SuaraTasikmalaya- Ditanya Bupati Pangandaran Jeje Wiradina setelah dari sini mau ke mana, Dedi Mulyadi menjawab dengen enteng:
"Saya mah bebas sekarang tidak ada lagi tang melarang mau ke mana juga," katanya usai menghadiri pernikahan Puteri sahabatnya H Undang Sudrajat mantan wartawan Pikiran Rakyat dan staf ahli DPR-RI.
Anggota DPR-RI Dedi Mulyadi menjadi saksi acara pernikahan puteri sahabatnya H Undang Sudrajat di Graha Asia Plaza Kota Tasikmalaya Minggu (11/12/2022).
Dedi Mulyadi didapuk mewakili mempelai wanita untuk menyampaikan penerimaan calon mempelai pria kepada mempelai wanita. Yang menikah itu adalah Selma Hanifa dan A Ikbal.
Tentununya kehadiran Dedi Mulyadi mengundang perhatian publik. Dengan mengenakan ikat kepala putih dan jas belang hitam putih, Dedi diserbu fansya. bahkan ada yang sampai ngejar ke rumah makan.
Momen ini diunggah di Kanal Youtube Lembur Pakuan Chanel pada Senin (12/12/2022).
Saat menyampaikan sambutan Dedi Mulyadi mengatakan momen seorang ayah menangis adalah ketika anaknya harus diserahkan kepada orang yang belum dikenal.
Dengan bahasa sunda yang bagus entep seureuhna (tata bahasa sastra) Kang Dedi menasehati sekaligus menitipkan Neng Selma Hanifa kepada Aa Iqbal.
Sebab Kang Dedi Mulyadi yang masih jadi suami Anne Ratna Mustika ini seorang ayah akan merasa sedih di saat pernikahan karena harus berpisah dengan anaknya.
"Maksudnya berpisah dari keluarga dibawa suami yang tentu belum kenal sifatnya," katanya.
Dedi Mulyadi juga mendoakan pernikahan Selma Hanifa dan Iqbal yang diikat oleh syariat. Ada calon pengantin, saksi dan wali serta mahar.
"Namun ini mah maharnya bukan sertifikat tanah seperti yang ramai di Purwakarta," katanya disambut rih undangan.
Terakhir Kang Dedi Mulyadi mengatakan, karena dia mewakili pengantin wanita harus menyampaikan perasaan seorang ayah yang ditinggal nikah oleh puteri tercintanya.
Menangisnya seorang bapak yakni saat anak perempuan tercintanya dinikahkan.
Kenapa karena anak perempuan yang diurus dari bayi hingga dewasa, disayang dimanja, saat dinikahkan harus dipasrahkan kepada laki-laki yang belum tahu siapa dia dan bagaimana sifat atau karakternya. Pada Momen ini Kang Dedi agak dareuda (sedih) saat menyampaikannya.