- Cahaya petir terlihat lebih dulu dari suara guruh karena kecepatan cahaya merambat jauh lebih cepat di udara daripada gelombang suara.
- Pemanasan udara yang ekstrem hingga 30.000 derajat Celsius akibat pelepasan listrik petir menciptakan gelombang kejut yang menghasilkan suara guruh.
- Jeda waktu antara kilatan petir dan suara guruh dapat digunakan untuk memperkirakan jarak lokasi badai dari posisi pengamat.
Suara.com - Saat hujan deras disertai badai, kita sering melihat kilatan petir terlebih dahulu sebelum mendengar suara guruh halilintar.
Jeda antara kilatan dan suara tersebut bisa berlangsung beberapa detik, terutama jika badai berada cukup jauh dari posisi kita.
Lantas, mengapa petir lebih dulu terlihat daripada suara guruh halilintar? Jawabannya berkaitan dengan perbedaan kecepatan cahaya dan suara.
Meskipun kilatan petir dan suara guruh sebenarnya terjadi hampir bersamaan, cahaya merambat jauh lebih cepat daripada gelombang suara.
Cahaya Petir Merambat Jauh Lebih Cepat
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), cahaya merambat di udara sekitar satu juta kali lebih cepat daripada suara.
Cahaya dari kilatan petir dapat mencapai mata kita hampir seketika, sedangkan suara guruh membutuhkan waktu lebih lama untuk merambat melalui udara.
Kecepatan cahaya berada di kisaran 300.000 kilometer per detik. Sementara itu, suara merambat dengan kecepatan sekitar sepertiga kilometer per detik, meskipun kecepatannya dapat berubah tergantung kondisi udara.
Karena perbedaan yang sangat besar tersebut, mata kita menangkap kilatan petir lebih dahulu daripada telinga mendengar guruh.
Jadi, bukan berarti petir muncul lebih dulu lalu beberapa detik kemudian baru menghasilkan guruh. Keduanya berasal dari peristiwa yang sama, tetapi sinyal cahaya sampai ke kita jauh lebih cepat.
Bagaimana Suara Guruh Halilintar Terbentuk?
Suara guruh sebenarnya merupakan akibat langsung dari petir. Ketika terjadi pelepasan listrik, udara di sekitar jalur petir dipanaskan secara ekstrem dalam waktu yang sangat singkat.
NOAA menjelaskan bahwa suhu udara di sekitar saluran petir dapat mencapai sekitar 30.000 derajat Celsius.
Pemanasan yang sangat cepat tersebut membuat udara mengalami pemuaian secara eksplosif dan menghasilkan gelombang kejut. Gelombang inilah yang kemudian merambat melalui udara dan terdengar sebagai suara guruh.
Suara guruh juga tidak selalu terdengar seperti satu bunyi "duar". Kita dapat mendengar suara retakan tajam, dentuman, hingga gemuruh panjang.