- SUSE meluncurkan Cloud Sovereignty Framework Self Assessment, alat berbasis web untuk mengukur kesiapan Sovereign AI dalam 20 menit.
- Alat ini mengacu EU Cloud Sovereignty Framework 2025, memberikan skor SEAL berdasarkan delapan tujuan kedaulatan penting.
- Penilaian bersifat *privacy-first*; hasil hanya tersimpan di browser pengguna, membantu organisasi Asia Pasifik petakan risiko data.
Suara.com - Isu kedaulatan digital kian menjadi sorotan di tengah derasnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan. Untuk menjawab tantangan itu, SUSE meluncurkan Cloud Sovereignty Framework Self Assessment, alat berbasis web yang memungkinkan perusahaan menilai kesiapan menuju Sovereign AI hanya dalam waktu kurang dari 20 menit.
Platform ini dirancang mengacu pada EU Cloud Sovereignty Framework 2025, kerangka kerja baru yang mulai banyak dijadikan referensi regulator global dalam mengukur tingkat kemandirian digital sebuah organisasi.
Peluncuran ini datang di momen krusial. Seiring meningkatnya regulasi kedaulatan digital di berbagai negara Asia Pasifik, perusahaan menghadapi risiko kehilangan kelayakan operasional jika tidak memiliki kontrol terlokalisasi atas infrastruktur AI dan data mereka.
Andreas Prins, , Head of Global Sovereign Solutions, SUSE, menilai banyak organisasi masih menghadapi persoalan mendasar dalam memahami posisi mereka sendiri.
“Organisasi di seluruh dunia menghadapi masalah ‘black box’ dalam hal kedaulatan digital, yang menciptakan risiko tersembunyi yang signifikan,” ujarnya dalam keterangan resminya, Selasa (24/2/2026).
Ia menekankan bahwa Sovereign AI tidak mungkin terwujud tanpa fondasi cloud yang berdaulat.
“Cloud Sovereignty merupakan fondasi utama bagi Sovereign AI. Model AI hanya benar-benar otonom apabila infrastruktur cloud di baliknya menyediakan residensi data yang terlokalisasi dan kontrol operasional yang memadai,” tegasnya.
Menurutnya, tanpa kendali tersebut, perusahaan berisiko menghadapi ketergantungan vendor tunggal, yurisdiksi eksternal atas data, hingga celah keamanan rantai pasok.
![Ilustrasi keamanan data. [Unsplash/FlyD]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/02/06/13511-ilustrasi-keamanan-data.jpg)
20 Menit untuk Peta Risiko dan Skor SEAL
Baca Juga: Tren AI Karikatur Viral, Waspada Risiko Penipuan Mengintai!
Salah satu keunggulan utama alat ini adalah kemampuannya menyederhanakan proses audit yang sebelumnya rumit dan manual menjadi evaluasi otomatis berbasis web.
Dalam waktu sekitar 20 menit, perusahaan dapat memperoleh skor Sovereignty Effective Assurance Level (SEAL) yang memetakan kesiapan mereka ke dalam lima level, dari SEAL 0 hingga SEAL 4.
Skor tersebut diukur berdasarkan delapan tujuan kedaulatan utama (sovereignty objectives), termasuk aspek krusial seperti keamanan rantai pasok dan otonomi operasional.
Dengan pendekatan ini, organisasi dapat langsung mengetahui kesenjangan antara kondisi saat ini dan standar yang dipersyaratkan, misalnya dalam kontrak sektor publik internasional.
Di tengah kekhawatiran akan keamanan data, platform ini mengusung prinsip privacy-first. Hasil penilaian hanya tersimpan di browser pengguna dan tidak dikirim ke server eksternal.
Pendekatan ini dinilai relevan bagi organisasi dengan kebutuhan keamanan tinggi di Asia Pasifik, terutama di sektor pemerintahan, keuangan, dan infrastruktur kritis.
Selain skor evaluasi, alat ini menghasilkan laporan PDF yang dapat diunduh sebagai dasar penyusunan roadmap investasi TI. Dengan demikian, diskusi tentang kedaulatan digital yang sebelumnya abstrak dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret dan terukur.
Kehadiran Cloud Sovereignty Self Assessment menandai babak baru dalam tata kelola AI dan cloud di kawasan Asia Pasifik.
Di tengah proyeksi lonjakan adopsi cloud pada 2026, perusahaan kini dituntut bukan hanya cepat berinovasi, tetapi juga mampu membuktikan kendali atas data dan infrastrukturnya sendiri.