tantrum

Harusnya Rupiah Menguat, Dollar Sedang Merosot

Tantrum Suara.Com
Selasa, 13 September 2022 | 13:46 WIB
Harusnya Rupiah Menguat, Dollar Sedang Merosot
Ilustrasi uang rupiah. (Mohamad Trilaksono from Pixabay)

TANTRUM - Nilai tukar rupiah melemah 0,08% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.840/US$ pada perdagangan Senin (12/9/2022). Padahal, indeks dolar AS sedang mengalami pelemahan.

"Kekeringan" valuta asing yang melanda di dalam negeri menjadi salah satu penyebab rupiah sulit menguat. 

Namun, indeks dolar AS yang kembali jeblok hingga 0,62% Senin kemarin membuka peluang penguatan rupiah pada perdagangan Selasa (13/9/2022).

Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini sudah 4 hari beruntun merosot.

Sementara itu likuiditas valas di dalam negeri tengah tertekan. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan kredit valasnya lebih tinggi dibandingkan dana pihak ketiga valas. 

Mengutip data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit valas tumbuh 16,82% dan DPK valasnya 5,8%.

Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbanas, Aviliani mengingatkan jika masalah likuiditas ini tidak diselesaikan segera maka industri yang memerlukan bahan baku impor akan melirik pendanaan atau kredit dari bank asing.

"Mau tidak mau ya bank kalau gak bisa kasih pinjaman mereka [pengusaha] ke bank asing," ujar Aviliani dalam Power Lunch CNBC Indonesia, dikutip Selasa, 13 September 2022.

Selain itu, 'kemarau' valas dapat mengganggu stabilitas rupiah. Risiko rupiah akan terpuruk jika permintaan valas mengalami peningkatan menjadi cukup besar.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Main di Liga Arab? Ini Penjelasan Ketua Federasi Sepakbola Arab Saudi

Secara teknikal, belum ada perubahan level-level yang harus diperhatikan mengingat rupiah melemah tipis Senin kemarin. 

Rupiah yang disimbolkan USD/IDR berada bawah di rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA50) yang berada di kisaran Rp 14.890/US$ - Rp 14.900/US$.

MA 50 merupakan resisten kuat yang menahan pelemahan rupiah. Sehingga selama bertahan di bawahnya, rupiah berpeluang menguat.

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian sudah bergerak turun dari wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya, selama belum mencapai oversold, ruang penguatan rupiah masih terbuka cukup besar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI