- PT XLSmart Telecom Sejahtera menghadapi tekanan bisnis akibat fluktuasi rupiah terhadap dolar AS di Indonesia pada 2026.
- Direktur XLSmart David Arcelus menyatakan perusahaan mengalihkan fokus strategi pada peningkatan kualitas pelanggan dibanding mengejar jumlah pengguna.
- Strategi tersebut berhasil menaikkan pendapatan rata-rata per pelanggan menjadi Rp47,3 ribu pada kuartal pertama tahun 2026.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berfluktuasi mulai memberi tekanan pada berbagai sektor, termasuk industri telekomunikasi di Indonesia.
Kondisi ini diakui oleh PT XLSmart Telecom Sejahtera sebagai salah satu operator telekomunikasi nasional.
Direktur dan Chief Commercial Officer XLSmart, David Arcelus Oses, mengatakan pelemahan rupiah memang berdampak terhadap kondisi bisnis perusahaan, terutama di tengah situasi ekonomi yang dinilai tidak sekuat beberapa bulan sebelumnya.
“Namun, strategi perusahaan tidak hanya berpaku pada kuartal kedua saja, tetapi juga strategi jangka panjang,” ujar David dalam Paparan Publik XLSmart di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurut David, perusahaan kini lebih menitikberatkan strategi bisnis pada peningkatan kualitas pelanggan dibanding sekadar mengejar jumlah pengguna.
Fokus tersebut dinilai mampu menjaga kinerja perusahaan di tengah tekanan ekonomi dan fluktuasi mata uang.
![Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/19/33926-nilai-tukar-rupiah-ilustrasi-dolar-ilustrasi-dollar-ilustrasi-rupiah.jpg)
“Seperti yang sudah dilihat, kami mampu meningkatkan ARPU pelanggan kami, mengubah banyak hal, meningkatkan proposisi nilai,” katanya.
Ia menjelaskan, XLSmart saat ini lebih agresif membidik pelanggan dengan nilai kontribusi tinggi demi menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
“Kami mampu meningkatkan ARPU dari pelanggan dan berfokus pada pelanggan berkualitas tersebut,” tambahnya.
Sebagai informasi, Average Revenue Per User (ARPU) campuran XLSmart pada kuartal I/2026 tercatat mencapai Rp47,3 ribu.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan kontribusi pendapatan dari pelanggan di tengah tantangan industri telekomunikasi dan pelemahan kurs rupiah.
Meski demikian, David memperkirakan dampak pelemahan rupiah terhadap bisnis telekomunikasi kemungkinan hanya berlangsung sementara, setidaknya dalam satu kuartal ke depan.
“(Dari sana) Saya pikir, kita tidak bisa merubah strategi yang sudah ditetapkan karena pergerakan rupiah bersifat taktis atau spesifik dalam jangka pendek,” jelasnya.
Pelemahan rupiah sendiri menjadi perhatian banyak pelaku industri karena sebagian besar kebutuhan infrastruktur telekomunikasi, termasuk perangkat jaringan dan teknologi digital, masih bergantung pada impor dan transaksi berbasis dolar AS.