Setelah ruam mucul, dr Henry mengungkapkan bahwa ruam tersebut akan berevolusi dari waktu ke waktu.
Mulanya, ruam ini akan terlihat datar atau pipih. Lambat laun, akan muncul benjolan berisi cairan atau nanah.
"Kemudian akan menjadi keropeng dan Anda akan menularkan penyakit sampai ruamnya sembuh," jelas dr Henry.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkapkan bahwa orang yang curiga dirinya mengalami gejala clade virus perlu segera menghubungi penyedia layanan kesehatan yang dapat memberikan pengetesan lebih lanjut.
Tes perlu dilakukan untuk mengetahui apakah gejala tersebut benar-benar disebabkan oleh clade virus atau masalah lain.
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengganti nama penyakit cacar monyet atau monkeypox menjadi clades.
WHO kemudian menambahkan angka Romawi untuk membedakan varian virus. Penggantian nama ini karena diskriminasi yang banyak dialami monyet di beberapa negara.
Virus cacar monyet pada awalnya dinamai seperti itu karena ditemukan pertama kali pada 1958 pada monyet yang sedang diteliti di salah satu laboratorium di Denmark.
Dilansir dari situs resmi WHO, Senin (15/8/2022) sejak saat ini, nama cacar monyet digunakan.
Namun, kini nama tersebut dianggap sudah tidak relevan karena penularan virus tidak lagi akibat monyet.