alexametrics

Studi: Jago Menyelam, Gen-gen Orang Suku Bajo Telah Bermutasi

Liberty Jemadu
Studi: Jago Menyelam, Gen-gen Orang Suku Bajo Telah Bermutasi
Seorang pemuda suku bajo sedang melompat ke air dari perahunya. [Shutterstock]

Orang-orang suku bajo memiliki gen yang bermutasi dan organ yang berevolusi sehingga bisa menyelam lama di bawah air.

Suara.com - Orang-orang suku Bajo, yang dikenal sebagai penyelam ulung, rupanya memiliki gen-gen yang telah bermutasi dan organ yang berevolusi secara unik sehingga mampu berlama-lama di bawah air.

Suku yang dikenal menetap di pesisir pantai mulai dari Kalimantan, Jawa, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Timur itu diketahui bisa menyelam selama lima menit bahkan lebih di bawah air tanpa menggunakan alat bantu. Mereka juga dikenal bisa menyelam hingga ke kedalaman 70 meter.

Mereka, yang sehari-hari mencari makan di lautan, menghabiskan waktu 60 persen di air. Menurut beberapa penelitian, orang-orang Bajo telah hidup dengan cara ini selama setidaknya 1000 tahun.

Para ilmuwan selama ini menduga bahwa orang-orang Bajo memiliki gen-gen yang unik, yang membuat mereka mampu beradaptasi dengan cara hidup ekstrem tersebut.

Diving response

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Cell baru-baru ini mengafirmasi dugaan tersebut. Riset yang digelar oleh Melissa Ilardo dari University of Copenhagen, Denmark dan Rasmus Nielsen dari University of California, Amerika Serikat itu menemukan bahwa beberapa organ tubuh orang Bajo telah berevolusi dan gen-gen mereka bermutasi agar bisa beradaptasi lingkungan mereka.

Sebelumnya telah diketahui bahwa jika seseorang merendam wajahnya di air dingin dan harus menahan nafas, maka tubuh akan terpicu untuk mengaktifkan apa yang disebut sebagai diving response.

Ketika diving respons aktif, maka kecepatan detak jantung akan menurun untuk menjaga jumlah oksigen dalam tubuh; darah akan diarahkan ke organ-organ yang paling membutuhkan oksigen seperti otak, jantung, serta paru-paru; kemudian limpa - organ yang berfungsi sebagai tempat cadangan sel-sel darah merah mengandung oksigen - akan berkontraksi untuk menambah jumlah oksigen dalam aliran darah.

Penelitian Ilardo dan Nielsen sendiri melibatkan 59 orang suku Bajo di Indonesia. Mereka meneliti sampel ludah dan memindai limpa orang-orang bajo tersebut.

Sebagai pembanding, mereka juga meneliti 34 orang dari suku Saluan - kelompok masyarakat yang tinggal berdampingan dengan suku Bajo.