Suara.com - Dua karyawan Microsoft telah dipecat oleh atasannya dikarenakan menunjukkan aksi mendukung Palestina dan memprotes hubungan perusahaan dengan Israel.
Aksi itu membuat kedua karyawan itu menerima pesan suara yang memberikan informasi mengenai pemecatan mereka.
Adapun dua karyawan tersebut bernama Anna Hattle dan Riki Fameli.
Namun, Seorang juru bicara Microsoft mengatakan bahwa para karyawan tersebut dipecat setelah pelanggaran serius terhadap kebijakan perusahaan, serta melanggar kode etik perusahaan.
"Mereka telah melanggar kode etik perusahaan," katanya dilansir dari BBC, Jumat (29/8/2025).
Dua karyawan Microsoft ini melakukan aksi unjuk raksa di kantor Presiden perusahaan tersebut yakni Brad Smith.
![Warga Palestina yang mengungsi menunggu untuk menerima makanan gratis dari pusat distribusi makanan di Kota Gaza, Palestina, Senin (14/7/2025) [ANTARA/Xinhua]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/07/15/59172-warga-palestina.jpg)
Adapun, lima lainnya adalah mantan karyawan Microsoft dan orang-orang di luar perusahaan.
"Kami di sini karena Microsoft terus memberi Israel alat yang dibutuhkannya untuk melakukan genosida, sementara mereka sendiri melakukan gaslighting dan menyesatkan para pekerjanya sendiri tentang kenyataan ini," kata Hattle.
Sementara itu, Microsoft terus mendukung dan membantu Israel dalam menyerang Palestina.
Baca Juga: Efisiensi, Google PHK 35 Persen di Level Manajer
Padahal, Israel terus meningkati serangan balasan ke Palestina. Hingga menimbulkan krisis kemanusiaan di Gaza akibat serangan militer Israel.
Lalu gambar-gambar warga Palestina yang kelaparan, termasuk anak-anak, telah memicu kemarahan global.
Untuk itu, beberapa karyawan Microsoft pun melakukan aksi unjuk rasa.