- Gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Agustus 2026 menurunkan kualitas layanan telekomunikasi TelkomGroup akibat kerusakan perangkat dan gangguan listrik.
- TelkomGroup mengerahkan genset tambahan sebagai sumber daya alternatif untuk mempertahankan operasional perangkat jaringan di wilayah terdampak bencana tersebut.
- TelkomGroup mengerahkan tim teknis guna memperbaiki perangkat jaringan yang rusak agar layanan telekomunikasi dapat segera kembali normal.
Suara.com - Bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya menimbulkan dampak pada masyarakat dan infrastruktur fisik, tetapi juga menguji ketahanan infrastruktur telekomunikasi digital.
Pasokan listrik yang terganggu dan kerusakan sejumlah perangkat jaringan membuat kualitas layanan TelkomGroup di sejumlah wilayah terdampak mengalami penurunan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan konektivitas digital dalam situasi bencana sangat bergantung pada ketahanan infrastruktur pendukung, terutama ketersediaan energi untuk menjaga perangkat jaringan tetap beroperasi.
TelkomGroup menyebut, gangguan layanan pascagempa terutama dipicu oleh kendala pasokan listrik di wilayah terdampak serta kerusakan pada sejumlah perangkat akibat guncangan gempa.
EVP Telkom Regional III, Rachmad Dwi Hartanto, mengatakan, stabilitas kelistrikan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kecepatan pemulihan layanan telekomunikasi dan digital.
"Proses pemulihan saat ini masih bergantung pada stabilitas kelistrikan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kecepatan pemulihan layanan telekomunikasi dan digital," ujar Rachmad dalam keterangan resminya, Minggu (16/8/2026).
Genset Jadi Penopang Operasional Jaringan
Di tengah kondisi tersebut, TelkomGroup mengaktifkan genset tambahan dengan kapasitas terbatas sebagai sumber daya alternatif untuk mempertahankan operasional perangkat jaringan.
Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi menjaga konektivitas ketika infrastruktur listrik utama mengalami gangguan. Dengan pasokan energi cadangan, perangkat jaringan yang masih berfungsi dapat dipertahankan agar tetap aktif sembari proses perbaikan dilakukan.
TelkomGroup menyatakan, genset tersebut digunakan untuk memperkuat suplai listrik sekaligus mendukung proses pemulihan layanan telekomunikasi dan digital di wilayah terdampak.
Namun, penggunaan genset juga menunjukkan bahwa teknologi jaringan tidak dapat sepenuhnya berdiri sendiri ketika infrastruktur energi mengalami gangguan.
Ketahanan konektivitas dalam situasi bencana membutuhkan kombinasi antara perangkat jaringan yang tangguh, sumber energi alternatif, serta kemampuan teknis untuk melakukan pemulihan secara cepat.
Tim Teknis Dikerahkan Percepat Pemulihan
Selain memperkuat pasokan energi, TelkomGroup mengerahkan tim teknis dan sumber daya yang diperlukan untuk memperbaiki perangkat yang terdampak gempa.
Upaya tersebut dilakukan agar layanan dapat kembali normal secara bertahap.
Tim teknis harus memastikan perangkat yang mengalami gangguan dapat kembali beroperasi sekaligus menjaga stabilitas jaringan yang masih aktif di tengah kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih.
![Ilustrasi BTS. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/06/17/39259-ilustrasi-bts.jpg)
Situasi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya desain infrastruktur telekomunikasi yang memiliki kemampuan resilience atau ketahanan terhadap bencana. Infrastruktur digital tidak cukup hanya mengandalkan kapasitas jaringan, tetapi juga harus memiliki skema pemulihan ketika terjadi gangguan listrik maupun kerusakan fisik.
TelkomGroup menyampaikan bahwa percepatan perbaikan terus dilakukan dengan mengerahkan sumber daya yang diperlukan.
"TelkomGroup terus melakukan langkah percepatan perbaikan dengan mengerahkan tim teknis dan sumber daya yang diperlukan agar layanan telekomunikasi dan digital dapat segera kembali normal," kata Rachmad.
Ketahanan Infrastruktur Digital Diuji Bencana
Gangguan di Flores menjadi gambaran bahwa konektivitas telah menjadi bagian penting dari infrastruktur penanganan bencana. Ketika komunikasi terganggu, akses masyarakat terhadap informasi, koordinasi, dan layanan digital juga berpotensi ikut terdampak.
Karena itu, kemampuan jaringan untuk bertahan dan pulih dengan cepat menjadi salah satu aspek teknologi yang semakin strategis.
Ketersediaan sumber energi cadangan, perangkat yang lebih tahan terhadap gangguan fisik, serta sistem pemulihan jaringan yang cepat menjadi bagian dari kebutuhan infrastruktur telekomunikasi di wilayah rawan bencana.
TelkomGroup pun menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan dan masyarakat atas penurunan kualitas layanan yang terjadi akibat gempa.
"TelkomGroup menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan dan masyarakat atas kejadian ini," ujar Rachmad.

Perusahaan juga mengapresiasi pengertian dan dukungan masyarakat selama proses pemulihan berlangsung. Hingga layanan kembali sepenuhnya normal, proses pemulihan akan tetap bergantung pada kondisi kelistrikan dan keberhasilan perbaikan perangkat jaringan yang terdampak.