SuaraBandung.Id-Baru tiga hari dinikahi Kaesang Pangarep, Erina Gudono mencurahkan perasaannya sebagai istri di media sosial Instagram @erinagudono, Senin (12/12/22).
Dalam unggahannya, Erina Gudono mengungkapkan Betapa bahagianya menjalani peran sebagai istri dari kaesang Pangarep yang disebutnya lebih bucin meskipun kadang banyak bercanda dan disebut slengean.
Curhat mengenai perasaannya sebagai istri, Erina Gudono juga melengkapi unggahan sukacitanya dengan sebuah foto saat ia sedang salim atau mencium tangan sang suami, Kaesang Pangarep usai sah menjadi suami istri di Pendopo Agung Royal Ambarrukmo, Yogyakarta.
Sedang merasakan manisnya masa bulan madu, Top 11 Puteri Indonesia 2022 ini juga menyematkan untaian doa yang berisi doa pengharapan untuk kebaikan mereka berdua.
"Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam kehidupan keluargaku. Berkahilah keluargaku dalam kehidupanku, berilah keluargaku rezeki dariku, dan berilah aku rezeki dari mereka," tulisnya.
Lebih lanjut Erina menceritakan bahwa vibes dan perasaan sebagai seorang istri sah, jauh lebih kena di hati dibandingkan dengan masa-masa berpacaran.
"Walaupun tiap hari sering salim tapi salimnya ini rasanya beda. Terimakasih atas doa dan dukungannya dari semuaaa! katanya.
Dalam beberapa unggahan barunya di Instagram, wanita yang baru saja berulang tahun yang ke-26 pada 11 Desember ini juga memperlihatkan beberapa foto saat momen penting pernikahannya. Salah satu yang membuatnya berkesan adalah Upacara Panggih adat Yogyakarta.
"Upacara diawali dengan penyerahan pisang sanggan, balangan gantal, ranupada, bubah kawah, mecah tigan, kacar kucur, dhahar kalimah, mapag besan, dan sungkeman," tulisnya.
Kemudian Erina juga tak lupa menceritakan beberapa persiapan menuju hari bahagianya bersama Kaesang, khususnya momen sebelum akad. Ada banyak cerita dibalik layar acara pernikahan ini.
"Acara yang dikonsep oleh aku dan Kaesang sesuai selera kami dari tema, motif kain, busana, alur acara, dan segala perintilan lainnya. Termasuk untuk rias dari awal mas kaesang, Ibu, Mama, dan Gusti Putri titip pesan untuk memakai Paes Ageng Yogya, tapi butuh waktu lama untuk akhirnya aku memantapkannya bahkan sampai lima hari sebelum acara," tulisnya.
Namun bukan Erina kalau tidak perfeksionis. Ia pun mulai banyak berdiskusi dan membahas beberapa literatur mengenai tradisi riasan Paes Ageng.
"Karena aku mau melakukannya dengan hati-hati dan sepenuhnya untuk menyebarkan budaya Yogyakarta ke masyarakat. Harapannya makin banyak orang tahu bahwa di balik indahnya riasan Paes Ageng Yogyakarta, dari cithak, centhung, paes prada, alis menjangan, dan sebagainya ternyata tersimpan banyak filosofi agung di dalamnya."
"Filosofi ini menjadi bentuk harapan bagi pengantin wanita dan pria dalam menjalani kehidupan pernikahan,"tukasnya.*