Anjuran Berpikir Positif Justru Bisa Mematikan di Tengah Pandemi Covid-19

Liberty Jemadu

Senin, 13 April 2020 | 18:48 WIB
Anjuran Berpikir Positif Justru Bisa Mematikan di Tengah Pandemi Covid-19
Petugas Dinas Kesehatan Kota Depok bersiap melakukan tes cepat (rapid test) COVID-19 dengan sistem "drive thru" di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Minggu (29/3). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja]

Ekspektasi awam mengenai risiko tertular atau menularkan sangat mungkin tidak realistis, utamanya pada individu dengan literasi numerik yang kurang memadai karena kesulitan memahami logika eksponensial.

Anjuran “berpikir positif” itu kontradiktif dalam konteks mengendalikan pandemi karena memberikan rasa aman yang palsu, lebih-lebih ketika “berpikir positif” menjadi pesan utama anjuran di ruang publik.

Bertindak rasional

Anggapan bahwa berpikir positif dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh sebenarnya tidak sepenuhnya benar.

Riset yang dilakukan di Amerika Serikat dalam setting observasi natural dan percobaan di laboratorium menunjukkan bukti bahwa hubungan positif antara berpikir positif dengan kekebalan tubuh tergantung karakteristik sumber stres yang dihadapi. Ketika menghadapi ancaman yang ringan (langsung, singkat, dan mudah dikontrol), optimisme memang memberikan efek positif pada kekebalan seluler.

Namun bila yang dihadapi adalah ancaman yang lebih serius (kompleks, persisten, dan tak bisa dikontrol) maka yang terjadi justru sebaliknya.

Mengapa ini bisa terjadi? Dalam situasi sulit, optimisme justru menurunkan motivasi untuk mengambil tindakan mengakhiri atau menghindari sumber stres. Akibatnya, kemampuan sistem kekebalan tubuh justru malah menurun, bukan meningkat.

Hasil riset awal dari penelitian yang belum ditinjau sejawat menunjukkan bahwa responden yang merasa dirinya sangat mungkin tertular atau menularkan Covid-19 menunjukkan kecenderungan yang lebih besar dalam melakukan tindakan pencegahan, seperti mencuci tangan lebih sering dan menjaga jarak fisik dengan orang lain. Riset yang terbit akhir Maret lalu dilakukan di Amerika Serikat, melibatkan 1591 responden, dan dilakukan oleh peneliti California Institute of Technology dan University College London.

Meskipun sebagian besar responden menerka risiko mereka tertular Covid-19 cenderung menengah (rata-rata 43,56 dari rentang skor 0-100), namun terlihat ada perbedaan yang jelas ketika responden diminta menerka risiko umumnya orang Amerika Serikat tertular COVID-19. Secara umum, partisipan mengira risiko mereka tertular lebih rendah daripada orang Amerika Serikat pada umumnya, menunjukkan indikasi terjadinya bias optimisme.

baca juga

Stop anjuran berpikiran positif

Riset-riset perilaku pada kasus epidemi sebelumnya, misalnya wabah flu babi (H1N1) di Italia dan Belanda, serta flu burung (H5N1) di Inggris, menyediakan bukti bahwa responden dengan persepsi risiko yang lebih tinggi akan lebih patuh pada anjuran ahli untuk melakukan tindakan pencegahan.

Yang paling menarik, sebuah riset pemodelan matematika pada 2012 dengan pendekatan game theory dalam memperkirakan efek respons manusia pada masa awal wabah influenza, menyebutkan bahwa ketika pada awal wabah masyarakat menerka risiko transmisi lebih besar daripada yang sesungguhnya justru malah berguna dalam melambatkan laju penularan. Perkiraan yang lebih buruk mengenai risiko tertular dan menularkan, sangat cepat dalam mendorong perubahan perilaku, utamanya dalam menurunkan frekuensi kontak sosial.

Singkatnya, merasa cemas dan terancam ketika pandemi adalah sesuatu yang normal, realistis, rasional, dan akan berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.

Oleh karena itu, anjuran yang mempererat solidaritas sosial, kepatuhan pada anjuran ahli, dan peningkatan kewaspadaan lebih relevan daripada “berpikir positif” dan harus menjadi pesan utama yang ditonjolkan dalam imbauan kepada masyarakat.

Kejelasan aturan dan konsistensi kebijakan juga sangat besar dampaknya dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah sehingga respons terhadap wabah akan terkoordinasi dengan baik.

Meskipun tentu saja, ada potensi peningkatan kejadian masalah kesehatan mental.

Di Singapura, misalnya, dilaporkan bahwa saat ini klinik-klinik yang menyediakan layanan kesehatan mental dikunjungi lebih banyak pasien dengan keluhan stres dan kecemasan ekstrem dibanding kondisi normal.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa ada peningkatan kasus gangguan penyalahgunaan zat akibat kehilangan pekerjaan dan kerugian finansial. Masalah-masalah ini sesungguhnya lebih tepat diatasi secara kasuistik oleh tenaga kesehatan mental, dan upaya pemulihannya dapat dikerahkan ketika pandemi berakhir.

Pada masa awal pandemi seperti ini, hendaknya anjuran “berpikir positif” berhenti digaungkan. Saat seluruh upaya diarahkan untuk mendorong masyarakat waspada dan patuh pada anjuran ahli kesehatan, saran ini mudah sekali disalahpahami orang awam dan akibatnya dapat mengaburkan usaha perlambatan laju penularan penyakit.

Artikel ini sudah ditayangkan di The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Skandal Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu, Granit Xhaka Kena Denda Rp3,2 Miliar

Skandal Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu, Granit Xhaka Kena Denda Rp3,2 Miliar

Bola | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 09:53 WIB

Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 16:45 WIB

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Otomotif | Rabu, 17 Juni 2026 | 15:38 WIB

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 12:23 WIB

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 15:05 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 06:05 WIB

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:24 WIB

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Entertainment | Kamis, 07 Mei 2026 | 15:49 WIB

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:07 WIB

Terkini

Siap Jadi Ketum FKPPI, Titiek Soeharto: Putra-Putri Purnawirawan Harus Dukung Program Prabowo

Siap Jadi Ketum FKPPI, Titiek Soeharto: Putra-Putri Purnawirawan Harus Dukung Program Prabowo

News | Rabu, 04 November 2026 | 23:56 WIB

Menang AMI Awards 2026, Hindia Angkat 3 Jari: Kami Dedikasikan untuk Teman-teman yang Sulit Bernapas

Menang AMI Awards 2026, Hindia Angkat 3 Jari: Kami Dedikasikan untuk Teman-teman yang Sulit Bernapas

Entertainment | Rabu, 04 November 2026 | 23:23 WIB

Menteri Riefky Mabar Bareng Anak SD di Bojonggede, Game Sambal Siap Mendunia

Menteri Riefky Mabar Bareng Anak SD di Bojonggede, Game Sambal Siap Mendunia

Jabar | Rabu, 04 November 2026 | 22:37 WIB

Warisan Bukan Sekadar Harta, Habib Jafar Ingatkan Pentingnya Menjaga Masa Depan Keturunan

Warisan Bukan Sekadar Harta, Habib Jafar Ingatkan Pentingnya Menjaga Masa Depan Keturunan

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 22:16 WIB

HP Disadap Eks Kapolri, Prabowo Ternyata Tahu dari Sosok Ini

HP Disadap Eks Kapolri, Prabowo Ternyata Tahu dari Sosok Ini

News | Rabu, 04 November 2026 | 22:15 WIB

TNI AL Benarkan Pengerahan Pasukan ke Jakarta, Jumlah Personel Dirahasiakan

TNI AL Benarkan Pengerahan Pasukan ke Jakarta, Jumlah Personel Dirahasiakan

News | Rabu, 04 November 2026 | 22:05 WIB

Pentingnya Kesehatan Mata Pemain Sepak Bola: Tak Hanya Diukur dari Ketajaman Penglihatan

Pentingnya Kesehatan Mata Pemain Sepak Bola: Tak Hanya Diukur dari Ketajaman Penglihatan

Health | Rabu, 04 November 2026 | 22:05 WIB

Berani Lawan Trump, Inilah Sosok Abdul El-Sayed yang Cetak Rekor Politik AS

Berani Lawan Trump, Inilah Sosok Abdul El-Sayed yang Cetak Rekor Politik AS

News | Rabu, 04 November 2026 | 21:43 WIB

Mi Goreng dan Makanan Pedas Jadi Favorit Gen Z, Ini Tren Kuliner yang Menarik Dicoba

Mi Goreng dan Makanan Pedas Jadi Favorit Gen Z, Ini Tren Kuliner yang Menarik Dicoba

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 21:43 WIB

Gerindra Minta Kasus Dugaan Penyadapan Prabowo Diusut Tanpa Intervensi

Gerindra Minta Kasus Dugaan Penyadapan Prabowo Diusut Tanpa Intervensi

News | Rabu, 04 November 2026 | 21:32 WIB

×