Virus Corona Ditemukan di Feses Pasien Negatif

Dythia Novianty | Tivan Rahmat
Virus Corona Ditemukan di Feses Pasien Negatif
Ilustrasi virus corona. [Pixabay]/emmagrau]

Penelitian terbaru menyimpulkan bahwa pasien yang berhasil sembuh dari Covid-19 atau negatif dari uji swab test, tidak berarti mereka sudah aman.

Suara.com - Penelitian terbaru menyimpulkan bahwa pasien yang berhasil sembuh dari Covid-19 atau negatif dari uji swab test, tidak berarti mereka sudah aman dari virus tersebut.

Sebagaimana dikutip laman Mirror, Selasa (12/5/2020), virus corona masih bertahan di tubuh pasien hingga sebulan, tepatnya menempel di kotoran atau tinja pasien.

Temuan ini sendiri sudah peringatkan oleh para ilmuwan dari University of Stirling. Mereka menyebut bahwa virus corona dapat menyebar melalui saluran pembuangan.

Profesor Richard Quilliam yang memimpin penelitian itu mengatakan, Covid-19 tak hanya menyebar melalui tetesan droplet yang berasal dari batuk, bersin, atau menempel pada benda-benda yang sudah terinfeksi saja.

“Baru-baru ini, dikonfirmasi bahwa virus (Covid-19) juga ditemukan dalam kotoran manusia hingga 33 hari setelah pasien dinyatakan negatif dalam uji swab test Covid-19,” papar Quilliam.

“Belum diketahui apakah virus dapat ditularkan melalui rute faecal-oral. Namun, kita tahu bahwa pelepasan virus dari sistem pencernaan dapat bertahan lebih lama daripada pelepasan dari saluran pernapasan. Oleh karena itu, ini bisa menjadi jalur yang penting tetapi belum dikuantifikasi untuk peningkatan paparan,” imbuh Quilliam mengingatkan.

Dalam penelitian tersebut, Quilliam bersama timnya mempresentasikan contoh dari wabah Sars 2003. Ketika A SARS-CoV-1 terdeteksi di saluran pembuangan di dua rumah sakit di China, tim menyoroti bahwa sebagian besar pasien virus corona tidak menunjukkan gejala. Maka, mereka menyimpulkan adanya risiko yang sangat besar dari penyebaran virus melalui saluran pembuangan.

Sementara itu, susunan struktural Covid-19 menunjukkan bahwa virus dapat tetap bertahan dalam air limbah hingga 14 hari.

Ilustrasi buang air besar (Shutterstock)
Ilustrasi buang air besar (Shutterstock)

“Pengangkutan virus corona dalam air dapat meningkatkan potensi virus untuk menjadi aerosolis, terutama selama pemompaan air limbah melalui sistem pembuangan limbah, dan selama pembuangan dan pengangkutan selanjutnya melalui jaringan drainase resapan air,” ujarnya.

Berdasar temuan tersebut, para peneliti mendesak pemerintah Inggris untuk menginvestasikan sumber daya untuk mengedukasi risiko terkait dengan penularan Covid-19 melalui feses.

Meski begitu, temuan ini masih dalam tahap awal. Tapi untuk pencegahan, para peneliti menganjurkan agar manajemen pembuangan air limbah harus diperbaiki.

”Pada saat dunia begitu terfokus pada jalur pernapasan, memahami peluang viru

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS