- AI menjadi senjata sekaligus target utama pelaku kejahatan siber modern.
- Peretas mampu mengeksploitasi celah keamanan hanya dalam waktu 24 jam.
- CrowdStrike mencatat serangan ke infrastruktur cloud melonjak tajam 171 persen.
Suara.com - Laporan terbaru dari CrowdStrike Threat Hunting Report 2026 mengungkap fakta mengejutkan terkait keamanan siber global. Kecerdasan buatan (AI) kini dipastikan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari operasi pelaku ancaman modern di seluruh dunia.
Para peretas kini tidak hanya menggunakan AI sebagai alat bantu operasional. Teknologi canggih ini juga telah menjadi target bernilai tinggi bagi berbagai kelompok kejahatan siber internasional.
AI berfungsi sebagai alat, target, sekaligus pengganda efektivitas serangan siber.
Kelompok peretas yang terafiliasi dengan negara tertentu menunjukkan kecepatan luar biasa dalam memanfaatkan celah keamanan.
Peretas asal China diketahui mampu mengeksploitasi kerentanan sistem hanya dalam kurun waktu 24 jam setelah proof-of-concept (PoC) diterbitkan.
Di sisi lain, kelompok peretas asal Korea Utara (DPRK) melancarkan strategi yang berbeda. Mereka tercatat telah menyusupkan kode berbahaya ke dalam 131 paket kerangka kerja AI tepercaya.
Seiring banyaknya perusahaan yang mengadopsi teknologi cerdas, peretas mulai menyasar infrastruktur kecerdasan buatan tersebut.
Mereka berupaya meretas rantai pasok perangkat lunak hingga menyalahgunakan model bahasa besar (LLM) milik perusahaan.
Dampak dari fenomena ini membuat lanskap ancaman siber memasuki realitas operasional yang sepenuhnya baru. Serangan kini berlangsung jauh lebih cepat, berskala besar, dan secara spesifik menyasar sistem AI andalan korporasi.
Temuan CrowdStrike Threat Hunting Report
Berdasarkan pemantauan terhadap lebih dari 290 pelaku ancaman, CrowdStrike menemukan sejumlah tren baru. AI terbukti berfungsi sebagai alat, target, sekaligus pengganda efektivitas serangan siber.
Pelaku ancaman memanfaatkan teknologi ini untuk memproduksi payload serta mengeksploitasi infrastruktur jaringan. Sebuah kampanye peretasan bahkan terekam mengirimkan nyaris 200 ribu permintaan ke model AI hanya dalam waktu dua menit.
Tim CrowdStrike OverWatch juga mencatat lonjakan deteksi ancaman yang dipicu oleh agen AI. Peningkatan ini terjadi 2,5 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan deteksi yang dipicu oleh manusia.
Ekosistem AI Menjadi Medan Pertempuran Baru
Rantai pasok perangkat lunak kini berubah menjadi medan pertempuran baru bagi para peretas. Kelompok asal Korea Utara bernama STARDUST CHOLLIMA terbukti menyisipkan paket npm berbahaya ke ratusan kerangka kerja Mastra AI.