"Kasat, kamu sini ikut saya," perintah Sambo.
"Siap Jenderal," Ridwan mematuhi perintah.
Sampai saat itu, Ridwan belum tahu apa yang terjadi di dalam rumah tersebut.
Namun, begitu ia masuk ke ruang makan lantai satu, Ridwan melihat jenazah bersimbah darah di dekat tangga.
Ferdy Sambo bercerita kepada Ridwan bahwa baru terjadi baku tembak yang melibatkan Richard Eliezer dan Yosua dalam rumahnya.
Sambo juga bercerita soal alasan baku tembak tersebut karena pelecehan yang dilakukan Yosua kepada Putri Candrawathi.
"Peristiwa ini tembak menembak, ini yang tergeletak di bawah Yosua. Ini kejadian ini karena dia melecehkan istri saya," Ridwan menirukan cerita Sambo.
Tak hanya bercerita, Sambo juga meninju tembok dengan emosional. Ia juga menggelengkan kepala dan nyaris menangis.
"Pada saat dia menerangkan, dia menepuk tembok agak keras. Saya agak sempat kaget juga, Yang Mulia," kata Ridwan kepada hakim.
"Kepalanya tunduk ke tembok, kemudian dia melihat saya terus sambil mennggeleng-geleng kepala, matanya agak berkaca-kaca," kata Ridwan.
Baca Juga: 4 Antisipasi yang Bisa Kamu Lakukan Sebelum Terjadi Gempa Bumi
AKBP yang kini dimutasi ke Pelayanan Markas Polri ini mengaku sempat terenyuh dengan cerita Sambo.
"Saya juga jadi blank, Yang Mulia," kata Ridwan.
AKBP Ridwan Soplanit mengaku terkena jebakan Ferdy Sambo terkait kasus kematian Brigadir Yosua.
Tak hanya itu, Ridwan juga menyebut dirinya sebagai korban dalam skenario palsu Sambo.
"Ini kan saya juga datang, saya korban juga, saya di-prank juga," ujar Ridwan dalam persidangan Kuat Maruf, Bripka Ricky Rizal dan Bharada Ricard Eliezer di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (21/11/2022).
"Saya bilang dari awal persidangan ini saya sudah bilang karena saya anggap ini etika persidangan, saya menceritakan bukan meyakinkan hakim tapi saya sebagai saksi mewakili institusi menceritakan fakta," jelas dia.