SuaraBandung.id - Menjelang pemilihan presiden pada 2024 nanti, mesin partai mulai dipanaskan. Sejumlah nama calon presiden mulai dimunculkan, dengan harapan bisa mendapat tambahan keuntungan.
Hal itu juga yang sudah dilakukan beberapa partai, termasuk NasDem, di mana sudah mengumumkan tiga calon presiden, yang di dalamnya ada nama Anies Baswedan.
Namun, apakah hal itu sejurus dengan "keuntungan" tadi? Lembaga survei ikut andil dalam menerawang calon presiden mana yang kemungkinan masuk bursa 2024 nanti.
Misal, jika melihat hasil Survei Center for Political Communication Studies (CPCS), memperlihatkan elektabilitas Partai NasDem turun menjadi 2,1 persen.
Padahal, setelah sebelumnya Partai NasDem mampu mencapai 4,0 persen pada survei CPCS bulan April 2022.
"Keputusan mengusung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon presiden membuat NasDem ditinggal oleh sebagian pemilih nasionalis," kata Direktur Eksekutif CPCS Tri Okta dikutip dari ANTARA, Kamis (4/8/2022).
Jika melihat hasil hingga tiga bulan lalu, tutur Okta melanjutkan, NasDem masih mampu mengamankan posisi dengan meraih elektabilitas di atas ambang batas parlemen sebesar 4 persen.
"Anjloknya dukungan terhadap NasDem berbanding terbalik dengan kenaikan elektabilitas partai-partai nasionalis lainnya," ucap Okta.
PDIP misalnya, tetap unggul pada peringkat pertama dan mengalami kenaikan elektabilitas menjadi 19,5 persen dari 18,1 persen pada bulan April, disusul Gerindra sebesar 13,2 persen, dan Golkar 8,8 persen.
Di antara tiga partai yang berpeluang mengusung Anies, hanya PKS yang tampak menikmati kenaikan elektabilitas.
PKS meraih elektabilitas 6,0 persen di bawah PKB (7,1 persen). Sedangkan, Demokrat cenderung stagnan (5,3 persen) di bawah PSI (5,6 persen).
Menurut Okta, keputusan NasDem mencapreskan Anies belum tentu sudah bersifat final.
"Mencapreskan Anies merupakan strategi NasDem untuk memimpin poros koalisi di luar PDIP, Gerindra, dan Golkar," kata Okta.
Okta berpandangan bahwa peta koalisi dan bursa capres masih sangat dinamis, termasuk pertimbangan NasDem untuk mengusung Anies.
Sejauh ini, Anies masih menjadi figur sentral di kubu oposisi pemerintahan Jokowi, dan kerap dirangkul untuk meningkatkan posisi tawar dalam politik.