- Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Serang mengalami erupsi disertai lava fountain sejak Jumat malam hingga Sabtu, 4-5 September 2026.
- Letusan dahsyat Krakatau pada akhir Agustus 1883 di Selat Sunda menyebabkan kematian lebih dari 36.000 jiwa akibat tsunami.
- Anak Krakatau yang muncul pada tahun 1927 di dalam kaldera sisa letusan 1883 terus aktif dan mengalami erupsi berkala hingga kini.
Benarkah Suara Letusan Krakatau Terdengar Sangat Jauh?
Salah satu fakta yang membuat letusan Krakatau 1883 terkenal adalah kekuatan suara ledakannya.
NCEI NOAA menyebut ledakan terakhir Krakatau menghasilkan suara yang terdengar pada jarak yang sangat jauh dan dianggap sebagai salah satu suara ledakan paling keras yang tercatat dalam sejarah modern.
Dahsyatnya letusan juga terlihat dari penyebaran abu vulkanik. Pada ledakan paling kuat, material abu disebut mencapai sekitar 80 kilometer ke atmosfer dan menyebar hingga wilayah yang sangat luas.
Setelah letusan 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, kawasan kaldera tersebut tidak benar-benar berhenti dari aktivitas vulkanik.
Gunung api baru kemudian tumbuh di tengah kaldera. Gunung inilah yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.
Menurut Smithsonian Global Volcanism Program, Anak Krakatau mulai muncul dari laut pada 1927 dan sejak itu mengalami berbagai aktivitas erupsi.
Dengan demikian, ketika masyarakat menyebut "Krakatau meletus", perlu dibedakan antara Krakatau sebagai sistem gunung api dan Anak Krakatau sebagai kerucut gunung api aktif yang tumbuh di dalam kaldera Krakatau.
Apakah Anak Krakatau Pernah Mengalami Letusan Besar Setelah 1883?
Anak Krakatau telah mengalami banyak erupsi setelah muncul pada 1927. Salah satu peristiwa penting terjadi pada 2018, ketika aktivitas vulkanik disertai runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut.
Pada 22 Desember 2018, sebagian tubuh Anak Krakatau mengalami longsoran atau runtuhan ke laut. Peristiwa tersebut memicu tsunami yang menghantam sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Smithsonian mencatat bahwa runtuhan sisi gunung pada 22 Desember 2018 menghancurkan sebagian besar pulau Anak Krakatau dan menghasilkan tsunami mematikan.
Namun, peristiwa 2018 tidak dapat disamakan begitu saja dengan letusan Krakatau 1883. Skala, mekanisme, dan dampak kedua peristiwa tersebut berbeda.
Data Global Volcanism Program menunjukkan bahwa aktivitas erupsi di Krakatau terus terjadi dalam beberapa periode. Laporan pada Agustus 2026, misalnya, mencatat aktivitas erupsi Anak Krakatau dengan kolom abu dan gas yang mencapai ratusan meter di atas puncak.
Artinya, 1883 bukanlah letusan terakhir Krakatau secara keseluruhan. Yang menjadi letusan dahsyat terakhir dengan skala historis seperti itu adalah peristiwa Krakatau 1883, sedangkan Anak Krakatau masih mengalami erupsi secara berkala hingga sekarang.