- Massa Women’s March Jakarta di Jalan M.H. Thamrin diadang polisi dan sempat terlibat saling dorong pada Sabtu, 7 November 2026.
- Demonstrasi tersebut menuntut penghapusan PPN pembalut, kesetaraan perempuan di pemerintahan, serta penghentian program Makan Bergizi Gratis.
- Aksi unjuk rasa itu juga diwarnai insiden dugaan kekerasan berupa penarikan paksa yang melukai tangan panitia acara.
Suara.com - Aksi Women’s March Jakarta (WMJ) di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (7/11/2026) sempat diwarnai ketegangan. Massa yang hendak bergerak menuju Patung Kuda dihadang barisan polisi hingga terjadi aksi saling dorong antara peserta demonstrasi dan petugas.
Sejumlah anggota kepolisian terlihat berbaris menahan laju massa. Situasi tersebut sempat membuat peserta aksi tertahan di sekitar Jalan M.H. Thamrin.
Dalam demonstrasi itu, massa menyuarakan sejumlah tuntutan, mulai dari penolakan pajak pertambahan nilai (PPN) pembalut, kesetaraan keterwakilan perempuan di pemerintahan dan parlemen, hingga desakan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan.

Penolakan PPN pembalut menjadi salah satu isu utama yang diangkat.
Massa menilai produk menstruasi semestinya tidak dibebani pajak karena merupakan kebutuhan dasar perempuan. Saat ini, pembalut yang diperdagangkan di Indonesia masih dikenai PPN dengan beban efektif 11 persen.
Beragam poster turut dibawa peserta aksi. Isinya tidak hanya menyangkut hak perempuan, tetapi juga akses terhadap pembalut, kekerasan terhadap perempuan, hak kelompok LGBTQ+, hingga persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di tengah aksi, sejumlah warga menunjukkan solidaritas dengan membagikan roti dan pembalut kepada peserta demonstrasi.
Namun, aksi tersebut juga diwarnai dugaan kekerasan terhadap salah satu panitia WMJ. Panitia itu disebut mengalami luka di bagian tangan setelah ditarik paksa oleh tiga orang tak dikenal.