TANTRUM - Para pelaku usaha rintisan atau startup untuk berani menangkap peluang di sektor pangan yang dinilai masih terbuka lebar dan bahkan membesar karena krisis pangan.
Berdasarkan populasi startup Indonesia saat ini, hanya empat persen saja yang berkecimpung di sektor agrikultur.
"Masalah krisis pangan, urusan pangan ke depan ini akan menjadi masalah besar yang harus dipecahkan oleh teknologi dan itu adalah kesempatan, peluang, opportunity, dan agrikultur hanya empat persen ," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Tangerang, Banten, 26 September 2022.
Porsi empat persen itu masih tertinggal jauh dibandingkan sektor fintech atau pinjaman online yang mendominasi populasi startup Indonesia dengan 23 persen atau ritel sebesar 14 persen.
Ia mengatakan, dalam sektor pangan terdapat setidaknya tiga aspek yang bisa disasar oleh para pelaku usaha rintisan Indonesia, yakni produksi, distribusi, dan pemasaran.
"Di sini ada peluangnya semuanya. Urusan produksinya ada, urusan distribusinya ada, urusan pasarnya ada semua peluangnya," katanya.
Ia mengingatkan, para pelaku usaha rintisan bahwa sektor pangan tidak hanya berkenaan dengan beras sebagai komoditas makanan pokok utara masyarakat Indonesia.
Untuk komoditas makanan pokok sendiri Presiden mencontohkan ada sorgum, porang, cassava (singkong), dan sagu. Hal yang sama berlaku pada sayur-sayuran maupun pangan ikan-ikanan.
"Sehingga ini menjadi sebuah peluang besar dan target konsumen dari petani di ladang, nelayan di lautan, sampai masuk ke dapurnya ibu-ibu rumah tangga. Peluangnya sangat besar sekali," katanya.
Potensi ekonomi digital Indonesia yang pada 2020 sebesar Rp 632 triliun diklaim bisa tumbuh delapan kali lipat hingga sekira Rp 4.531 triliun pada 2030 nanti.