-
Krisis chip memori diprediksi membuat harga ponsel mahal hingga akhir 2027.
-
Dominasi produksi chip untuk kecerdasan buatan menjadi penyebab utama kenaikan harga.
-
Merek besar seperti Samsung dan Infinix sudah menaikkan harga secara signifikan.
Suara.com - Penggemar gadget tak terlalu senang pada tahun ini mengingat harga smartphone dan laptop bertambah mahal. Lantas, timbul pertanyaan mengenai sampai kapan harga ponsel bertambah mahal?
Pertanyaan tersebut menimbulkan berbagai jawaban dari beberapa analis.
Secara ringkas, 2026 hingga 2027 diprediksi merupakan tahun 'tak ramah' bagi penggemar gadget yang sensitif terhadap harga mahal.
Sebagai informasi, krisis chip memori membuat harga smartphone meroket dalam beberapa bulan ke belakang.
Penyebab utama adalah ledakan kebutuhan Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan (AI).
Perusahaan teknologi raksasa (Google, Microsoft, Meta) sedang berlomba membangun pusat data AI yang membutuhkan memori berperforma tinggi dalam jumlah masif.
Chip memori khusus untuk AI ini memakan kapasitas produksi yang jauh lebih besar dibandingkan RAM biasa.
Produsen utama seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron lebih memilih memproduksi chip AI karena margin keuntungannya jauh lebih tinggi daripada memori untuk HP atau PC.
Semua Merek Menaikkan Harga Ponsel

Jika dilihat dalam beberapa bulan ke belakang, hampir semua merek smartphone menaikkan harga perangkat.
Tak tanggung-tanggung, kenaikan harga terjadi di segmen entry-level (HP murah) hingga kelas flagship (segmen premium).
Sedikit contoh, Samsung Galaxy A36 (8GB/128GB) meluncur 2025 dengan harga mulai Rp5.199.000.
Selang satu tahun, perusahaan merilis Samsung Galaxy A37 (8GB/128GB) pada 2026 dengan harga Rp6.599.000.
Infinix GT 30 Pro (8GB/256GB) debut tahun lalu dengan harga Rp3.999.000. Sebagai generasi penerus, Infinix GT 50 Pro (12GB/256GB) meroket dengan banderol Rp6.499.000.
Brand yang terkenal memberikan harga murah pun ikut menaikkan harga.
Sebagai contoh, Redmi Note 14 4G (8GB/128GB) dulu hanya Rp2,4 juta. Redmi Note 15 4G (8GB/128GB) sekarang sudah dipatok mencapai Rp2,9 juta.
Pada awal April lalu, Vivo dan iQOO kompak menaikkan harga berbagai segmen dari Rp200 ribu hingga Rp800 ribu.
Sampai Kapan Harga Ponsel Bertambah Mahal?
Terdapat berbagai pandangan untuk jawaban pertanyaan tersebut.
Pandangan pertama mengungkap bahwa harga ponsel kemungkinan berangsur 'sedikit lebih murah' pada akhir 2026.
Namun sebagai catatan, stok chip memori smartphone harus sudah membaik pada Q4 2026.
Harga ponsel kemungkinan tetap merangkak naik setidaknya hingga akhir 2026 atau awal 2027, sampai teknologi AI generatif dan fabrikasi chipset 2nm mencapai skala ekonomi yang lebih efisien.
Analis dari IDC dan Gartner memprediksi bahwa ketidakseimbangan ini mungkin baru akan mencapai titik stabil pada 2027 atau 2028.
Harga berangsur pulih setelah pembangunan pabrik-pabrik baru (fabs) yang saat ini sedang dikerjakan mulai beroperasi secara penuh.
Kabar kurang menggembirakan datang dari firma riset Counterpoint.
Firma riset membeberkan bahwa pengiriman smartphone global pada Q1 2026 telah menurun hingga 6 persen.
Analis Senior Shilpi Jain dari Counterpoint berpendapat, penurunan disebabkan oleh prioritas pusat data AI daripada elektronik konsumen, sehingga OEM mengalami margin yang tertekan dan memaksa mereka untuk membebankan peningkatan biaya Bill of Material (BOM) langsung kepada konsumen.
Counterpoint memprediksi bila krisis chip memori dapat berlangsung hingga akhir 2027.
"Prospek untuk tahun 2026 tetap lemah, karena krisis memori mungkin akan berlanjut hingga akhir tahun 2027. Produsen perangkat (OEM) diperkirakan akan memprioritaskan nilai daripada volume, pembaruan konfigurasi, memangkas model dengan margin rendah, dan memanfaatkan perangkat rekondisi untuk mempertahankan pengguna dengan anggaran terbatas. Dengan tren premiumisasi yang tetap stabil tetapi margin berada di bawah tekanan, merek akan semakin bergantung pada perangkat lunak, perluasan ekosistem, dan layanan untuk pertumbuhan di kuartal mendatang," tulis Counterpoint.