- Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Serang mengalami erupsi disertai lava fountain sejak Jumat malam hingga Sabtu, 4-5 September 2026.
- Letusan dahsyat Krakatau pada akhir Agustus 1883 di Selat Sunda menyebabkan kematian lebih dari 36.000 jiwa akibat tsunami.
- Anak Krakatau yang muncul pada tahun 1927 di dalam kaldera sisa letusan 1883 terus aktif dan mengalami erupsi berkala hingga kini.
Suara.com - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) bahkan disertai fenomena lava fountain atau air mancur lava, serta suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, Kabupaten Serang. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
Aktivitas tersebut kembali mengingatkan publik pada sejarah panjang Krakatau yang pernah mengalami salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah modern.
Perlu diketahui bahwa Gunung Anak Krakatau yang aktif saat ini berbeda dengan Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883. Anak Krakatau merupakan gunung api baru yang tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau tersebut.

Kapan Terakhir Kali Gunung Krakatau Meletus Dahsyat?
Nama Krakatau sendiri memang tidak bisa dilepaskan dari salah satu letusan gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah modern.
Letusan dahsyat tersebut terjadi pada 1883, tepatnya pada akhir Agustus. Saat itu, gunung api Krakatau yang berada di Selat Sunda mengalami rangkaian erupsi besar yang berujung pada runtuhnya sebagian besar tubuh gunung ke laut.
Menurut catatan U.S. Geological Survey (USGS), rangkaian erupsi Krakatau pada 1883 berlangsung selama berbulan-bulan dan mencapai puncaknya pada 26–27 Agustus 1883. Peristiwa tersebut menyebabkan lebih dari 36.000 orang meninggal dunia dan menghasilkan dampak yang terasa hingga berbagai wilayah di dunia.
Krakatau yang meletus pada 1883 berbeda dengan kerucut vulkanik yang sekarang dikenal sebagai Anak Krakatau.
Sebelum 1883, terdapat gunung api besar di kawasan Selat Sunda. Letusan pada 1883 menyebabkan sebagian besar tubuh gunung tersebut runtuh dan membentuk kaldera. Di kawasan kaldera inilah kemudian muncul gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.
Data Smithsonian Institution melalui Global Volcanism Program mencatat letusan Krakatau pada 1883 memiliki Volcanic Explosivity Index (VEI) 6, yang menunjukkan erupsi sangat besar.
Puncak letusan terjadi pada 26–27 Agustus 1883. Rangkaian ledakan besar menghancurkan sebagian besar bangunan gunung dan menyebabkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar terlontar ke atmosfer.
USGS mencatat lebih dari 4 mil kubik material vulkanik terlontar selama periode paling intens dari peristiwa tersebut.
Letusan Krakatau 1883 Menyebabkan Tsunami Besar
Salah satu dampak paling mematikan dari letusan Krakatau 1883 bukan hanya abu vulkanik dan ledakannya, tetapi juga tsunami.
Runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut dan aktivitas vulkanik menghasilkan gelombang tsunami yang menghantam kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda.
Menurut National Centers for Environmental Information (NCEI) NOAA, bagian utara hingga dua pertiga Pulau Krakatau runtuh ke bawah permukaan laut. Peristiwa tersebut memicu aliran material vulkanik serta tsunami besar yang menghantam wilayah pesisir di sekitarnya. Sekitar 36.000 orang meninggal dunia akibat rangkaian bencana tersebut.
Data BNPB juga mencatat lebih dari 36.000 korban jiwa dalam bencana Krakatau 1883.