Kekerasan Seksual Pada Anak Seperti Gunung Es

Tantrum Suara.Com
Jum'at, 03 Juni 2022 | 13:36 WIB
Kekerasan Seksual Pada Anak Seperti Gunung Es
suara.com

TANTRUM -  Efek gunung es akan terjadi jika kekerasan seksual pada anak terus banyak terjadi di masyarakat. Namun kasusnya tidak terkuak ke masyarakat.

Menurut Teddy Hidayat, Psikiater Rumah Sakit Melinda 2 Bandung, bila ada satu kasus yang dilaporkan sebenarnya masih ada sembilan kasus lain yang tidak terlaporkan. 

"Kekerasan seksual pada anak seringkali tidak segera terungkap. Seperti rudapaksa yang dilakukan oleh seorang guru di Madani Boarding School terhadap santriwatinya sampai melahirkan 8 orang bayi," ujar Teddy ditulis Bandung, Jumat, 3 Junii 2022.

Teddy menerangkan peristiwa tidak bermoral itu sebenarnya telah terjadi sejak tahun 2016. Tetapi baru terbongkar tahun 2021. 

Teddy mengatakan hal ini terjadi karena tidak adanya pengawasan terhadap anak dari orang tua dan lingkungannya. 

"Serta tidak adanya pengawasan terhadap lembaga tersebut dari instansi yang berwenang atau yang seharusnya mengawasi," kata Teddy.

Teddy menganggap semua pihak yang senantiasa berdampingan dengan anak seperti orang tua, pengasuh, guru, lingkungan sekolah harus mengenal dan mampu mendeteksi kekerasan seksual pada anak. 

Karena dampak dari seorang anak yang menjadi korban kekerasan seksual akan mengalami dampak fisik, psikis, sosial yang berkepanjangan. 

"Stimulasi seksual dan perkosaan adalah faktor predisposisi terhadap gangguan psikiatrik di kemudian hari. Seperti fobia, cemas, tidak berdaya, depresi karena rasa malu, bersalah, citra diri buruk, perasaan telah mengalami cedera permanen, pengendalian impuls, merusak  bahkan terjadi bunuh diri," terang Teddy. 

Teddy menyebutkan beberapa kemungkinan yang dapat terjadi dampak kekerasan seksual terhadap seseorang.

Yaitu kesulitan mempercayai orang lain, cenderung akan menolak hubungan seksual dengan lawan jenis dan lebih memilih hubungan seksual sesama jenis.  

"Korban pada kasus ini adalah kanak-kanak artinya masih mudah dipengaruhi. Pelaku melakukan upaya intimidasi dan sugesti atau ditanamkan dan  dipengaruhi, dibisikkan ke telinga korban bahwa murid  harus taat pada guru, dilakukan terus-menerus, korban hidup di lingkungan tertutup atau terisolir selama bertahun –  tahun," ucap Teddy.

Kondisi ini akan mempengaruhi perkembangan kepribadian dan pemikiran korban kearah patologis. 

Salah satunya disebut 'stockholm syndrome' yaitu gangguan psikiatrik pada korban penyanderaan yang membuat mereka merasa simpati atau bahkan muncul kasih sayang terhadap pelaku.  

"Pelaku kekerasan seksual umumnya dilakukan orang dewasa yang dikenal oleh korban. Dapat anggota keluarga yang dipercaya, pengasuh, guru baik di sekolah formal maupun pesantren," tukas Teddy.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Geometri dan Pengukuran Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Hoki Kamu? Cek Peruntungan Shiomu di Tahun Kuda Api 2026
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Wanita Alpha, Sigma, Beta, Delta, Gamma, atau Omega?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI