Rupiah Masih Melemah Akibat Turunnya Surplus Perdagangan

Liberty Jemadu, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50 WIB
Rupiah Masih Melemah Akibat Turunnya Surplus Perdagangan
Nilai tukar rupiah melemah pada Selasa (5/5/2026), ketika BPS baru saja mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen. [Antara]
baca 10 detik
  • Dosen FEB UGM Eddy Junarsin menyatakan rupiah melemah di atas Rp17.400 akibat penurunan surplus perdagangan dan tingginya suku bunga AS.
  • Pelemahan rupiah meningkatkan daya saing ekspor dan investasi asing, namun membebani industri yang bergantung pada komoditas serta bahan baku impor.
  • Bank Indonesia menghadapi dilema kebijakan moneter antara menjaga pertumbuhan ekonomi atau mengendalikan inflasi di tengah potensi spekulasi pasar yang berisiko.

Suara.com - Dosen FEB UGM Eddy Junarsin, menyoroti nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kian melemah menembus level di atas Rp17.400. Menurutnya pelemahan rupiah merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor ekonomi dan nonekonomi.

Secara teknis, salah satu penyebabnya adalah menurunnya surplus neraca perdagangan dibandingkan periode sebelumnya. Saat ini balance of trade Indonesia masih surplus namun nilainya menurun. Artinya ekspor tetap lebih besar daripada impor, meski selisihnya semakin kecil.

Di sisi global, kenaikan harga minyak dunia menjadi beban tambahan. Sebagai negara yang mengimpor minyak (net importer), Indonesia harus mengeluarkan biaya lebih besar yang merupakan faktor pendorong pelemahan rupiah.

Di saat yang sama, suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) masih relatif tinggi dan ini menyebabkan banyak investor memilih memindahkan dananya di AS karena dirasa menjadi safe haven.

"Arus modal asing di saat seperti ini tentu akan mengalir ke tempat yang lebih aman, dalam konteks pasar keuangan contohnya adalah Amerika Serikat," kata Eddy, Selasa (5/5/2026).

Rupiah masih tertekan dolar AS dan betah di level Rp 17.000/USD. [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa]
Nilai tukar rupiah terus anjlok di Mei 2026. [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa]

Namun, di sisi lain, Eddy menilai pelemahan rupiah ternyata dapat memberikan berbagai manfaat. Di pasar internasional, produk Indonesia menjadi lebih murah sehingga lebih kompetitif.

Hal ini bisa mendorong ekspor dan membuka lapangan kerja. Selain itu, biaya produksi di dalam negeri menjadi relatif lebih murah bagi investor asing untuk melakukan foreign direct investment (FDI).

Meski demikian tidak semua sektor diuntungkan dalam kondisi ini.

"Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kondisi ini perlu diantisipasi dengan serius agar tidak berkembang menjadi gejolak yang lebih besar di pasar keuangan.

Jika tekanan ini tidak dikelola dengan baik, kata dia, dapat memicu destabilizing speculation, yaitu kondisi ketika pelaku pasar bertindak berlebihan karena kepanikan. Sehingga justru memperparah pelemahan rupiah itu sendiri.

"Tekanan rupiah saat ini bersifat jangka pendek. Namun jika tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan destabilizing speculation," ujarnya.

Dalam situasi ini, Bank Indonesia menghadapi dilema kebijakan yang tidak mudah. Di satu sisi, penurunan suku bunga acuan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang tercapainya lapangan kerja penuh.

Namun, langkah tersebut juga berisiko meningkatkan inflasi karena jumlah uang yang beredar semakin besar. Sebaliknya, jika suku bunga dinaikkan, inflasi dapat lebih terkendali, tetapi pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat dan tingkat pengangguran meningkat.

"Kalau terus menurunkan policy rate, pertumbuhan ekonomi diharapkan lebih tinggi, namun bahayanya inflasi dapat melonjak. Sebaliknya, jika menaikkan policy rate, inflasi lebih terkendali, namun pertumbuhan ekonomi terhambat," jelasnya.

Oleh sebab itu, kebijakan moneter perlu dijalankan secara bertahap dan hati-hati. Termasuk dengan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Intervensi di pasar valuta asing juga dinilai perlu dilakukan secara terbatas.

"Jika dilakukan terlalu agresif untuk menahan pelemahan rupiah, justru dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang merugikan, seperti tergerusnya cadangan devisa dan menurunnya kepercayaan pasar," ucapnya.

Ia menyebut dukungan kebijakan fiskal dari pemerintah menjadi faktor penting. Terutama dalam menjaga keseimbangan anggaran, memberikan insentif yang tepat bagi dunia usaha, serta mengelola utang negara secara efisien.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pelemahan Rupiah yang Terparah dalam Sejarah Bisa Picu Gagal Bayar dan PHK

Pelemahan Rupiah yang Terparah dalam Sejarah Bisa Picu Gagal Bayar dan PHK

Bisnis | Selasa, 05 Mei 2026 | 18:41 WIB

Nilai Tukar Rupiah Terus Anjlok saat BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Melejit Tinggi

Nilai Tukar Rupiah Terus Anjlok saat BPS Umumkan Pertumbuhan Ekonomi Melejit Tinggi

Bisnis | Selasa, 05 Mei 2026 | 15:48 WIB

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah RI Berdiri, BI Tunjuk Biang Keroknya

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah RI Berdiri, BI Tunjuk Biang Keroknya

Bisnis | Selasa, 05 Mei 2026 | 14:54 WIB

Apa Saja Dampak Pelemahan Rupiah?

Apa Saja Dampak Pelemahan Rupiah?

Bisnis | Selasa, 05 Mei 2026 | 14:48 WIB

Rupiah Keok ke Rp17.410, Subsidi Energi Jebol Rp118 Triliun

Rupiah Keok ke Rp17.410, Subsidi Energi Jebol Rp118 Triliun

Bisnis | Selasa, 05 Mei 2026 | 12:43 WIB

Terkini

Copot Kapolres Sukoharjo Usai Penggeledahan Ponpes, Langkah Kapolri Panen Pujian Ulama Bogor

Copot Kapolres Sukoharjo Usai Penggeledahan Ponpes, Langkah Kapolri Panen Pujian Ulama Bogor

News | Senin, 02 November 2026 | 21:51 WIB

Keluarga Tokoh Sumpah Pemuda Berkumpul, Mengenang Perjuangan Para Pendahulu Bangsa

Keluarga Tokoh Sumpah Pemuda Berkumpul, Mengenang Perjuangan Para Pendahulu Bangsa

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 21:43 WIB

Ketika Membeli Pembalut Harus Berhemat, Perempuan Marginal Palembang Hadapi Risiko Kesehatan

Ketika Membeli Pembalut Harus Berhemat, Perempuan Marginal Palembang Hadapi Risiko Kesehatan

Sumsel | Senin, 02 November 2026 | 21:41 WIB

Pemerintah Kerahkan AI Lacak Pajak di Shopee, Lazada, Hingga Gojek

Pemerintah Kerahkan AI Lacak Pajak di Shopee, Lazada, Hingga Gojek

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 21:41 WIB

Klaim Tak Tahu soal Mahasiswa Palsu, Raffi Ahmad Disentil Sarah Sechan: Itu Namanya Integritas!

Klaim Tak Tahu soal Mahasiswa Palsu, Raffi Ahmad Disentil Sarah Sechan: Itu Namanya Integritas!

Entertainment | Senin, 02 November 2026 | 21:39 WIB

Pabrik Sepatu PT PWI 1 di Serang Bakal Pindah ke Jateng, Ini Dugaan Penyebabnya

Pabrik Sepatu PT PWI 1 di Serang Bakal Pindah ke Jateng, Ini Dugaan Penyebabnya

Banten | Senin, 02 November 2026 | 21:38 WIB

KPAI Minta Kompolnas dan Propam Usut Kelalaian Penggeledahan Ponpes di Sukoharjo

KPAI Minta Kompolnas dan Propam Usut Kelalaian Penggeledahan Ponpes di Sukoharjo

News | Senin, 02 November 2026 | 21:35 WIB

Agar Hasil Tangkapan Nelayan Tak Cepat Rusak, Energi Bersih Mulai Dilirik untuk Desa Pesisir

Agar Hasil Tangkapan Nelayan Tak Cepat Rusak, Energi Bersih Mulai Dilirik untuk Desa Pesisir

News | Senin, 02 November 2026 | 21:32 WIB

Polisi Kedapatan Pakai Vape di Bogor Bisa Dilaporkan, Ini Cara Aduannya

Polisi Kedapatan Pakai Vape di Bogor Bisa Dilaporkan, Ini Cara Aduannya

Bogor | Senin, 02 November 2026 | 21:31 WIB

Malaysia Masih Belum Terima Timnas Indonesia Juara di FIFA ASEAN Cup 2026, FAM Kembali Desak FIFA

Malaysia Masih Belum Terima Timnas Indonesia Juara di FIFA ASEAN Cup 2026, FAM Kembali Desak FIFA

Bola | Senin, 02 November 2026 | 21:31 WIB

×