Apa Akibat jika Gunung Anak Krakatau Meletus?

Ruth Meliana

Senin, 07 September 2026 | 15:15 WIB
Apa Akibat jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
Penampakan kawah Gunung Anak Krakatau. (Twitter/Sutopo Purwo Nugroho)
baca 10 detik
  • Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda aktif meletus dan dipantau ketat karena berpotensi memicu bencana besar.
  • Erupsi gunung tersebut berpotensi menyebabkan hujan abu, gangguan penerbangan, tsunami, material panas, dan kerusakan ekosistem laut.
  • Masyarakat diimbau selalu mengikuti informasi resmi Badan Geologi serta mematuhi radius aman dari kawah gunung.

Suara.com - Gunung Anak Krakatau yang terletak di tengah Selat Sunda merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Gunung ini muncul setelah letusan dahsyat Krakatau tahun 1883 dan terus tumbuh serta meletus secara berkala. Lokasinya yang strategis di antara Pulau Jawa dan Sumatera membuat setiap aktivitasnya selalu mendapat perhatian serius dari masyarakat maupun otoritas kebencanaan.

Sejarah mencatat bahwa letusan atau keruntuhan sebagian tubuh gunung ini mampu memicu dampak yang sangat luas. Peristiwa Desember 2018 menjadi pengingat pahit ketika longsoran material gunung memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung yang menelan ratusan korban jiwa. Meski demikian, tidak setiap erupsi berujung pada bencana sebesar itu.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau sering kali ditandai dengan letusan tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar, kolom abu, dan aliran lava.

Dalam beberapa tahun terakhir, termasuk peningkatan aktivitas yang tercatat, gunung ini tetap dipantau ketat dengan status waspada hingga siaga. Masyarakat di wilayah sekitar perlu memahami potensi bahayanya agar siap menghadapi skenario terburuk.

Memahami akibat letusan gunung ini penting bukan hanya bagi warga pesisir, tetapi juga bagi masyarakat yang lebih jauh karena sebaran abu vulkanik bisa menjangkau ratusan kilometer.

Berikut sejumlah dampak utama yang berpotensi terjadi jika Gunung Anak Krakatau meletus secara signifikan.

Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Lampung, saat erupsi, Sabtu (5/9/2026).
Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Lampung, saat erupsi, Sabtu (5/9/2026).

1. Hujan Abu Vulkanik dan Gangguan Kesehatan

Salah satu dampak paling langsung dan luas adalah hujan abu vulkanik. Abu yang mengandung silika tajam dapat menyebar ke Lampung, Banten, Jawa Barat, bahkan hingga Jakarta dan Bengkulu tergantung arah angin.

Paparan abu menyebabkan iritasi mata, kulit, saluran pernapasan, batuk, hingga memperburuk asma dan penyakit paru kronis. Dalam konsentrasi tinggi, abu juga dapat mencemari sumber air dan makanan.

2. Gangguan Penerbangan dan Transportasi

Abu vulkanik sangat berbahaya bagi mesin pesawat karena partikel silikanya dapat meleleh di suhu tinggi turbin. Akibatnya, bandara di sekitar seperti Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Raden Inten II Lampung, dan beberapa bandara lain terpaksa ditutup sementara.

baca juga

Pembatalan ratusan penerbangan berdampak pada penumpang domestik maupun internasional serta rantai logistik.

3. Potensi Tsunami Akibat Longsoran Tubuh Gunung

Ini merupakan risiko paling ditakuti. Jika terjadi keruntuhan sebagian besar tubuh gunung ke laut seperti tahun 2018, gelombang tsunami dapat terbentuk dalam waktu singkat (kurang dari 30–45 menit) dan mencapai pesisir Anyer, Carita, Tanjung Lesung, hingga Lampung Selatan dengan ketinggian beberapa meter.

Tsunami vulkanik sering datang tanpa didahului gempa kuat, sehingga sistem peringatan dini sangat krusial. Namun, otoritas geologi menekankan bahwa pertumbuhan tubuh gunung saat ini masih relatif kecil sehingga risiko tsunami besar dinilai rendah pada kondisi terkini.

4. Aliran Piroklastik, Lontaran Material Panas, dan Gas Beracun

Di radius beberapa kilometer dari kawah, ancaman berupa awan panas (aliran piroklastik), lontaran batu pijar, dan lava sangat nyata. Material ini mampu menghancurkan apa pun di jalurnya.

Gas beracun seperti sulfur dioksida juga dapat menyebabkan sesak napas bagi siapa pun yang berada terlalu dekat, termasuk nelayan atau wisatawan.

5. Dampak terhadap Ekosistem Laut dan Lingkungan

Erupsi mengubah suhu air laut dan menimbun material vulkanik di dasar laut, sehingga mematikan ikan serta biota laut di sekitar Selat Sunda.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Warga Malaysia Terjebak di Jakarta Dampak Gunung Anak Krakatau Meletus

Warga Malaysia Terjebak di Jakarta Dampak Gunung Anak Krakatau Meletus

News | Senin, 07 September 2026 | 12:18 WIB

Abu Erupsi Anak Krakatau Bikin Liburan Wisatawan Jakarta Molor, Hotel Lombok Jadi Sasaran

Abu Erupsi Anak Krakatau Bikin Liburan Wisatawan Jakarta Molor, Hotel Lombok Jadi Sasaran

Bisnis | Senin, 07 September 2026 | 11:35 WIB

2 Negara Tetangga RI Keluarkan Peringatan Pasca Gunung Anak Krakatau Meletus

2 Negara Tetangga RI Keluarkan Peringatan Pasca Gunung Anak Krakatau Meletus

News | Senin, 07 September 2026 | 11:31 WIB

Terkini

Otorita IKN Larang Bakar Lahan di Kawasan Tahura Bukit Soeharto

Otorita IKN Larang Bakar Lahan di Kawasan Tahura Bukit Soeharto

Kaltim | Rabu, 09 September 2026 | 14:47 WIB

Di China, Mantan Gubernur Terbukti Korupsi Rp 388 Miliar Langsung Divonis Mati, Hak Politik Dicabut

Di China, Mantan Gubernur Terbukti Korupsi Rp 388 Miliar Langsung Divonis Mati, Hak Politik Dicabut

News | Rabu, 09 September 2026 | 14:45 WIB

7 Cara Memilih Warna Bedak Tabur yang Sesuai Warna dan Jenis Kulit agar Makeup Natural

7 Cara Memilih Warna Bedak Tabur yang Sesuai Warna dan Jenis Kulit agar Makeup Natural

Lifestyle | Rabu, 09 September 2026 | 14:45 WIB

Posko Solidaritas Rakyat Borneo Salurkan 8.260 Masker untuk Warga Terdampak Asap Karhutla

Posko Solidaritas Rakyat Borneo Salurkan 8.260 Masker untuk Warga Terdampak Asap Karhutla

Kalbar | Rabu, 09 September 2026 | 14:43 WIB

Imparsial soal Kasus Andrie Yunus: Ini Bukti Nyata Cacatnya Sistem Peradilan Militer di Indonesia

Imparsial soal Kasus Andrie Yunus: Ini Bukti Nyata Cacatnya Sistem Peradilan Militer di Indonesia

News | Rabu, 09 September 2026 | 14:42 WIB

5 Rekomendasi HP RAM 8 GB Rp1 Jutaan, Cek Spesifikasi dan Harganya

5 Rekomendasi HP RAM 8 GB Rp1 Jutaan, Cek Spesifikasi dan Harganya

Tekno | Rabu, 09 September 2026 | 14:41 WIB

Apa Perbedaan Fitur Stylus Pen Aktif dan Pasif pada Tablet Android? Ini Penjelasannya

Apa Perbedaan Fitur Stylus Pen Aktif dan Pasif pada Tablet Android? Ini Penjelasannya

Tekno | Rabu, 09 September 2026 | 14:41 WIB

Fenomena Gen Z Jompo: Ketika Hidup Terlalu Padat untuk Istirahat

Fenomena Gen Z Jompo: Ketika Hidup Terlalu Padat untuk Istirahat

Your Say | Rabu, 09 September 2026 | 14:40 WIB

Ada Apa di BPN Kabupaten Bogor? Tim Ditreskrimum dan Brimob Bersenjata Tampak Siaga di Lokasi

Ada Apa di BPN Kabupaten Bogor? Tim Ditreskrimum dan Brimob Bersenjata Tampak Siaga di Lokasi

Bogor | Rabu, 09 September 2026 | 14:38 WIB

Beban Keuangan Jadi Alasan, Kades Usul Pilkades Ditunda ke DPR

Beban Keuangan Jadi Alasan, Kades Usul Pilkades Ditunda ke DPR

News | Rabu, 09 September 2026 | 14:37 WIB

×