- Air laut terasa asin karena kandungan mineral terlarut hasil pelapukan batuan daratan dan aktivitas hidrotermal dasar laut.
- Sungai membawa miliaran ton mineral terlarut ke laut setiap tahun yang terakumulasi akibat penguapan air laut.
- Tingkat keasinan air laut berbeda di setiap wilayah karena pengaruh penguapan, curah hujan, sungai, dan es.
Suara.com - Pernahkah Anda berpikir kok bisa ya air laut terasa asin?
Air laut memiliki rasa asin karena mengandung berbagai garam dan mineral terlarut dengan konsentrasi rata-rata sekitar 35 bagian per seribu atau 3,5 persen.
Rasa asin tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil proses alam yang berlangsung sangat lama melalui pelapukan batuan di daratan dan aktivitas geologi di dasar laut.
Air hujan membantu melarutkan mineral dari batuan, kemudian membawanya melalui sungai menuju lautan, sementara air laut yang menguap meninggalkan garam tetap berada di dalam laut.
Selain itu, tingkat keasinan air laut tidak sama di seluruh wilayah karena jumlah penguapan, curah hujan, aliran sungai, pencairan es, dan pergerakan massa air dapat mengubah konsentrasi garam di suatu perairan.
Penyebab Air Laut Asin
Salinitas merupakan ukuran banyaknya garam terlarut di dalam air dan rata-rata salinitas air laut berada di kisaran 35 bagian per seribu, meskipun nilainya dapat berbeda berdasarkan lokasi.
Dua sumber alami utama garam di laut berasal dari daratan dan aktivitas di dasar laut.
Salah satu sumber terbesarnya adalah pelapukan batuan di daratan. Air hujan yang turun ke permukaan Bumi sedikit bersifat asam karena berinteraksi dengan karbon dioksida di atmosfer.
Ketika mengalir melewati batuan dan tanah, air tersebut melarutkan berbagai mineral dan ion.
Mineral yang telah larut kemudian terbawa menuju sungai dan akhirnya bermuara ke laut. Proses ini terjadi berulang selama waktu geologis yang sangat panjang sehingga berbagai ion terakumulasi di lautan. Sungai di seluruh dunia diperkirakan membawa miliaran ton garam terlarut ke laut setiap tahun.
Sumber lainnya berasal dari aktivitas hidrotermal di dasar laut. Air laut dapat merembes melalui retakan pada kerak Bumi dan kemudian dipanaskan oleh magma.
Dalam kondisi tersebut, terjadi reaksi kimia antara air panas dan batuan di sekitarnya sehingga sejumlah unsur dan mineral berpindah ke dalam fluida hidrotermal sebelum dikeluarkan kembali melalui ventilasi di dasar laut.
Komposisi air laut didominasi oleh ion klorida dan natrium yang secara bersama-sama menyumbang sekitar 85 persen dari seluruh ion terlarut di laut, sedangkan magnesium dan sulfat menyumbang sebagian besar sisanya. Aktivitas vulkanik bawah laut juga dapat memasok mineral ke lingkungan laut.
Lalu, mengapa garam tersebut tidak ikut hilang ketika air laut menguap? Jawabannya adalah karena proses penguapan terutama memindahkan molekul air ke atmosfer, sedangkan garam terlarut tetap tertinggal di laut sehingga air yang tersisa menjadi lebih pekat.
Dalam jangka panjang, terdapat pula proses yang mengeluarkan garam dari laut, sehingga konsentrasi garam lautan tidak terus meningkat tanpa batas.
Penyebab Perbedaan Kadar Salinitas Air Laut
Meskipun seluruh laut mengandung garam, tingkat salinitasnya dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan keseimbangan antara air yang masuk ke laut dan air yang hilang melalui proses hidrologis.
1. Penguapan
Semakin tinggi penguapan di suatu wilayah, semakin banyak air yang berpindah ke atmosfer sementara garam tetap tertinggal.
Akibatnya, salinitas permukaan laut dapat meningkat. Sebaliknya, penguapan yang rendah cenderung membuat pengaruh pemekatan garam menjadi lebih kecil.
2. Curah hujan
Hujan memasukkan air tawar ke laut sehingga dapat mengencerkan garam yang sudah terdapat di dalamnya.
Karena itu, wilayah dengan curah hujan tinggi cenderung mengalami penurunan salinitas permukaan, terutama jika masukan air tawar berlangsung terus-menerus.
3. Aliran sungai
Sungai membawa air tawar sekaligus mineral terlarut dari daratan ke laut.
Di sekitar muara dengan masukan air sungai yang besar, salinitas air permukaan dapat menjadi lebih rendah dibandingkan perairan laut terbuka.
4. Pencairan dan pembentukan es
Pencairan es memasukkan air tawar ke laut sehingga dapat menurunkan salinitas.
Sebaliknya, ketika air laut membeku menjadi es, sebagian besar garam tetap berada di air sekitarnya sehingga air laut yang tersisa menjadi lebih asin dan lebih padat.
5. Arus laut
Arus laut memindahkan massa air dengan karakteristik salinitas berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Proses pencampuran dan perpindahan tersebut ikut menentukan distribusi garam di permukaan maupun bagian laut yang lebih dalam.