Blanet, Istilah Baru untuk Planet Pengorbit Lubang Hitam

Vania Rossa | Lintang Siltya Utami | Suara.com

Jum'at, 07 Agustus 2020 | 12:30 WIB
Blanet, Istilah Baru untuk Planet Pengorbit Lubang Hitam
Lubang Hitam/astrochara

Suara.com -
Lubang hitam selalu identik dengan objek luar angkasa yang mengerikan dan "memakan" segala sesuatu di sekitarnya. Tetapi, lingkungan di sekitar lubang hitam supermasif aktif sangat kompleks, hingga tahun lalu para astronom menemukan ada zona aman di sekitar setiap lubang hitam supermasif tempat ribuan planet bisa mengorbitnya.

Sekarang, tim astronom yang dipimpin oleh Keiichi Wada dari Kagoshima University, Jepang, telah memberikan nama baru untuk planet pengorbit lubang hitam, yaitu blanet. Tim ahli juga mencari tahu bagaimana blanet ini dapat terbentuk dari butiran debu yang berputar-putar di sekitar lubang hitam.

"Kami menyelidiki proses pembekuan debu dan kondisi fisik pembentukan blanet. Hasil kami menunjukkan bahwa blanet dapat terbentuk di sekitar inti aktif galaksi yang luminositasnya relatif rendah selama masa hidupnya," tulis para astronom dalam makalah yang diterbitkan di The Astrophysical Journal untuk tinjauan rekan sejawat.

Seperti yang sudah diketahui, bintang dapat ditangkap oleh lubang hitam supermasif di pusat galaksi untuk mengitarinya, seperti yang berhasil diamati pada lubang hitam supermasif di pusat galaksi Bimasakti, yang disebut Sagitarius A*.

Tak hanya itu, juga telah dihipotesiskan bahwa planet ekstrasurya dapat ditangkap oleh lubang hitam supermasif jika planet tersebut bersama bintang induknya dalam jarak yang terlalu dekat dengan lubang hitam dalam perjalanannya mengitari pusat galaksi.

Tetapi, Wada dan timnya mengusulkan kelas baru planet ekstrasurya, yang terbentuk langsung di sekitar lubang hitam supermasif aktif di jantung galaksi. Hal ini cukup masuk akal karena lubang hitam yang aktif memang dikelilingi oleh cakram akresi, fitur raksasa yang terdiri atas debu dan gas yang berputar-putar mengitari lubang hitam sebelum terhisap.

Dilansir dari Science Alert pada Jumat (7/8/2020), cakram akresi pada lubang hitam aktif ini sangat mirip dengan cakram protoplanet pada bintang yang baru terbentuk, di mana merupakan tempat planet-planet menggumpal.

Dalam proses pembentukan planet, awan gas dan debu yang membentuk cakram pada mulanya akan saling menempel karena gaya elektrostatik. Seiring waktu, itu akan menggumpal dan saling menabrak hingga terakumulasi menjadi gumpalan besar. Jika tidak ada yang menganggu proses pembentukannya, sebuah planet bisa terbentuk sempurna setelah beberapa juta tahun.

Gumpalan awan gas dan debu pada cakram ekresi lubang hitam akibat keruntuhan gravitasi dianggap juga mampu membentuk blanet.

Dalam jurnal ilmiah tahun lalu, tim Wada menemukan bahwa pada jarak yang cukup dari lubang hitam, pembentukan blanet mungkin bahkan lebih efisien daripada pembentukan planet di sekitar bintang, karena kecepatan orbital cakram akresi cukup cepat untuk menjaga benda-benda di sana agar tidak keluar dari orbit dan melayang jatuh ke lubang hitam.

Tetapi, ada beberapa masalah dengan perhitungan yang telah dilakukan Wada dan timnya. Pertama, mungkin saja, jika kecepatan tumbukan gumpalan awan gas dan debu pada cakram akresi cukup tinggi, gumpalan ini bisa saling menghancurkan, alih-alih saling menempel. Kedua, gumpalan gas dan debu pada cakram akresi bisa saja tumbuh sangat cepat pada tahap tumbukan yang tidak sesuai dengan model kepadatan debu yang lebih alami.

Dengan batasan ini, Wada dan timnya menghitung ulang model pembentukan blanet di luar "snowline", jarak dari objek pusat pembentukan planet di mana senyawa volatil dapat mengembun menjadi es dan para ahli menemukan bahwa jika model pembentukan planet tersebut benar, seharusnya memang ada kondisi di mana blanet dapat terbentuk.

Menurut Wada dan timnya, di sekitar lubang hitam supermasif dengan 1 juta kali massa Matahari, sebuah blanet dapat terbentuk dalam waktu 70-80 juta tahun. Semakin jauh jaraknya dari lubang hitam, semakin besar blanet bisa tumbuh. Menurut perhitungan tim ahli, jika terbentuk pada jarak sekitar 13 tahun cahaya dari lubang hitam, sebuah blanet dapat memiliki massa antara 20 sampai 3.000 kali massa Bumi, yang sesuai dengan massa planet seperti yang diketahui pada umumnya.

Sedangkan untuk sebuah lubang hitam dengan ukuran 10 juta kali massa Matahari, itu dapat membentuk blanet dengan jenis kerdil cokelat, sebuah objek yang terlalu besar untuk disebut planet tetapi terlalu kecil untuk disebut bintang karena hanya mampu melakukan fusi deuterium dalam intinya.

Sayangnya, para astronom tidak dapat benar-benar mendeteksi objek-objek ini, yang berarti masih sebatas hipotetis untuk saat ini. Tetapi blanet secara resmi masuk ke dalam daftar objek unik di alam semesta bersama ploonet, istilah untuk bulan pengembara, dan bulanbulan (moonmoon), istilah untuk subsatelit alami yang mengitari satelit alami.

Para astronom juga mencatat bahwa blanet membuka jalan yang menarik untuk menjelajahi ruang ekstrem di sekitar lubang hitam supermasif.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pertama Kalinya, Astronom Amati Hilangnya Korona Lubang Hitam

Pertama Kalinya, Astronom Amati Hilangnya Korona Lubang Hitam

Tekno | Jum'at, 17 Juli 2020 | 12:45 WIB

Ilmuwan Sebut Planet Sembilan Bisa Jadi Lubang Hitam

Ilmuwan Sebut Planet Sembilan Bisa Jadi Lubang Hitam

Tekno | Selasa, 14 Juli 2020 | 13:30 WIB

Astronom Temukan Lubang Hitam Paling Masif, 34 Miliar Kali Matahari

Astronom Temukan Lubang Hitam Paling Masif, 34 Miliar Kali Matahari

Tekno | Rabu, 01 Juli 2020 | 09:15 WIB

Terkini

26 Kode Redeem Free Fire Hari Ini, Peluang Emas Dapat Scar Shadow Weapon Royale

26 Kode Redeem Free Fire Hari Ini, Peluang Emas Dapat Scar Shadow Weapon Royale

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 19:30 WIB

28 Kode Redeem FC Mobile 3 April 2026: Temukan Telur Paskah Berhadiah Permata dan Draft Gratis

28 Kode Redeem FC Mobile 3 April 2026: Temukan Telur Paskah Berhadiah Permata dan Draft Gratis

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 19:15 WIB

Penemuan Canggih Ilmuwan China: Ubah Karbondioksida Jadi BBM Mirip Bensin

Penemuan Canggih Ilmuwan China: Ubah Karbondioksida Jadi BBM Mirip Bensin

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 18:05 WIB

Call Of Duty: Black Ops 7 Jadi Game Gratis Waktu Terbatas, Hadirkan Banyak Peta

Call Of Duty: Black Ops 7 Jadi Game Gratis Waktu Terbatas, Hadirkan Banyak Peta

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 17:27 WIB

iQOO 15 Apex Edition Resmi Debut: Tampil Menawan dengan Desain Holografik, Mewah bak Marmer!

iQOO 15 Apex Edition Resmi Debut: Tampil Menawan dengan Desain Holografik, Mewah bak Marmer!

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 16:38 WIB

Motorola Edge 70 Fusion Bersiap ke Indonesia, Bakal Tantang POCO X8 Pro

Motorola Edge 70 Fusion Bersiap ke Indonesia, Bakal Tantang POCO X8 Pro

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 16:10 WIB

BIZ Ultra 5G+ Punya Kecepatan hingga 500 Mbps dan Instant Roaming di Lebih dari 75 Negara

BIZ Ultra 5G+ Punya Kecepatan hingga 500 Mbps dan Instant Roaming di Lebih dari 75 Negara

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 15:40 WIB

Detik-Detik Rudal Iran Meledak di Pemukiman Israel: Pertahanan Jebol, Serangan Masif

Detik-Detik Rudal Iran Meledak di Pemukiman Israel: Pertahanan Jebol, Serangan Masif

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 15:22 WIB

58 Kode Redeem FF Max Terbaru 3 April 2026: Klaim Scythe, Skin Angelic, dan Diamond

58 Kode Redeem FF Max Terbaru 3 April 2026: Klaim Scythe, Skin Angelic, dan Diamond

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 15:19 WIB

PP Tunas 2026: Bahaya Algoritma Media Sosial untuk Anak, Ini Alasan Regulasi Jadi Penting

PP Tunas 2026: Bahaya Algoritma Media Sosial untuk Anak, Ini Alasan Regulasi Jadi Penting

Tekno | Jum'at, 03 April 2026 | 15:12 WIB