- MultiRealm Games mempercepat ekspansi global sejak 2024 dengan mengandalkan teknologi pembayaran digital dan distribusi.
- Amerika Latin dan negara Barat mencatat pertumbuhan nilai transaksi yang sangat cepat bagi perusahaan.
- Mobile gaming mendominasi ekonomi digital karena basis pengguna besar serta dukungan model microtransaction.
Suara.com - Ketika banyak platform digital menghadapi perlambatan pertumbuhan dan ketatnya persaingan bisnis, industri gaming justru terus menunjukkan daya tahan yang berbeda.
Model bisnis berbasis aset digital, transaksi mikro (microtransaction), serta distribusi lintas negara tanpa hambatan fisik membuat sektor ini menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan teknologi.
Namun, ekspansi global bisnis gaming tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah pemain, melainkan juga kemampuan membangun infrastruktur pembayaran, pasokan produk digital, hingga memahami regulasi di setiap negara.
Momentum tersebut kini dimanfaatkan PT Bukalapak.com Tbk melalui MultiRealm Games (MRP), entitas yang menaungi LapakGaming.
Setelah memulai ekspansi internasional sejak 2024, perusahaan kini mempercepat penetrasi ke berbagai pasar global dengan menjadikan teknologi pembayaran digital dan ekosistem distribusi sebagai fondasi utama pertumbuhan bisnis.
VP of Growth & Marketing MultiRealm Games (MRP), Hendi, mengatakan karakter industri game membuat ekspansi internasional jauh lebih cepat dibanding bisnis e-commerce konvensional.
"Kalau gaming ini kan borderless. Berbeda dengan bisnis produk fisik yang harus membangun toko atau infrastruktur terlebih dahulu. Tantangan terbesar justru ada pada sistem payment dan supply di masing-masing negara," ujar Hendi dalam Media Gathering di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, faktor tersebut menjadi penentu keberhasilan platform gaming digital ketika memasuki pasar internasional.
Asia Tenggara Tak Lagi Jadi Satu-satunya Mesin Pertumbuhan
Meski Asia Tenggara masih menjadi pasar utama, perkembangan bisnis MultiRealm Games justru menunjukkan kejutan dari kawasan lain.
Hendi mengungkapkan bahwa pertumbuhan transaksi di Amerika Latin dan negara-negara Barat berkembang lebih cepat dari perkiraan perusahaan.
"Asia Tenggara masih sangat baik, tetapi yang paling mengejutkan adalah perkembangan di Western market dan Latin America. Di Western, jumlah transaksinya memang tidak sebanyak Asia, tetapi nilai setiap transaksi jauh lebih besar karena purchasing power konsumennya berbeda," jelasnya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa strategi ekspansi gaming global kini tidak lagi hanya berorientasi pada jumlah pengguna, tetapi juga kualitas nilai transaksi di setiap pasar.
Mobile Gaming Masih Mendominasi Ekonomi Digital
Di tengah berkembangnya PC gaming dan konsol, MultiRealm Games menilai mobile gaming tetap menjadi tulang punggung industri.
Selain basis pengguna yang jauh lebih besar, model microtransaction menjadi alasan utama mengapa mobile game masih mendominasi pertumbuhan bisnis.
![Situs resmi Lapakgaming. [Tangkapan layar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/22/18700-situs-resmi-lapakgaming.jpg)
"Kalau melihat jumlah transaksi, microtransaction di mobile gaming memang masih belum ada tandingannya. Gaming sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat," kata Hendi.
Ia menilai perubahan perilaku konsumen turut memperkuat industri tersebut. Gaming kini tidak lagi dipandang sekadar hiburan, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi digital yang mencakup esports, streaming, hingga industri kreatif.
"Dulu mungkin orang tua melihat game hanya untuk bermain. Sekarang berbeda. Banyak yang melihat gaming sebagai profesi yang serius karena ekosistemnya sudah berkembang sangat besar," ujarnya.
Teknologi Pembayaran Jadi Senjata Utama Ekspansi
Di balik pertumbuhan industri gaming global, tantangan terbesar justru datang dari aspek teknologi pembayaran digital.
Menurut Hendi, setiap negara memiliki karakteristik transaksi, regulasi, hingga sistem perpajakan yang berbeda sehingga platform harus melakukan penyesuaian teknologi secara berkelanjutan.
"Setiap negara punya regulasi yang berbeda, mulai dari pricing, payment, sampai privacy policy. Itu yang membuat ekspansi gaming tidak sesederhana menerjemahkan aplikasi ke bahasa lain," katanya.
Perbedaan tersebut mengharuskan perusahaan membangun sistem pembayaran yang fleksibel sekaligus memenuhi berbagai regulasi lokal sebelum dapat beroperasi secara optimal.
Game Lokal Masih Punya PR Besar
Di tengah ekspansi global, MultiRealm Games juga melihat peluang besar bagi pengembang game Indonesia. Namun, kontribusi game lokal terhadap keseluruhan transaksi masih relatif kecil.
![Ilustrasi main game di HP. [Pexels]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/05/20/54308-ilustrasi-main-game-di-hp.jpg)
Meski demikian, Hendi menilai antusiasme developer dalam negeri terus meningkat.
"Kalau melihat persentasenya memang masih kecil. Tetapi enthusiasm developer Indonesia semakin besar. Banyak yang mulai membangun game sendiri, meskipun saat ini sebagian besar masih fokus ke PC karena investasi dan model bisnisnya lebih cepat," ungkapnya.
Menurutnya, ketika jaringan distribusi global perusahaan semakin luas, ekosistem tersebut berpotensi menjadi jalur bagi game buatan Indonesia untuk menembus pasar internasional.
"Kalau nanti proses ekspansi kami semakin besar di berbagai negara, tentu akan semakin terbuka peluang untuk mendukung game lokal agar bisa masuk ke pasar global," tambahnya.
Gaming Dinilai Jadi Bisnis Digital yang Paling Tahan Krisis
Berbeda dengan banyak sektor digital yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi, industri game justru menunjukkan daya tahan tinggi.
Hendi menyebut pandemi COVID-19 menjadi bukti bahwa gaming mampu tumbuh ketika banyak sektor lain mengalami kontraksi.
"Kalau dilihat, gaming justru menjadi momentum saat pandemi. Industri ini sudah membuktikan ketahanannya dalam beberapa krisis," katanya.
Menurutnya, perubahan gaya hidup digital membuat konsumsi hiburan berbasis game terus meningkat, didukung perangkat yang semakin canggih serta kapasitas penyimpanan smartphone yang terus bertambah.

"Gaming sekarang bukan lagi sekadar aplikasi di ponsel, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan digital masyarakat. Itu sebabnya kami optimistis peluang bisnis ini masih akan terus berkembang dalam jangka panjang," tutup Hendi.