya. (*)
Sumber: YouTube The Protocol of Sunda