Simposium Pengelolaan Limbah B3 Untar Tawarkan Sistem Siklus Tertutup

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 12 September 2019 | 18:12 WIB
Simposium Pengelolaan Limbah B3 Untar Tawarkan Sistem Siklus Tertutup
Akademisi Universitas Tarumanagara Gatot P. Soemartono. (Suara.com/Aldo)

Suara.com - Simposium Extended Producer Responsiobility di Universitas Tarumanagara (Untar) menawarkan konsep sistem siklus tertutup untuk mengendalikan limbah B3 di Indonesia. Sistem ini berfokus ke pengelolaan limbah aki bekas.

Indonesia menghasilkan jutaan limbah B3 seperti aki bekas. Namun belum bisa mengolahnya.

“Kita hanya memikirkan kenikmatannya saja tidak memikirkan bagaimana dampak atau effek dari limbah-limbah yang sudah kita hasilkan. Kesadaran tentang hal ini masih rendah, sehingga kita begitu banyak menghasilkan limbah dari operasional kita baik secara individu di rumah tangga maupu di usaha atau pabrik pabrik,” kata Rektor Universitas Tarumanegara Agustinus Purna Irawan saat membukan acara di Auditorium Kampus I Untar, Kamis (12/9/2019).

Diadakannya Simposium untuk memperluas tanggung-jawab produsen untuk mematuhi peraturan limbah B3 serta kesediaan melestarikan lingkungan dengan menarik produk yang berpotensi menjadi limbah B3, melalui penerapan sistem siklus tertutup. Selain itu dapat memberikan pemahaman mengenai peraturan terkait dengan pengelolaan limbah B3 timbal (Pb) aki bekas yang berwawasan.

Adapun tujuan lainnya adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terkait bahayanya limbah B3 khususnya karna AKI bekas. Lalu sebagai ajang yang nantinya bisa di rumuskan menjadi suatu masukan bagi pemerintah.

“Dan ini sudah menjadi pemasalahan yang serius kita tau bahwa AKI bekas yang ada setiap taunnya itu isinya bukan hanya jutaan tetapi puluhan juta. Dan itu jika tidal ditangani dengan serius maka itu akan jelas membahayakan karena AKI bekasi inikan masuk golongan B3 oleh karena itu perlu ada sebuah solusi yang kongkrit,” ujar Akademisi Universitas Tarumanagara Gatot P. Soemartono.

“Kemudian tentunya juga hasil dari ini nanti bisa dirumuskan dalam suatu pemikiran yang bisa menjadi masukan bukan hanya untuk yang sekarang tapi juga untuk pemerintahan yang sebentar lagi kabinetnya terbentuk, siapapun mentrinya itu bisa memanfaatkan hasil dari Simposiun ini,” Lanjutnya

Simposium ini menghadirkan pembicara; Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3 Achmad Gunawan Widjaksono, Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi, Akademisi Universitas Tarumanagara Gatot P. Soemartono, Pengamat Transportasi dan Lingkungan Yayat Supriatna, dan Penasihat Komite Nasional Kebijakan Governance Susanto.

Tujuan Simposium untuk memperluas tanggung-jawab produsen untuk mematuhi peraturan limbah B3 serta kesediaan melestarikan lingkungan dengan menarik produk yang berpotensi menjadi limbah B3, melalui penerapan sistem siklus tertutup. Selain itu dapat memberikan pemahaman mengenai peraturan terkait dengan pengelolaan limbah B3 timbal (Pb) aki bekas yang berwawasan lingkungan, serta mengatur sistem daur ulang aki, dengan memberi tanggungjawab kepada produsen agar menarik produknya yang bekas untuk diolah kembali agar tidak menimbulkan limbah B3 dengan menerapkan sistem siklus tertutup (close-loop system).

baca juga

Seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus meningkat. Badan Pusat Statistik mengeluarkan data jumlah kendaraan bermotor dengan klasifikasi mobil penumpang, mobil bis, mobil barang, sepeda motor sejak tahun 1949 sampai 2017. Kendaraan bermotor pada tahun 1949 berjumlah 40.915 dan di tahun 2017 jumlah tersebut meningkat menjadi 138.556.669. (BPS, 2019) Peningkatan jumlah kendaraan bermotor berdampak pada peningkatan kebutuhan akan aki (vehicle battery).

Selama 68 tahun, Indonesia mampu meningkatkan 3.386,45 persen jumlah kendaraan bermotor. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor dapat dilihat sebagai salah satu indikator pada peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat. Di sisi lain peningkatan ini memberikan dampak yang signifikan pada lingkungan hidup. Salah satu dampak yang akan dicermati dalam symposium ini adalah dampak dari penggunaan aki oleh kendaraan bermotor. Setelah aki tidak dapat digunakan oleh kendaraan bermotor maka kita perlu mempertimbangkan untuk mengelola limbah aki dengan
baik. (Shifa Audia)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Miris, Leonardo DiCaprio Soroti Lautan Sampah Bantargebang

Miris, Leonardo DiCaprio Soroti Lautan Sampah Bantargebang

Lifestyle | Minggu, 08 September 2019 | 11:26 WIB

Melihat Lebih Dekat Pengolah Sampah Teknologi Jerman Penghasil Bahan Bakar

Melihat Lebih Dekat Pengolah Sampah Teknologi Jerman Penghasil Bahan Bakar

News | Minggu, 08 September 2019 | 04:05 WIB

Setelah Sempat Viral, Pemkab Bekasi Angkut Sampah Kali Jambe yang Mengular

Setelah Sempat Viral, Pemkab Bekasi Angkut Sampah Kali Jambe yang Mengular

Jabar | Jum'at, 06 September 2019 | 19:44 WIB

Dipenuhi Sampah, Dinas PUPR Bekasi Diminta Segera Normalisasi Kali Jambe

Dipenuhi Sampah, Dinas PUPR Bekasi Diminta Segera Normalisasi Kali Jambe

Jabar | Kamis, 05 September 2019 | 14:01 WIB

Terkini

Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi

Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:30 WIB

Bahas Gugatan Ijazah Gibran di MK, Anwar Usman: Itu Sepenuhnya Ranah MK!

Bahas Gugatan Ijazah Gibran di MK, Anwar Usman: Itu Sepenuhnya Ranah MK!

Video | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:24 WIB

Esensi Jeda: Bukan Hadiah setelah Lelah, tapi Bagian dari Menjalani Hidup

Esensi Jeda: Bukan Hadiah setelah Lelah, tapi Bagian dari Menjalani Hidup

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:15 WIB

Phuwin Tangsakyuen Sukses Gelar Fancon Perdana di Indonesia, Bikin Fans Ikut Sing Along

Phuwin Tangsakyuen Sukses Gelar Fancon Perdana di Indonesia, Bikin Fans Ikut Sing Along

Entertainment | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:14 WIB

Anak Usaha GGRM Resmi Kelola Bandara Dhoho, Skema KSO Angkasa Pura Berakhir

Anak Usaha GGRM Resmi Kelola Bandara Dhoho, Skema KSO Angkasa Pura Berakhir

Bisnis | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:09 WIB

Mengapa Keadilan Gender Sering Kali Kandas di Dapur Rumah Tangga

Mengapa Keadilan Gender Sering Kali Kandas di Dapur Rumah Tangga

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Pisau Bermata Dua Homeless Media: Cepat Berbagi Rentan Tersandera Algoritma

Pisau Bermata Dua Homeless Media: Cepat Berbagi Rentan Tersandera Algoritma

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 11:50 WIB

Indonesia vs Thailand: Laga Final Dua Rival Klasik di Kawasan ASEAN

Indonesia vs Thailand: Laga Final Dua Rival Klasik di Kawasan ASEAN

Your Say | Minggu, 04 Oktober 2026 | 11:40 WIB

Rumah Terlalu Lembap Bisa Ganggu Kesehatan, Ini Cara Mengatasinya

Rumah Terlalu Lembap Bisa Ganggu Kesehatan, Ini Cara Mengatasinya

Health | Minggu, 04 Oktober 2026 | 11:37 WIB

Harga Cabai Kompak Meroket, Ada yang Tembus  Rp100 Ribu per Kilogram

Harga Cabai Kompak Meroket, Ada yang Tembus Rp100 Ribu per Kilogram

Bisnis | Minggu, 04 Oktober 2026 | 11:35 WIB

×