Penelitian Terbaru: Tes Antibodi Covid-19 Tidak Disarankan

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Penelitian Terbaru: Tes Antibodi Covid-19 Tidak Disarankan
Ilustrasi tes antibodi. [Greg Baker/AFP]

Penelitian terbaru menemukan tes antibodi virus Corona (Covid-19) yang dapat dilakukan di rumah, memberikan sepertiga hasil yang salah.

Suara.com - Penelitian terbaru menemukan tes antibodi virus Corona (Covid-19) yang dapat dilakukan di rumah, memberikan sepertiga hasil yang salah. Tes kit virus Corona yang menyaring darah untuk mencari tanda-tanda infeksi sebelumnya memiliki kelemahan yang besar.

Para ahli mengidentifikasi dengan benar seseorang yang terinfeksi virus itu, hanya 66 persen dari rata-rata waktu dan hasil ini dapat turun hingga 49 persen dalam beberapa kasus.

Pemerintah di Inggris telah menolak menawarkan tes antibodi kepada publik karena takut orang-orang akan berhenti mengikuti aturan physical distancing jika orang-orang berpikir mereka kebal terhadap Covid-19. Faktanya, tidak ada bukti bahwa orang tidak bisa mendapatkan infeksi dua kali.

Penelitian dalam British Medical Journal menemukan bahwa tes berbasis lab lebih akurat tetapi masih belum sempurna, meskipun berhasil mengidentifikasi hasil positif dengan akurasi antara 84 dan 97,8 persen.

Temuan ini berdasarkan 40 studi dari seluruh dunia, sebagian besar berasal dari China, dan menunjukkan bahwa tes antibodi tidak siap untuk digunakan secara massal. Tim ahli mengatakan pengujian antibodi harus dihentikan sampai tes itu diperbaiki.

Ulasan terbaru dari bukti saat ini menunjukkan tes antibodi belum cukup baik untuk mendeteksi antibodi Covid-19 dalam darah.

Tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh McGill University Health Centre di Montreal, Kanada, meneliti 40 studi antara 1 Januari dan 30 April untuk mengukur keakuratan tes antibodi Covid-19.

Sekitar 70 persen berasal dari China. Sisanya berasal dari Inggris, Amerika Serikat, Denmark, Spanyol, Swedia, Jepang, dan Jerman.

Ilustrasi ilmuwan. [Pixabay/felixioncool]
Ilustrasi ilmuwan. [Pixabay/felixioncool]

Disebutkan ada dua cara tes antibodi dapat memberikan hasil yang salah. Bisa dikatakan bahwa sampel darah mengandung antibodi, padahal sebenarnya orang tersebut tidak pernah terinfeksi. Ini menunjukkan hasil positif palsu. Atau bisa juga menyatakan bahwa tidak ada antibodi, padahal orang tersebut sebelumnya terinfeksi dan ini menunjukkan hasil negatif palsu.

Sensitivitas tes antibodi mengukur persentase orang yang diidentifikasi dengan benar memiliki penyakit. Sementara spesifisitas mengukur persentase orang yang diidentifikasi dengan benar sebagai tidak memiliki penyakit.

Dr Mayara Lisboa Bastos dan rekannya menemukan sensitivitas tes antibodi secara luas berkisar antara 66 persen hingga 97,8 persen, tergantung pada jenis tes yang digunakan.

Dengan kata lain, antara 2,2 dan 34 persen pasien yang memiliki Covid-19 akan terlewatkan dan salah mendeteksi bahwa mereka tidak pernah menderita penyakit tersebut.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS