SuaraBandung.id - Apa yang sebenarnya terjadi di Stadion Kanjuruhan usai pertandingan Arema FC vs Persebaya tidak ada yang tahu percis.
Termasuk dalam satu kesaksian suporter yang ada di tribun penonton yang merasa tidak terjadi kerusuhan, meski ada kemarahan lantaran Arema kalah dari Persebaya, 2-3.
Ketika sejumlah suporter masuk ke lapangan, suporter yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, seharusnya yang diamankan mereka yang masuk.
Dia menilai aparat tidak perlu menembakkan gas air mata ke arah penonton yang ada di tribun.
Karena ada tembakan ke tribun penonton, sehingga terjadi saling berdesakan untuk menjauh dari asap tembakan gas air mata.
Di situ semua mulai tidak terkendali, dan banyak suporter anak-anak wanita berlarian kalah oleh tenaga suporter laki-laki yang juga ingin menyelamatkan diri.
"Jika yang aparat hanya mengamankan yang dilapangan, tanpa menembakan gas air mata ke suporter yang di tribun mungkin kejadian ini tidak terjadi," sebutnya.
Dia kemudian bertanya, berapa korban jiwa yang ditimbulkan dari suporter yang merangsek ke lapangan.
Angka itu kata dia tidak signifikan dibanding dengan suporter yang berdesakan di tribun lalu terinjak-injak dan meninggal dunia.
Seperti diketahui dunia sepak bola tanah air sedang berduka. Insiden besar melanda dunia suporter Indonesia yang jumlahnya mencapai 187 orang (hingga pukul 15.00 WIB) pada 2 Oktober 2022.
Stadion Kanjuruhan Malang praktis saat kejadian menjadi seperti neraka di mana semua orang bisa mati kapan saja secara acak.
Ribuan penggemar tuan rumah, Arema FC marah besar saat timnya kalah, hingga menyerbu lapangan.
Insiden itu kemudian direspon polisi dengan tembakan gas air mata ke arah tribun suporter.
Hal itu yang diduga menjadi pemicu keributan semakin besar dan meluas hingga semua ketakutan.
"Pukul 02.30 WIB korban tewas 158 orang, pukul 03.30 WIB angkanya naik menjadi 174 orang meninggal (08.00 WIB). Itu data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim," ucap Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak, dikutip dari NDTV.