- Erupsi Anak Krakatau bikin penerbangan Lombok-Jakarta ditunda.
- Pelancong Jakarta terpaksa tambah liburan dua hari di Lombok.
- Maskapai beri opsi reschedule gratis dan refund penuh.
Suara.com - Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap perjalanan wisatawan. Sejumlah pelancong asal Jakarta yang tengah berlibur di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), terpaksa memperpanjang masa tinggal setelah penerbangan menuju Jakarta ditunda.
Salah seorang wisatawan, Dea (29), mengatakan dirinya bersama tiga orang temannya telah berada di Lombok sejak 1 September 2026. Mereka sejatinya dijadwalkan mengakhiri liburan pada Minggu (6/9/2026) dengan penerbangan dari Lombok menuju Jakarta.
Pada hari terakhir liburan, Dea dan rombongannya masih sempat menikmati waktu di Gili Air. Destinasi tersebut menjadi lokasi terakhir mereka sebelum menyeberang kembali ke Pulau Lombok dan melanjutkan perjalanan menuju Bandara Internasional Lombok.
Mereka sebelumnya dijadwalkan terbang menggunakan pesawat Pelita Air dari Lombok menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 16.15 WIB.
Namun, kepastian penerbangan menjadi tanda tanya. Dea mengaku telah berupaya menghubungi layanan pelanggan maskapai sejak pagi untuk memastikan penerbangan mereka.
"Sudah kontak CS (customer service) WhatsApp dari pagi tapi lama banget jawabnya," ujar Dea kepada Suara.com, Senin (7/9/2026).
Meski belum mendapatkan kepastian, Dea dan teman-temannya tetap meninggalkan Gili Air menuju Kota Mataram. Mereka bahkan sempat membeli oleh-oleh sebelum melanjutkan perjalanan ke bandara.
Namun, saat berada di Lombok, mereka baru mendapatkan informasi bahwa penerbangan menuju Jakarta ditunda.
"Kami sudah menyeberang dari Gili Air ke Lombok dan lagi beli oleh-oleh, baru dapat kabar kalau penerbangan ditunda sampai tanggal 8 September. Semuanya kaget langsung. Orang harusnya kita pulang hari ini," kata Dea.
Penundaan penerbangan tersebut membuat rencana perjalanan mereka berubah. Dea mengatakan pihak maskapai memberikan kompensasi berupa fasilitas perubahan jadwal penerbangan secara gratis maupun pengembalian dana atau refund penuh.
Kendati demikian, Dea dan teman-temannya memilih menggunakan penerbangan terbaru pada 8 September 2026.
"Ya mau nggak mau. Kalau jalur darat terlalu lama dan lebih mahal karena harus nyebrang dulu ke Bali, nyebrang lagi ke Gilimanuk, terus kereta ke Jakarta," ujarnya.
Keputusan tersebut membuat mereka harus menambah biaya untuk akomodasi selama berada di Lombok. Rombongan yang seharusnya sudah kembali ke Jakarta pada 6 September akhirnya memperpanjang masa tinggal selama dua hari.
Dea mengatakan mereka langsung mencari penginapan setelah mengetahui penerbangan ditunda. Mereka khawatir hotel-hotel di sekitar lokasi tujuan sudah penuh akibat banyaknya penumpang yang terdampak penundaan penerbangan.
"Mau nggak mau langsung cari hotel. Takut keburu penuh," pungkasnya.