Menguak Potensi Krisis Air Bersih di Balik Kecanggihan AI

Agung Pratnyawan

Rabu, 22 Oktober 2025 | 18:27 WIB
Menguak Potensi Krisis Air Bersih di Balik Kecanggihan AI
Ilustrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). [Shutterstock]

Suara.com - Di balik kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini mewarnai kehidupan modern, muncul masalah baru yang jarang disadari: AI ternyata haus air.

Untuk menjaga jutaan server tetap dingin dan berfungsi optimal, pusat-pusat data raksasa yang menjalankan AI seperti ChatGPT dan Google Gemini membutuhkan pasokan air dalam jumlah luar biasa.

Akibatnya, teknologi yang semestinya membantu manusia justru ikut memperparah krisis air bersih global.

CEO OpenAI Sam Altman mengungkapkan bahwa satu kueri ke ChatGPT (pertanyaan atau perintah teks) menghabiskan sekitar seperlimabelas sendok teh air.

Namun, penelitian dari akademisi di California dan Texas menunjukkan angka yang jauh lebih besar: sekitar setengah liter air untuk 10–50 tanggapan model GPT-3.

Perbedaan ini muncul karena perhitungan yang lebih luas dari para peneliti Amerika mencakup air yang digunakan tidak hanya untuk pendinginan server, tetapi juga proses pembangkitan listrik termasuk uap yang menggerakkan turbin di pembangkit listrik batu bara, gas, atau nuklir.

Walau OpenAI tak merinci perhitungannya, jelas bahwa permintaan air terus meningkat. ChatGPT saja menjawab lebih dari satu miliar pertanyaan per hari, dan itu baru satu platform AI di antara ribuan lainnya.

Para peneliti memperkirakan bahwa pada 2027, industri AI akan menggunakan empat hingga enam kali lebih banyak air setiap tahun dibanding total konsumsi air seluruh negara Denmark.

Pusat data beroperasi tanpa henti 24 jam sehari. Ketika listrik mengalir melalui ribuan prosesor di dalamnya, suhu meningkat tajam.

baca juga

Untuk mencegah sistem terlalu panas, air bersih digunakan dalam sistem pendinginan. Sebagian besar metode ini mengandalkan penguapan, yang bisa menghilangkan hingga 80% air ke atmosfer.

Semakin banyak AI digunakan, semakin banyak pula listrik dan air yang dibutuhkan,” kata Prof. Shaolei Ren dari University of California, Riverside, salah satu penulis studi tersebut.

Menurut International Energy Agency (IEA), satu permintaan ChatGPT rata-rata memerlukan 10 kali lebih banyak energi listrik dibandingkan pencarian biasa di Google.

Itu berarti lebih banyak panas, lebih banyak pendinginan, dan otomatis, lebih banyak air yang terbuang.

Perusahaan teknologi besar seperti Google, Microsoft, Meta, dan Amazon Web Services (AWS) menjadi sorotan utama. Dalam laporan lingkungan mereka, semua perusahaan ini mencatat lonjakan konsumsi air sejak 2020.

Google misalnya, menggunakan 37 miliar liter air pada 2024, dengan 29 miliar liter di antaranya menguap dalam proses pendinginan.

Angka ini setara dengan kebutuhan air bersih untuk 1,6 juta orang selama setahun, atau cukup untuk mengairi 51 lapangan golf di Amerika Serikat bagian barat daya.

Sebagian besar fasilitas mereka bahkan berada di daerah kering seperti Arizona, Spanyol, dan Cile, wilayah yang tengah berjuang menghadapi kekeringan.

Akibatnya, sejumlah komunitas lokal mulai melawan pembangunan pusat data. Di Spanyol, kelompok aktivis bahkan menamakan gerakan mereka “Your Cloud Is Drying Up My River.

Sebagian perusahaan kini berupaya memperkenalkan sistem pendingin ramah air. Microsoft, Meta, dan Amazon tengah mengembangkan sistem sirkulasi tertutup, di mana air didinginkan dan digunakan kembali tanpa diuapkan.

Namun, Prof. Ren menyebut penerapan sistem ini masih “sangat awal.” Selain itu, sistem kering berbasis udara yang bisa menggantikan air justru mengkonsumsi listrik lebih besar.

Beberapa negara seperti Jerman, Finlandia, dan Denmark telah mencoba memanfaatkan panas dari pusat data untuk menghangatkan rumah warga di sekitarnya. Tapi langkah ini baru diterapkan di sebagian kecil lokasi.

Perusahaan teknologi sering berjanji untuk menjadi “ramah air” pada 2030, dengan komitmen mengembalikan lebih banyak air daripada yang mereka gunakan.

Google dan Microsoft mendanai proyek restorasi lahan basah dan pelestarian hutan untuk mengimbangi penggunaan air. AWS mengklaim sudah mencapai 41% dari target tersebut, sementara Microsoft menyebut progresnya “sesuai jalur.”

Meski begitu, Thomas Davin, Direktur Inovasi UNICEF, menilai langkah-langkah itu belum cukup.

AI seharusnya menjadi solusi, bukan beban tambahan bagi planet ini,” katanya.

Ia berharap perusahaan-perusahaan besar lebih fokus pada efisiensi dan transparansi, bukan hanya berlomba menciptakan model AI paling kuat.

AI sebenarnya telah digunakan untuk tujuan positif. Namun, tidak ada cara agar pertumbuhan besar-besaran AI benar-benar ramah lingkungan.

Para ahli sepakat, langkah pertama menuju solusi adalah transparansi: mengukur dan melaporkan penggunaan air secara terbuka.

Kalau kita tidak bisa mengukurnya, kita tidak akan pernah bisa mengelolanya,” tegas Prof. Ren.

Kontributor : Gradciano Madomi Jawa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wikipedia Kehilangan Banyak Pembaca, AI Overview Disebut Sebagai Penyebabnya

Wikipedia Kehilangan Banyak Pembaca, AI Overview Disebut Sebagai Penyebabnya

Tekno | Selasa, 21 Oktober 2025 | 15:17 WIB

Cara Menggunakan Sora AI untuk Membuat Video

Cara Menggunakan Sora AI untuk Membuat Video

Tekno | Senin, 13 Oktober 2025 | 10:40 WIB

Cara Pakai Spotify di ChatGPT, Bisa Kasih Rekomendasi Lagu hingga Bikin Playlist

Cara Pakai Spotify di ChatGPT, Bisa Kasih Rekomendasi Lagu hingga Bikin Playlist

Tekno | Minggu, 12 Oktober 2025 | 21:18 WIB

Terkini

Cicilan KPR Semakin Berat Jika BI Naikkan Suku Bunga Acuan Hari Ini

Cicilan KPR Semakin Berat Jika BI Naikkan Suku Bunga Acuan Hari Ini

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:20 WIB

10 Puisi Hari Anak yang Menyentuh Hati, Cocok untuk Lomba dan Upacara

10 Puisi Hari Anak yang Menyentuh Hati, Cocok untuk Lomba dan Upacara

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:18 WIB

Wajah Bulat Sering Insecure? 10 Model Kacamata Ini Ampuh Bikin Muka Tirus Seketika!

Wajah Bulat Sering Insecure? 10 Model Kacamata Ini Ampuh Bikin Muka Tirus Seketika!

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:17 WIB

Bocor! Video Ruang Ganti Argentina Sebelum Dihajar Spanyol, Pesan Messi Diabaikan Rekan-rekannya

Bocor! Video Ruang Ganti Argentina Sebelum Dihajar Spanyol, Pesan Messi Diabaikan Rekan-rekannya

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:16 WIB

2 Tahun SDN 09 Kebayoran Lama Roboh, KPAI Turun Tangan Kawal Revitalisasi

2 Tahun SDN 09 Kebayoran Lama Roboh, KPAI Turun Tangan Kawal Revitalisasi

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:15 WIB

Sekuel Film Jennifer's Body Digarap, Megan Fox Berpotensi Kembali Main

Sekuel Film Jennifer's Body Digarap, Megan Fox Berpotensi Kembali Main

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:15 WIB

Lagi! Iran Bom Pangkalan AS di Yordania dan Bahrain, Gudang Logistik Tempur Ludes

Lagi! Iran Bom Pangkalan AS di Yordania dan Bahrain, Gudang Logistik Tempur Ludes

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:11 WIB

Kronologi Operator Alat Berat di Siak Diserang Harimau, Diterkam saat Ingin BAB

Kronologi Operator Alat Berat di Siak Diserang Harimau, Diterkam saat Ingin BAB

Riau | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:11 WIB

Radical Acceptance Semu: Benarkah Sikap Bodo Amat adalah Bentuk Kedewasaan?

Radical Acceptance Semu: Benarkah Sikap Bodo Amat adalah Bentuk Kedewasaan?

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:10 WIB

DPR Sudah Kasih Restu, Kapan Kapal Induk Italia Resmi Jadi Milik Indonesia?

DPR Sudah Kasih Restu, Kapan Kapal Induk Italia Resmi Jadi Milik Indonesia?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:08 WIB

×