- Data Reasense mencatat anak Indonesia menghabiskan 7,5 jam sehari menggunakan kecerdasan buatan pada Kamis, 13 Agustus 2026 di Jakarta.
- Rita Amaliani menyatakan dalam acara Technologue Awards 2026 bahwa kecerdasan buatan merupakan alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir manusia.
- Didit Putra Erlangga menyatakan orang tua harus mengajarkan tiga pilar utama yaitu tujuan, proses, dan keputusan dalam penggunaan kecerdasan buatan.
Suara.com - Selama bertahun-tahun, musuh terbesar orang tua adalah "durasi layar" atau screen time. Namun, memasuki tahun 2026, aturan membatasi gadget maksimal dua jam sehari tampaknya sudah basi.
Data terbaru dari Reasense menunjukkan fakta pahit, yakni meski 80 persen orang tua mencoba membatasi waktu, kenyataannya anak-anak Indonesia rata-rata menghabiskan 7,5 jam sehari di depan layar.
Masalahnya bukan lagi sekadar berapa lama mereka menatap layar, melainkan apa yang mereka lakukan di sana bersama Kecerdasan Buatan (AI).
AI kini bukan lagi teknologi masa depan, ia adalah tutor pribadi, teman curhat, hingga mesin pembuat tugas sekolah yang ada di saku setiap anak.
AI: Alat Bantu Berpikir, Bukan Pengganti Otak
Kehadiran AI generatif telah mengubah cara anak memproses informasi. Di satu sisi, AI mempercepat akses pengetahuan, namun di sisi lain, ia mengancam kemampuan berpikir kritis jika hanya dianggap sebagai "jalan pintas" jawaban.
Founder sekaligus Chief Editor Technologue.id, Denny Mahardy, mengatakan bahwa kehadiran AI tidak seharusnya hanya dilihat sebagai ancaman.
"Masyarakat perlu belajar memanfaatkan teknologi agar mampu mengikuti perubahan zaman," ujarnya.
Direktur Pendidikan Yayasan Bangun Mandiri, Rita Amaliani, menekankan bahwa inovasi pendidikan di era AI harus tetap berpijak pada pengalaman nyata. Menurutnya, AI bisa menjelaskan teori, tapi tidak bisa menggantikan indra manusia.
"Guru dan orang tua harus membantu anak memahami bahwa AI adalah alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir. Pengalaman langsung melalui observasi dan diskusi tetap tidak tergantikan," tegas Rita dalam talkshow Parenting in AI Era yang diselenggarakan pada Technologue Awards 2026, Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Geser Paradigma: Tujuan, Proses, Keputusan
Inovasi dalam pola asuh digital kini bergeser dari "melarang" menjadi "mengarahkan". Head of Communications Reasense, Didit Putra Erlangga, menyoroti bahwa AI akan terus berevolusi dari sekadar pemberi jawaban menjadi sistem yang bisa bekerja mandiri.
Strategi terbaik bagi orang tua adalah mengajarkan tiga pilar Utama, yakni Tujuan, Proses, dan Keputusan. Anak harus tahu tujuan mereka memakai AI, mengerti proses bagaimana AI mendapatkan jawaban, dan tetap berani mengambil keputusan sendiri jika jawaban AI ternyata keliru atau bias.
"Pertanyaannya bukan lagi 'apakah kita bisa menghentikannya', tapi apakah kita sebagai orang tua siap menghadapinya? Ubah pertanyaan 'berapa lama anak pakai AI' menjadi 'untuk apa anak menggunakannya'," ujar Didit.
Risiko Kehilangan "Sisi Manusia"
Satu hal yang tidak dimiliki AI sehebat apa pun inovasinya adalah emosi yang kompleks dan tidak terprediksi. Founder Klinik Rainbow Castle, Dr. Adilla Hikma Zakiati, mengingatkan bahwa AI cenderung selalu memberikan respons cepat dan menyenangkan penggunanya.
![Diskusi Parenting in AI Era di Jakarta, Kamis (13/8/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/14/47314-parenting-in-ai-era.jpg)
Hal ini berisiko membuat anak gagap dalam interaksi sosial nyata yang penuh konflik dan kompromi.
"Dalam kehidupan nyata, anak perlu belajar bahwa ekspresi manusia tidak selalu mudah ditebak. Interaksi langsung dibutuhkan untuk melatih kemampuan membaca bahasa tubuh dan empati," kata dr. Adilla.
Teknologi AI tidak akan mundur. Justru, literasi digital dan kecerdasan emosional menjadi skill yang paling mahal di masa depan.
Tantangan bagi orang tua saat ini bukan lagi menjadi "polisi gadget", melainkan menjadi mentor yang memastikan anak-anak mereka tetap memegang kendali atas teknologi, bukan sebaliknya.
Inovasi teknologi harus dibarengi dengan inovasi cara berpikir.
Jika anak dibekali kemampuan critical thinking, AI tidak akan membuat mereka malas, melainkan justru menjadi batu loncatan untuk menciptakan hal-hal baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.