- ASPIMTEL menggelar turnamen Mobile Legends perdana di Jakarta pada 4 September 2026 dalam rangka Hari Bhakti Postel ke-81.
- PT Telkom Infrastruktur Indonesia keluar sebagai juara pertama setelah mengalahkan PT Amron Citinet di babak final turnamen tersebut.
- Komdigi mencatat valuasi industri game Indonesia mencapai Rp32 triliun pada 2025 dengan potensi ekonomi yang besar.
Suara.com - Esports kini tidak lagi sekadar soal adu strategi dan kemampuan bermain game.
Di balik pertandingan yang berlangsung di layar, ada industri digital yang melibatkan konektivitas internet, kreator, pengembang game, penyelenggara turnamen, hingga lahirnya peluang kerja baru.
Gambaran itu terlihat dalam Turnamen Esports Mobile Legends perdana yang digelar Asosiasi Penyelenggara Infrastruktur Menara Telekomunikasi (ASPIMTEL) dalam rangka Hari Bhakti Postel ke-81 Tahun 2026.
Turnamen yang digelar di Jakarta pada 4 September 2026 itu diikuti perwakilan dari industri pos, telekomunikasi, perusahaan media, hingga Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Kehadiran esports dalam rangkaian Hari Bhakti Postel menjadi warna baru sekaligus menunjukkan bagaimana game kini mulai dipandang sebagai bagian dari ekosistem digital Indonesia.
Sekretaris Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Aryo Pamoragung mengatakan industri game memiliki potensi ekonomi yang besar.
Berdasarkan data 2025 yang disampaikan dalam acara tersebut, valuasi industri game Indonesia mencapai Rp32 triliun.
Sementara itu, pasar esports Indonesia diproyeksikan mencapai USD2,4 miliar pada 2029.
“Industri game itu bukan lagi sekadar permainan sebelah mata, ini adalah industri yang sangat besar, dan bagian dari ekosistem digital,” kata Aryo dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9/2026).
Di Balik Game, Ada Ekosistem Digital
Bagi Aryo, peluang dari industri game tidak hanya berada di tangan pemain profesional. Pertumbuhan ekosistem juga membuka ruang bagi munculnya kreator hingga pengembang game lokal.
Ia berharap industri game Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk dari luar negeri, tetapi juga mampu melahirkan lebih banyak kreator dan developer lokal yang bisa mengambil manfaat ekonomi dari besarnya pasar game nasional.
Hal serupa disampaikan Ketua Umum Pengurus Nasional Indonesia Esports Association (IESPA), Ibnu Sulistyo Riza Pradipto.
Menurutnya, esports telah memiliki sekitar 68 juta gamer aktif dan berpotensi menjadi salah satu bidang pekerjaan masa depan.
Ekosistemnya pun tidak hanya terdiri dari pro player. Ada profesi lain seperti manajer tim esports, penyelenggara turnamen, wasit esports, hingga caster yang tumbuh seiring berkembangnya industri.