alexametrics

Menelusuri Jejak Misterius QAnon

Dythia Novianty | Tivan Rahmat
Menelusuri Jejak Misterius QAnon
Ilustrasi hacker. (Shutterstock)

Masyarakat di Negeri Paman Sam dihebohkan dengan sosok misterius yang mengatasnamakan dirinya sebagai QAnon.

Suara.com - Jelang pemilihan Presiden Amerika Serikat pada November mendatang, masyarakat di Negeri Paman Sam dihebohkan dengan sosok misterius yang mengatasnamakan dirinya sebagai QAnon.

QAnon kerap menebar teori konspirasi politik dan menyebarkannya di dunia maya. Konon, sosok misterius inilah yang menggerakkan demonstrasi di sejumlah wilayah di AS yang terjadi akhir-akhir ini. Lalu, siapa sosok di balik QAnon?

Setiap kali beraksi, khususnya di dunia maya, QAnon tidak pernah menyebutkan jati dirinya. Ia hanya memosting teka-teki yang seakan 'menyihir' pembacanya, untuk bergerak mengikuti arahan postingan tersebut.

Pada unggahan lainnya, ia 'menembak' pihak-pihak yang dianggap berbuat kotor di pemerintahan. Bahkan, dengan menyebut nama pejabat yang dimaksud secara eksplisit.

Baca Juga: Keras! Tifatul Sembiring: Algoritma BuzzerRp Ini Memecah Belah Bangsa

Presiden Amerika Serikat  Donald Trump . [Foto / AFP]
Presiden Amerika Serikat Donald Trump . [Foto / AFP]

Fakta menarik lainnya, QAnon tidak pernah menuliskan kata 'saya', melainkan menempatkan diri sebagai sebuah kelompok. Dalam setiap unggahannya, QAnon selalu memakai kata 'kami' atau 'kita'. Artinya, QAnon bisa saja digerakkan secara berkelompok, bukan hanya akun dari satu orang saja.

Di sisi lain, huruf 'Q' pada QAnon juga dikaitkan dengan kode rahasia di Departemen Energi AS yang memungkinkan pemegang kode Q untuk mengakses data-data rahasia negara.

Postingan yang dibuat QAnon cenderung memusatkan perhatian presiden AS, Donald Trump, dan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Oleh karena itu, sebagian orang menilai bahwa QAnon adalah buzzer atau kelompok pendukung Trump.

Sosok misterius ini dikaitkan dengan sejumlah politisi di AS, seperti Hillary Clinton dan Robert Mueller, yang tengah melakukan penyelidikan tentang kemungkinan adanya campur tangan Rusia dalam Pilpres mendatang.

Dikutip dari Independent, Selasa (25/8/2020), pemerintah AS pun mengerahkan agen federal FBI untuk mengungkap sosok dibalik QAnon. Sayangnya, misteri itu belum terungkap hingga sekarang.

Baca Juga: Pemerintah Pakai Buzzer untuk Sosialisasi Kebijakan, Pengamat: Wajar

Komentar