alexametrics

Ilmuwan Klaim Bakteri dalam Usus Ini Dapat Lawan Infeksi Covid-19

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Ilmuwan Klaim Bakteri dalam Usus Ini Dapat Lawan Infeksi Covid-19
Ilustrasi Virus Corona (Unsplash/CDC)

Setiap orang memiliki beragam bakteri unik di ususnya yang memainkan berbagai peran, termasuk dalam memodulasi respon imun.

Suara.com - Penelitian terbaru dari Chinese University of Hong Kong, menyebut mikrobioma usus seseorang dapat berperan melawan infeksi virus Corona (Covid-19) dan mencegah gejala yang parah.

Setiap orang memiliki beragam bakteri unik di ususnya yang memainkan berbagai peran, termasuk dalam memodulasi respon imun.

Penelitian menemukan, orang yang menderita Covid-19 memiliki komposisi mikrobioma yang berubah secara signifikan.

Studi lainnya dari Korea Selatan menemukan orang dengan fungsi usus yang buruk, lebih mungkin mengembangkan Covid-19 yang parah.

Baca Juga: Terdeteksi! Ada Goyangan Misterius di Kutub Mars

Ilmuwan Klaim Bakteri dalam Usus Ini Dapat Lawan Infeksi Covid-19 - 1
Ilustrasi usus. [Shutterstock]

Hal ini disebabkan kurangnya mikroba yang sehat sehingga memudahkan virus untuk menginfeksi sel-sel di saluran pencernaan.

Tim ilmuwan dari Hong Kong telah memeriksa darah, tinja, dan catatan dari 100 pasien terinfeksi Covid-19 di rumah sakit antara Februari dan Mei 2020.

Para ahli juga mengumpulkan sampel dari 78 orang tanpa Covid-19 yang mengambil bagian dalam studi mikrobioma sebelum pandemi.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa mikrobioma usus mungkin terlibat dalam menentukan keparahan Covid-19 melalui modulasi tanggapan kekebalan tubuh.

Para penulis penelitian menemukan bahwa pasien dengan Covid-19 telah menghabiskan tingkat beberapa bakteri usus yang diketahui mengubah respons kekebalan seseorang.

Baca Juga: Waduh! Area Es Terakhir di Arktik Akan Menghilang?

Perubahan komposisi bakteri bertahan setidaknya satu bulan setelah virus hilang.

"Mengingat laporan sebagian pasien yang sembuh masih mengalami gejala yang terus-menerus, seperti kelelahan, sesak napas, dan nyeri sendi bahkan lebih dari 80 hari setelah timbulnya gejala awal, kami menduga mikrobioma usus disbiotik dapat berkontribusi pada masalah kesehatan terkait kekebalan pasca Covid-19," tulis para ahli dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Gut, seperti dikutip Dailymail, Rabu (13/1/2021).

Sampel darah mengungkapkan ketidakseimbangan mikroba ini juga terkait dengan tingkat sitokin yang lebih tinggi, molekul kecil yang merupakan bagian alami dari respons imun tetapi dapat menyebabkan kerusakan jika tidak diatur dengan benar.

Ciri khas Covid-19 yang parah adalah sistem kekebalan tubuh yang rusak setelah infeksi dan menyerang sel serta jaringan yang sehat.

Meski begitu, penelitian baru bersifat observasional dan tidak dapat secara pasti disebut apakah Covid-19 mengubah mikrobioma usus atau mikrobioma yang melemah menyebabkan infeksi yang lebih parah.

Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Namun, penelitian terpisah yang dilakukan Korea Selatan menunjukkan opsi terakhir adalah yang paling mungkin.

Para akademisi di Laboratory for Human-Microbial Interactions di Korea University, menganalisis data dari berbagai penelitian yang melihat dampak kesehatan usus yang buruk pada infeksi virus Corona.

Dr Heenam Stanley Kim, yang memimpin tinjauan tersebut, percaya ada bukti substansial untuk mendukung klaim bahwa mikrobioma usus memainkan peran integral dalam respons kekebalan terhadap infeksi Covid-19.

Dr Kim mengatakan, usus yang tidak berfungsi dapat memperburuk keparahan infeksi karena kadar mikroba yang lebih rendah membuat virus Corona lebih mudah mencapai permukaan saluran pencernaan dan organ dalam.

Organ-organ ini memiliki reseptor di permukaannya yang disebut ACE2 dan protein yang menonjol inilah yang dibajak oleh virus untuk mendapatkan akses ke sel.

"Tampaknya ada hubungan yang jelas antara mikrobioma usus yang berubah dan Covid-19 yang parah," ucap Dr Kim.

Mikrobioma usus sangat sensitif dan bereaksi berdasarkan kesehatan, makanan, dan lingkungan seseorang.

Tak hanya itu, diketahui bahwa orang dengan kondisi kesehatan yang mendasari seperti tekanan darah tinggi, obesitas dan diabetes memiliki mikrobioma yang tidak seimbang.

Dr Kim menambahkan bahwa orang yang lebih tua berada pada risiko tertinggi meninggal akibat Covid-19 dan juga sering memiliki mikrobioma yang tidak berfungsi dengan baik.

Komentar