Dedi Mulyadi Sayangkan Para Pemindang Banyak yang Terjerat Utang: Masa Pemerintah Kalah Sama Bank Emok?

Suara Bandung Suara.Com
Rabu, 14 Desember 2022 | 22:16 WIB
Dedi Mulyadi Sayangkan Para Pemindang Banyak yang Terjerat Utang: Masa Pemerintah Kalah Sama Bank Emok?
Dedi Mulyadi saat lakukan kunjungan kerja ke sentra ikan pindang di Cicinde Utara, Rabu 14 Desember 2022 (Tim Dedi Mulyadi)

SuaraBandung.id  - Dedi Mulyadi yang merupakan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI ungkapkan ada hal yang harus dirumuskan terkait perubahan yang harus dilakukan untuk mendorong pendapatan para pemindang atau pembuat ikan pindang. 

Hal itu ia ungkapkan pasca melakukan kunjungan kerja ke sentra ikan pindang di Cicinde Utara, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, Rabu (14/12/2022).

Seperti diketahui wilayah Cicinde Utara menjadi sentra pembuatan ikan pindang yang nantinya dijual ke seluruh pasar khususnya wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

"Yang pertama kita ingin adanya perubahan tata kelola pemindangan. Pertama diarahkan agar memiliki sanitasi IPAL komunal sehingga tidak ada lagi pembuangan bekas pencucian ikan ke saluran air," ujar Kang Dedi Mulyadi.

Dijelaskannya juga, selama ini setiap rumah yang memproduksi pindang membuang air sisa produksi seperti darah ikan ke saluran ke got. Namun nantinya seluruh rumah produksi akan terintegrasi melalui sambungan pipa ke IPAL komunal untuk pembuangan sisa produksi.

Selanjutnya Kang Dedi juga mengusulkan agar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendorong bantuan pembuatan badeng atau panci pengolahan ikan pindang.

"Kita dorong agar memakai badeng yang terbuat dari stainless. Karena kan selama ini mereka masih menggunakan plastik," katanya.

Hal lainnya, lanjut Kang Dedi yang menjadi  ketua rombongan kunjungan kerja juga mengusulkan agar KKP memberikan bantuan mobil angkutan berpendingin untuk mengangkut ikan dari Jakarta ke Cicinde. Sehingga kualitas ikan tetap terjaga.

Terakhir, Kang Dedi meminta agar kementerian terkait untuk membantu permodalan. Sebab selama ini pemindang banyak terjerat utang ke rentenir atau biasa dikenal bank emok di wilayah tersebut.

Baca Juga: OpenSignal: Telkomsel dan XL Operator Terbaik Indonesia di Akhir 2022

"Bank emok ini masih kuat di masyarakat karena mereka mempunyai kecepatan. Saya minta Dirjen yang menangani untuk mendorong permodalan dengan mempertimbangkan kecepatan pelayanan sehingga tidak kalah dengan bank emok. Masa pemerintahan kalah sama bank emok?," ujarnya.

Sebagai informasi, bank emok atau rentenir masih menjadi pilihan pemindang dalam bantuan permodalan. Meski bunga dan potongan besar, namun bank emok tetap menjadi primadona karena minim persyaratan dan uang cepat didapat.

Kang Dedi Mulyadi berharap dengan berbagai usulan tersebut produksi pindang tidak hanya bisa memenuhi pasar Jawa Barat tapi juga ke luar daerah dan luar negeri.

"Harapannya tentu pindang ini tidak hanya jadi kegemaran masyarakat Jawa Barat tapi juga tembus ke luar daerah dan luar negeri," tandas Kang Dedi Mulyadi. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI