Kasus Berulang Galon Isi Ulang Oplosan, Warganet: Produsen Gagal Antisipasi

Tantrum

Sabtu, 30 Juli 2022 | 22:10 WIB
Kasus Berulang Galon Isi Ulang Oplosan, Warganet: Produsen Gagal Antisipasi
Tangkapan layar warganet soal Galon Isi Ulang Oplosan. ((Twitter))

TANTRUM - Media sosial digegerkan dengan pengungkapan kasus galon isi ulang oplosan produk air minum dalam kemasan (AMDK) galon isi ulang oleh polisi. Dalam sebuah unggahan video di media sosial pada 22 Juni 2022, Polres Cilegon, Banten, merekonstruksi bagaimana para pelaku mengoplos galon AMDK bermerek terkenal itu.

Pengoplosan dilakukan dengan air sembarangan, lalu mengemasnya dengan tutup dan segel yang disinyalir asli milik merek tersebut. Persoalan ini tentu saja mencemaskan banyak orang, termasuk di media sosial. 

Sebab, sepertiga penduduk Indonesia mengandalkan AMDK sebagai sumber air minum sehari-hari. Lebih mengkhawatirkan lagi, pemalsuan atau pengoplosan itu terjadi pada merek ternama yang paling banyak beredar di pasaran: Aqua.

Menurut data dari berbagai sumber, Aqua menyuplai sekitar 64 persen dari 11,17 miliar liter AMDK galon yang ada di pasaran. Meskipun paling banyak dikonsumsi, produsen Aqua gagal melindungi jutaan konsumennya dari praktik-praktik pemalsuan dan pengoplosan.

Seperti diungkap oleh Kepolisian, pelaku ternyata bisa memperoleh tutup galon yang diindikasikan asli merek Aqua. Bahkan, sebagai barang bukti, polisi menyita 265 tutup galon Aqua utuh yang masih belum digunakan pelaku.

Dengan bermodalkan hanya Rp 5.000 untuk membeli sebiji tutup galon itu, mereka mengisi galon asli Aqua dengan air yang diperoleh dari depot air minum. Mereka kemudian menjual satu galon dengan harga Rp 16.000.

Lebih mirisnya, mereka telah melakukan aksi yang merugikan konsumen itu selama dua tahun. Menurut keterangan Kapolres Cilegon AKBP Eko Tjahyo Untoro, mereka bisa mengoplos galon isi ulang Aqua sebanyak 100 galon per hari atau 2.500 galon per bulan. Itu berarti mereka telah menghasilkan sekitar 60 ribu galon isi ulang oplosan selama dua tahun beraksi.

Selama itu pula, produsen Aqua gagal mengetahui dan mengantisipasinya. Padahal, menurut Kepolisian, satu dari enam pelaku sebenarnya pemilik gudang agen yang menjual Aqua dan satu lagi adalah penyuplai tutup yang diindikasikan asli milik Aqua.

Apalagi, menurut catatan Kepolisian, praktik pengoplosan seperti ini terjadi nyaris tiap tahun di sejumlah wilayah, seperti di Bantul (2011), Kota Depok (2016), Tangerang Selatan (2017), Pandeglang (2018), Magetan (2020), dan Cilegon (2022). Warganet pun mempertanyakan ke mana saja selama ini tanggung jawab produsen ternama itu? Bagaimana kasus ini bisa terjadi berulang kali dan terus menimpa merek mereka.

baca juga

“Fenomena ini sudah lama (terjadi), sehingga seharusnya bisa dideteksi dari awal” kata anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tubagus Haryo, di Jakarta, Rabu 27 Juli 2022. 

“Galonnya resmi, segelnya resmi, tapi isinya, dalam hal ini air dalam kemasannya, justru bukan dari produsen,” lanjut Tubagus Haryo.

YLKI pun mendesak produsen untuk responsif terhadap kasus yang terjadi berulang kali ini. Tubagus menyatakan produsen untuk mengevaluasi mata rantai distribusinya dan mengevaluasi produknya secara rutin.

“Kalau perlu, tutup, segel, dan galonnya dimodifikasi dalam kurun waktu tertentu untuk menghindari penipuan seperti ini,” katanya.

Ratusan juta galon merek Aqua beredar secara bebas, bukan hanya di agen dan distributor, tapi juga di penjual-penjual kecil dan perorangan. Karena terus digunakan ulang, dan bahkan tanpa batas waktu, tak jarang galon-galon itu berakhir di tangan para pemalsu dan pengoplos.

Alhasil, AMDK galon isi ulang sangat rentan dengan pemalsuan. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) bahkan telah menerbitkan rekomendasi kepada pemerintah dan pemerintah-pemerintah daerah tentang kerentanan AMDK galon isi ulang untuk dipalsukan dan dioplos dengan air sembarangan.

“Kami telah mengkaji ini (kasus pemalsuan AMDK galon isi ulang) sejak tahun lalu dan sudah menerbitkan rekomendasi pengawasan kepada pemerintah,” kata Ketua BPKN, Rizal Halim.

Namun, pemegang kendali atas peredaran galon itu semestinya adalah produsen. Mereka semestinya bisa memastikan bahwa galon-galonnya kembali ke agen-agen dan toko-toko resmi, sehingga tidak disalahgunakan.

Persoalan lain, yang tak kalah penting, adalah bagaimana produsen memastikan tutup dan segel galonnya tidak bebas diperjualbelikan, seperti yang terjadi dalam kasus di Cilegon. Apakah ini melibatkan orang dalam? Begitu pertanyaan yang muncul.

“Kalau memang melibatkan orang dalam,” kata Tubagus, “produsen harus melaporkannya ke Kepolisian karena ini sudah mencederai hak konsumen.”

Tubagus mengatakan produsen mesti menetapkan distributor dan agennya yang resmi. Sebab, mendapatkan informasi yang benar dan transparan merupakan hak konsumen. 

“Konsumen harus tahu ke mana mereka membeli dan ke mana harus mengajukan aduan jika ada komplain,” katanya.

Sayangnya di tengah kepedulian warganet di media sosial mempersoalkan kewajiban produsen, masih ada sejumlah akun yang malah menyalahkan konsumen. Mereka, misalnya, mengatakan, “Makanya sebelum beli itu, cek dulu keasliannya.” 

Lalu ada lagi yang mengatakan, “100 persen pabrik gak bisa ngawasin semua produknya 24 jam, jadi harus kita yang hati-hati dan teliti.” Pada intinya, mereka ingin mengatakan konsumen seharusnya teliti sebelum membeli karena produsen sudah membantu dengan menjelaskan bagaimana cara mengidentifikasi produk palsu.

Persoalannya, untuk mengetahui mana galon dengan isi asli atau galon dengan isi oplosan, konsumen diminta untuk memelototi tulisan supermini kode produksi pada tutup dan kemudian mencocokkannya dengan tulisan supermini kode produksi pada badan galonnya. Seberapa sempat konsumen mengecek dan mencocokkan itu ketika membeli galon isi ulang? Lagipula, apakah tulisannya cukup besar dan cukup terlihat untuk dicek dan dicocokkan satu sama lain?

Penjelasan produsen Aqua bahwa desain khas pada tutup dan segel galonnya bisa dijadikan alat untuk mengindentifikasi produk palsu juga tak cukup ampuh. Sebab, kita tahu dari keterangan polisi, tutup dan segel itu ternyata diperjualbelikan dan kemudian berakhir pada galon isi ulang oplosan.

Jadi, penjelasan produsen Aqua memang penting sebagai bagian dari edukasi konsumen. Tapi, penting juga bagi produsen untuk mengedukasi distributor, agen, dan penjual di mata rantai pasokan paling bawah. Sayangnya, menurut survei YLKI, 83 persen distributor, agen, dan penjual mengaku tidak pernah mendapatkan edukasi dari produsen AMDK.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Heboh Pemalsuan Galon Isi Ulang, Mengapa Bisa Terjadi?

Heboh Pemalsuan Galon Isi Ulang, Mengapa Bisa Terjadi?

Lifestyle | Jum'at, 29 Juli 2022 | 09:41 WIB

Galon BPA atau Plastik PET, Mana yang Lebih Aman?

Galon BPA atau Plastik PET, Mana yang Lebih Aman?

Tantrum | Kamis, 28 Juli 2022 | 23:30 WIB

Produsen Lalai, AMDK Galon Isi Ulang Lagi-lagi Dipalsukan

Produsen Lalai, AMDK Galon Isi Ulang Lagi-lagi Dipalsukan

Tantrum | Kamis, 28 Juli 2022 | 19:33 WIB

Kreatif, Warganet Ini Manfaatkan Galon Sekali Pakai untuk Talang Air

Kreatif, Warganet Ini Manfaatkan Galon Sekali Pakai untuk Talang Air

Jogja | Rabu, 27 Juli 2022 | 20:09 WIB

Terkini

5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review

5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:45 WIB

Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster

Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster

Bola | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:35 WIB

Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla

Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla

Riau | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:30 WIB

KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban

KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:29 WIB

Bos BI Berganti, Grace Natalie PSI Tegaskan Independensi Institusi Tak Boleh Goyah

Bos BI Berganti, Grace Natalie PSI Tegaskan Independensi Institusi Tak Boleh Goyah

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:26 WIB

DPRD DKI Soroti Izin Penjualan Miras di Festival Musik, Buntut Kasus Viral The Sounds Project

DPRD DKI Soroti Izin Penjualan Miras di Festival Musik, Buntut Kasus Viral The Sounds Project

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:20 WIB

Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!

Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:20 WIB

Luas Karhutla Riau Capai 15 Ribu Hektare Selama Januari-Juli 2026

Luas Karhutla Riau Capai 15 Ribu Hektare Selama Januari-Juli 2026

Riau | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:17 WIB

Proyek LRT City Masih Belum Jelas, Dony Oskaria Turun Tangan

Proyek LRT City Masih Belum Jelas, Dony Oskaria Turun Tangan

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:16 WIB

Petani Tebu Tetap Raih Cuan, Hasil Panennya Diserap Pabrik Gula

Petani Tebu Tetap Raih Cuan, Hasil Panennya Diserap Pabrik Gula

Bisnis | Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:12 WIB

×