Warganet Bagikan Pengalaman Tak Menyenangkan Kerja Lewat Orang Dalam

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Warganet Bagikan Pengalaman Tak Menyenangkan Kerja Lewat Orang Dalam
Ilustrasi karyawan. (Pexels/Energepic)

Seorang warganet membagikan pengalamannya bekerja lewat orang dalam.

Suara.com - Istilah "orang dalam" sudah sangat akrab di telinga masyarakat. Pengertian "orang dalam" yang dipahami publik, mengacu pada orang yang menjadi perantara dan dianggap bisa memudahkan urusan. Orang-orang tersebut bisa dari kerabat keluarga, tetangga, ataupun relasi yang dikenal dekat.

Penggunaan "Orang dalam" di Indonesia umumnya terjadi pada penentuan lulus atau tidaknya ketika melamar pekerjaan. Selama ini, banyak orang berpendapat memiliki "orang dalam" menguntungkan meskipun hal tersebut bukanlah sesuatu yang patut dilakukan.

Belakangan, seorang warganet membagikan pengalamannya bekerja lewat orang dalam. Ia menuliskannya pada kolom komentar pada salah satu video yang diunggah oleh Eza Hazami.

Pengalamannya itu pun dibagikan kembali oleh akun Twitter Eza Hazami @ezash pada 6 April dalam bentuk tangkapan layar. Menurut keterangan warganet yang tidak diketahui identitasnya itu, ia mengaku diterima bekerja lewat bantuan ayahnya.

Tetapi diterimanya ia lewat "orang dalam" justru membuat beban karena jika ia melakukan kesalahan, ayahnya pun akan mendapatkan akibatnya. Warganet itu bahkan dipantau oleh direktur perusahaan lewat CCTV.

"Saya kerja lewat orang dalam, ayah sendiri sih, dan ada jabatan juga. Tapi sumpah, itu malah jadi beban banget. Target nggak sesuai dan nggak semangat kerja aja, bokap langsung dipanggil sama direktur, padahal posisinya lagi training di produk baru. 3 bulan pertama selalu dipantau sama direktur lewat CCTV. Nggak, nggak enak. Beban guys," tulisnya.

Curhatan warganet pengalaman bekerja lewat orang dalam. [Twitter]
Curhatan warganet pengalaman bekerja lewat orang dalam. [Twitter]

Pengakuan itu pun menarik perhatian warganet. Tak sedikit warganet yang mengaku menolak kerja lewat orang dalam karena takut akan risiko yang harus dihadapi seperti ini.

"Nggak selamanya kerja lewat orang dalam enak ya, gaes. Ada risiko dan konsekuensi yang dihadapi," cuit pemilik akun @ezash dalam kolom keterangan.

Unggahan yang telah dibagikan sebanyak lebih dari 666 kali ke sesama pengguna Twitter itu pun menuai beragam komentar dari warganet.

Curhatan warganet pengalaman bekerja lewat orang dalam. [Twitter]
Curhatan warganet pengalaman bekerja lewat orang dalam. [Twitter]

"Salah satu alasan nggak mau pake orang dalem. Berasa bawa beban lebih berat. Takut kalau kita salah, mencoreng nama orang yang bawa kita. Dan pasti itu nggak enak banget. Tapi ada yang bilangin sok-sokan nggak mau lewat orang dalem. Cari kerja itu susah," tulis akun @juliepuspita01.

"Jadi intinya kalau mau pake orang dalem tetep harus refleksi diri, kira-kira kita kompeten atau nggak. Nggak salah sebenernya pake orang dalem, namanya jalan kan ada macemnya, asalkan kita bener-bener layak dan kompeten aja sih," komentar @istrinyajonatan.

"Bener sih. Ini alasan mbakku juga nggak mau ngasih aku kerjaan walaupun doi sebenernya bisa wkwk. Disuruh usaha sendiri biar berkah," tambah @emivana.

"Karena pasti atasannya punya ekspektasi tinggi ke kita," ungkap @squirreeelll.

"Kagum sama direkturnya yang nggak nutup mata hanya karena relasi sih. Karena pekerja jalur orang dalem memang kualitasnya perlu dipertanyakan lagi," cuit @gyg890.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS