Kapan Manusia Belajar Memprediksi Suatu Kejadian? Ini Jawabannya

Ririn Indriani, Risna Halidi

Senin, 06 November 2017 | 14:04 WIB
Kapan Manusia Belajar Memprediksi Suatu Kejadian? Ini Jawabannya
Memprediksi atau memprakirakan. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa seorang bayi dapat memprakirakan probabilitas atau kemungkinan suatu kejadian. Peneliti beranggapan bahwa kemampuan manusia untuk menganalisis risiko dan manfaat dari tindakan, bahkan mulai berkembang saat masih berusia enam bulan.

Peneliti kemudian menunjukkan hal tersebut melalui sebuah penelitian. Bayi-bayi dalam penelitian, berhasil menentukan warna mana yang membentuk sebagian besar bola dan warna mana yang lebih cenderung ada di gambar.

"Enam bulan nampaknya adalah usia minimum di mana bayi mulai menghadapi informasi probabilitas. Satu penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bayi berusia empat bulan tidak dapat melakukan tugas ini dan oleh karena itu tampaknya belum peka terhadap informasi ini, kata Ezgi Kayhan, ilmuwan syaraf di MPI CBS dilansir Zeenews.

Tim peneliti menduga bahwa sejak awal kehidupan, otak manusia mewakili statistik lingkungan. Kayhan mengatakan dalam enam bulan pertama kehidupan, bayi dapat mengekstrak informasi tentang kejadian mana yang saling mengikuti, atau seberapa mungkin satu kejadian dibandingkan dengan kejadian yang lain.

Para ilmuwan saraf menyelidiki hubungan ini dengan menghadirkan klip film animasi kepada 75 bayi berusia enam, dua belas dan 18 bulan.

Film pendek ini menampilkan mesin yang penuh dengan bola, sebagian besar berwarna biru, beberapa warna kuning, yang dalam urutan kedua mengeluarkan banyak bola biru yang tersedia ke dalam satu keranjang, dan ke dalam wadah lain terutama bola kuning.

Dalam konteks ini 625 kali lebih kecil kemungkinannya bahwa mesin memilih bola kuning dan bukan biru. Oleh karena itu, keranjang yang diisi dengan bola kuning biasanya merupakan kejadian yang sangat tidak biasa.

Sementara bayi menonton film, para peneliti mengamati mereka menggunakan metode eyetracking yang disebut untuk melihat mana dari kedua keranjang yang mereka tonton lebih lama.

"Kami melihat bahwa bayi-bayi itu menatap lebih lama pada pilihan yang tidak mungkin secara independen dari kelompok usia yang diuji di mana mereka berada - mungkin karena mereka terkejut bahwa itu hanya terdiri dari bola kuning langka dan oleh karena itu merupakan peristiwa yang sangat tidak mungkin," jelas Kayhan merinci.

Untuk memastikan bahwa bayi tidak hanya lebih tertarik dengan warna kuning di beberapa percobaan, para periset juga menggunakan bola hijau dan merah sebagai perbandingan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ternyata Ini Gen yang Bikin Manusia Menjadi Ramah

Ternyata Ini Gen yang Bikin Manusia Menjadi Ramah

Tekno | Senin, 28 Agustus 2017 | 13:30 WIB

Lihat Panjang Jari Seseorang dan Prediksi Kemampuan Atletiknya

Lihat Panjang Jari Seseorang dan Prediksi Kemampuan Atletiknya

Health | Senin, 21 Agustus 2017 | 10:32 WIB

Pengalaman Hidup Bikin Otak Menua

Pengalaman Hidup Bikin Otak Menua

Health | Selasa, 18 Juli 2017 | 16:00 WIB

Terkini

Aparat Diduga Biarkan Ormas 'Pukul' Demonstran, Aktivis: Taktik Orde Baru yang Berbahaya!

Aparat Diduga Biarkan Ormas 'Pukul' Demonstran, Aktivis: Taktik Orde Baru yang Berbahaya!

News | Kamis, 03 September 2026 | 21:22 WIB

Jaka Tingkir Saga, Serial Kolosal Pertama yang Lahir dari Kecerdasan Buatan

Jaka Tingkir Saga, Serial Kolosal Pertama yang Lahir dari Kecerdasan Buatan

Entertainment | Kamis, 03 September 2026 | 21:21 WIB

Kebiasaan Kecil, Berdampak Besar: Bekal Hidup Sehat untuk Generasi Muda Indonesia

Kebiasaan Kecil, Berdampak Besar: Bekal Hidup Sehat untuk Generasi Muda Indonesia

Lifestyle | Kamis, 03 September 2026 | 21:20 WIB

Sumsel Kembali Menengadah ke Langit, Doa Hujan di Tengah Karhutla yang Belum Usai

Sumsel Kembali Menengadah ke Langit, Doa Hujan di Tengah Karhutla yang Belum Usai

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 21:14 WIB

Semen Gresik Tingkatkan Kompetensi Ratusan Tukang Bangunan melalui Sertifikasi Akademi Jago Bangunan

Semen Gresik Tingkatkan Kompetensi Ratusan Tukang Bangunan melalui Sertifikasi Akademi Jago Bangunan

Jawa Tengah | Kamis, 03 September 2026 | 21:14 WIB

Ancaman Siber Meningkat Drastis, DPR Diminta Segara Sahkan RUU KKS

Ancaman Siber Meningkat Drastis, DPR Diminta Segara Sahkan RUU KKS

News | Kamis, 03 September 2026 | 21:11 WIB

Warga Sekitar TPA Putri Cempo Mulai Mengungsi, Alami Sesak Nafas

Warga Sekitar TPA Putri Cempo Mulai Mengungsi, Alami Sesak Nafas

Surakarta | Kamis, 03 September 2026 | 21:05 WIB

Komisi Yudisial dan Keraton Kasunanan Surakarta Bersinergi Perkuat Etika dan Budaya Hukum

Komisi Yudisial dan Keraton Kasunanan Surakarta Bersinergi Perkuat Etika dan Budaya Hukum

Surakarta | Kamis, 03 September 2026 | 21:04 WIB

Hadiri Miss Equality World, Arya Wedakarna Dipanggil Badan Kehormatan DPD

Hadiri Miss Equality World, Arya Wedakarna Dipanggil Badan Kehormatan DPD

News | Kamis, 03 September 2026 | 20:59 WIB

Sempat Alami Gejala Keracunan Usai Santap MBG, Puluhan Siswa di Sleman Akhirnya Kembali Bersekolah

Sempat Alami Gejala Keracunan Usai Santap MBG, Puluhan Siswa di Sleman Akhirnya Kembali Bersekolah

Jogja | Kamis, 03 September 2026 | 20:55 WIB

×