Dua Alasan Ilmiah Gempa Nepal Telan Banyak Korban

Pebriansyah Ariefana

Senin, 27 April 2015 | 13:04 WIB
Dua Alasan Ilmiah Gempa Nepal Telan Banyak Korban
Gempa 7,9 SR guncang Nepal. (reuters)

Suara.com - Para ilmuwan dunia dan ahli manajemen bencana menyoroti buruknya konstruksi bangunan di Nepal menyebabkan jumlah korban gempa di sana sangat banyak. Sampai, Senin (27/4/2015) siang ini tembus 3.218 orang tewas. Sementara 6.000 lebih orang terluka.

Ilmuwan dari University College London’s Institute, Ilan Kelman mengatakan Nepal tidak mempunyai bangunan layak. Semua bangunan tua dan berkonstruksi landai. Di sisi lain Nepal ada di dataran rentan. Di sana merupakan kawasan bekas danau purba.

"Saya melihat di video dan foto, kehancuran benar-benar mengerikan. Gempa banyak membunuh orang, kebanyakan bangunan runtuh," kata Kelman yang merupakan ilmuwan pengurangan risiko bencana, Senin (27/4/2015).

Dia mengatakan pascagempa nanti Nepal harus berbenah. Di sana banyak ahli konstruksi. Selain itu pemerintah juga harus berbenah. Tidak lagi mengkorupsi dana pembangunan infrastruktur.

"Negara itu lama mempelajari banyak cara membangun bangunan yang tahan gempa bumi, tetapi pengetahuan itu tidak selalu diterapkan," kata Kelman.

Sementara di tempat terpisah, Ahli Geologi dari Davidson Institute of Science Education, Ariel Heimann menjelaskan kebanyakan bangunan di Nepal tidak layak. Sehingga terkena getaran sedikit saja, bangunan akan hancur.

"Desain yang benar dan konstruksi tepat dapat mengurangi kerusakan kehidupan dan properti akibat gempa sangat signifikan. Banyak bangunan di Kathmandu dibangun dengan tambal sulam, tanpa standar, dari blok dan batu bata. Ini mudah roboh akibat gempa kuat," papar dia.

Gempa dahsyat 7,9 SR di Nepal, Sabtu (25/4/2015) siang tadi terasa sampai Gunung Everest. Ada alasan khusus gempa itu begitu besar hingga memporak-porandakan Nepal.

Gempa itu dihasilkan dari tambrakan lempengan zona jahitan Indus-Yarlung. Tabrakan yang sama pernah erjadi di Kashmir tahun 2005. Saat itu 80 ribu orang tewas.

Zona jahitan Indus-Yarlung itu dihasilkan dari tabrakan daratan India 50 juta tahun lalu dengan lempeng Eurasia di Eropa dan Asia.

Tabrakan itu menciptakan pegunungan Himalaya. Tabrakan masih berlangsung, sehingga jika diperhatikan puncak Himalaya masih tumbuh sekitar 1 cm per tahun. (jpost/wsj/theguardian)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Gempa Nepal Pisahkan Sejoli Pendaki Tertua Himalaya

Gempa Nepal Pisahkan Sejoli Pendaki Tertua Himalaya

News | Senin, 27 April 2015 | 12:17 WIB

Gempa Nepal, Produksi Apel di India Terancam

Gempa Nepal, Produksi Apel di India Terancam

News | Senin, 27 April 2015 | 11:17 WIB

Korban Tewas Gempa Nepal Kini Menjadi 2.500 Orang

Korban Tewas Gempa Nepal Kini Menjadi 2.500 Orang

News | Senin, 27 April 2015 | 06:54 WIB

Sebagai Sesama Negara Rawan Bencana, RI Kirim Bantuan ke Nepal

Sebagai Sesama Negara Rawan Bencana, RI Kirim Bantuan ke Nepal

News | Minggu, 26 April 2015 | 21:04 WIB

Jokowi:  Kita Siapkan Bantuan ke Nepal, Jangan Tergesa-gesa

Jokowi: Kita Siapkan Bantuan ke Nepal, Jangan Tergesa-gesa

News | Minggu, 26 April 2015 | 16:06 WIB

Terkini

Dilema Pencari Kerja: Mengapa Mencari Upah Layak Dianggap Pilih-pilih?

Dilema Pencari Kerja: Mengapa Mencari Upah Layak Dianggap Pilih-pilih?

Your Say | Jum'at, 17 Juli 2026 | 14:00 WIB

Di Balik Krisis Pertalite dan Solar: Saat Kenaikan Pertamax Memicu Efek Domino

Di Balik Krisis Pertalite dan Solar: Saat Kenaikan Pertamax Memicu Efek Domino

Bisnis | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:56 WIB

Sudirman Said Mengaku Tak Dicecar soal Riza Chalid dalam Pemeriksaan Kasus Petral

Sudirman Said Mengaku Tak Dicecar soal Riza Chalid dalam Pemeriksaan Kasus Petral

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:54 WIB

Porprov Jateng 2026 Terapkan Sistem Real-Time, Hasil Pertandingan hingga Prestasi Dipantau Langsung

Porprov Jateng 2026 Terapkan Sistem Real-Time, Hasil Pertandingan hingga Prestasi Dipantau Langsung

Jawa Tengah | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:53 WIB

Langkah Isuzu di GIIAS 2026 Jadi Ujian Konsistensi di Tengah Ketatnya Pasar Kendaraan Niaga

Langkah Isuzu di GIIAS 2026 Jadi Ujian Konsistensi di Tengah Ketatnya Pasar Kendaraan Niaga

Otomotif | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:50 WIB

Dituding Singgung Hubungan Rizky Nazar, Anjasmara Akhirnya Minta Maaf: Saya Tidak Sebut Nama

Dituding Singgung Hubungan Rizky Nazar, Anjasmara Akhirnya Minta Maaf: Saya Tidak Sebut Nama

Entertainment | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:49 WIB

Indonesia Jadi Pasar Strategis Acerpure, Generasi Muda Jadi Target Utama

Indonesia Jadi Pasar Strategis Acerpure, Generasi Muda Jadi Target Utama

Tekno | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:47 WIB

Mati Listrik saat Bikin Roti? Ini 5 Cara Selamatkan Adonan!

Mati Listrik saat Bikin Roti? Ini 5 Cara Selamatkan Adonan!

Your Say | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:45 WIB

PHK Meningkat, DPR Minta KP2MI Genjot Penempatan Pekerja ke Luar Negeri

PHK Meningkat, DPR Minta KP2MI Genjot Penempatan Pekerja ke Luar Negeri

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:44 WIB

Koordinat Lokasi hingga Data Keluarga Bocor, Dosen UGM Diteror usai Kritik Dugaan Mutasi ASN

Koordinat Lokasi hingga Data Keluarga Bocor, Dosen UGM Diteror usai Kritik Dugaan Mutasi ASN

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 13:44 WIB

×