Array

Ditemukan Jenis Baterai Baru, 2 Kali Lebih Tahan Lama dari Lithium-ion

Rabu, 31 Maret 2021 | 15:00 WIB
Ditemukan Jenis Baterai Baru, 2 Kali Lebih Tahan Lama dari Lithium-ion
Ilustrasi baterai. [Shutterstock]

Suara.com - Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), membuat penemuan baru saat bereksperimen dengan elektroda logam, sebagai pengganti grafit konvensional yang ditemukan dalam baterai lithium-ion.

Ilmuwan menyadari bahwa peningkatan besar dalam daya dapat dilakukan dengan menggunakan elektrolit baru yang memisahkan elektroda.

Desain baterai baru ini dapat meningkatkan daya tanpa mengorbankan siklus hidup baterai dan memungkinkan generasi baru drone, robot, hingga kendaraan listrik jarak jauh.

Penemuan tersebut memungkinkan baterai menyimpan hingga 420 watt-jam per kilogram dalam baterai lithium-ion, yang biasanya hanya dapat menyimpan sekitar 260 watt-jam per kilogram.

Penelitian tim didasarkan pada studi sebelumnya pada baterai lithium-air, jenis baterai generasi berikutnya yang memiliki potensi besar tetapi masih menghadapi beberapa kendala utama, sebelum dapat digunakan di perangkat sehari-hari.

"Masih belum ada yang memungkinkan baterai lithium-air dapat diisi ulang dengan baik. Kami merancang molekul organik yang kami harap dapat memberikan stabilitas, dibandingkan dengan elektrolit cair yang digunakan saat ini," kata Jeremiah Johnson, profesor kimia di MIT.

Jenis baterai baru. [Nature.com]
Jenis baterai baru. [Nature.com]

Elektrolit baru juga memungkinkan pengupasan dan pelapisan logam litium yang stabil dan dapat dibalik.

Sebuah langkah penting untuk mengaktifkan baterai logam litium yang dapat diisi ulang dengan energi dua kali lipat dari baterai litium-ion terkini.

Johnson mengatakan bahwa langkah selanjutnya adalah membuat skala produksi baterai terjangkau dengan tujuan untuk mengkomersialkannya dalam beberapa tahun.

Baca Juga: Kurang dari 1 Jam, Ilmuwan Kembangkan Chip Smartphone Bisa Deteksi Covid-19

"Tidak ada unsur yang mahal dalam baterai, itu hanya karbon dan fluor. Jadi tidak dibatasi oleh sumber daya. Ini hanya bergantung pada prosesnya saja," tambah Johnson.

Dilansir dari Independent, Rabu (31/3/2021), penemuan tersebut telah dirinci dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Nature Energy.

Ilustrasi baterai. [Mika Baumeister/Unsplash]
Ilustrasi baterai. [Mika Baumeister/Unsplash]

Para ilmuwan berpikir jika dapat membuktikan bahwa itu adalah elektrolit yang bagus untuk penggunaan elektronik konsumen, peningkatan skala akan membantu menurunkan harga produksinya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI