Saya tentu tidak mau mengira-ngira dan menyimpulkan masalah apa yg menjadi pokok keretakan rumah tangga bapa dan Ambu. Saya hanya ingin Ambu dan bapak Dedi kembali baik baik saja, saling memahami satu sama lain adalah kunci. Anak-anak adalah tempat kita menyusun kembali biduk rumah tangga.
Mungkin ada ego, ada perbedaan paham yang itu bisa diredam dengan saling mengerti, tidak sama-sama memaksakan kehendak. Saya yakin Ambu dan bapak Dedi bisa melakukan itu. Kasian anak-anak, kasian keluarga, kasian kami yang menantikan Purwakarta tetap istimewa...
Saya juga ingin mengingatkan, boleh ya Ambu dan pak Dedi saya mengingatkan, bahwa dari keretakan rumah tangga Ambu dan pa Dedi, ada yang bertepuk tangan. Mereka yang ingin dari dulu memecah belah keluarga Ambu dan pak Dedi, mereka yang ingin Purwakarta tidak baik baik saja.
Terimakasih, dari kami yang ingin tetap melihat Ambu dan pak Dedi rukun hidup nyaman bersama anak-anak, bersama kami warga Purwakarta.
Boleh lah Ambu dan pak Dedi, cuti sementara waktu dari kesibukan sebagai bupati dan sebagai anggota DPR RI, untuk sekedar kembali merajut asa, mengenang bagaimana masa lampau 10-15 tahun lalu atau dimana Ambu dan pak Dedi menyatakan sumpah suci dan akad didepan penghulu untuk membina rumah tangga...
Jangan karena ego, jangan karena jabatan, jangan karena bisikan orang dekat yang tak bertanggungjawab yang bisa mengalahkan rasa diantara Ambu dan bapak Dedi.
Ini hanya keluh kesah saya sebagai warga Purwakarta.
Wassalamu'alaikum wr.
Demikian isi surat terbuka itu ***
Artikel ini telah tayang di lensapurwakarta.com dengan judul Merasa Prihatin, Warga Purwakarta Tulis Surat Terbuka Untuk Bupati Anne dan Dedi Mulyadi