SuaraBandungBarat.id - Tidak ada yang menyangka jika Brigadir Nofriansyah Joshua Hutabarat (Brigadir J) berani mengancam untuk menembak atasanya, yakni Kadiv Propam Polri saat itu, Ferdy Sambo.
Dengan nada tinggi dan mengancam, Brigadir J meminta Putri Candrawathi tidak membocorkan apa yang baru saja terjadi.
Brigadir J kemudian mengancam akan menembak Ferdy Sambo dan anak-anak Putri jika peristiwa perkosaan sampai dibocorkan.
Setidaknya hal tersebut yang jadi kesaksian Putri Candrawathi dalam pengakuannya yang diperkosa mendiang Brigadir J.
Bukan itu saja, Puti juga mengungkap 15 menit pertemuan di kamar, yang ada dirinya dan Brigadir J.
Saat itu Brigadir J menangis meminta ampun seperti menyesali perbuatannya, yakni telah memperkosanya.
Peristiwa tangis Brigadir J ini terjadi saat berbicara bersama istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, di rumah Magelang Jawa Tengah, pada 7 Juli 2022 malam.
Pertemuan bersama Putri Candrawathi ini setelah Kuat Maruf melihat Brigadir J turun mengendap-endap dari lantai dua.
Dikisahkan sebelumnya, Putri Candrawathi ditemukan tidak berdaya oleh asisten rumah tangga (ART) bernama Susi.
Baca Juga: Perempuan Ini Pilih Kabur Bareng Mantan Pacar, Dibanding Suami yang Kerja Kuli dengan Gaji Rp 2 Juta
Saat itu Susi ditemukan dalam kondisi tergeletak. Bahkan disebutkan hampir tidak sadarkan diri seusai Brigadir J berada di lantai atas.
Tak lama dari sana, Putri langsung menghubungi Bripka RR melalui Bharada E, untuk meminta keduanya pulang ke rumah Magelang.
Setiba di rumah, Bripka RR lalu mendapat perintah untuk naik ke lantai dua rumah Magelang.
Saat itu Bripka RR kemudian diminta Putri Candrawathi untuk memanggil Brigadir J.
"Sekitar pukul 19.30 WIB, Richard Pudihang Eliezer Lumiu (Bharada E) dan Ricky Rizal Wibowo (Bripka RR) kembali ke rumah Magelang karena sebelumnya telah dihubungi saksi Putri Candrawathi untuk cepat kembali ke rumah Magelang."
Setiba di rumah Magelang, Richard Pudihang Eliezer Lumiu alias Bharada E dan Ricky Rizal Wibowo mendapati saksi Putri Candrawathi sedang menangis di kamarnya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Namun, saksi Putri Candrawathi tidak memberi penjelasan apapun," kata jaksa membacakan dakwaan.
Putri Candrawathi kemudian meminta Ricky Rizal Wibowo untuk memanggil Kuat Maruf dan menenangkannya.
Putri berharap tidak terjadi keributan antara Kuat Maruf dan Nofriansyah Joshua Hutabarat.
Setelah memanggil Kuat Maruf, Putri Candrawathi lantas memerintahkan Bripka RR untuk memanggil Brigadir J.
Bripka RR kemudian menanyakan apa yang telah terjadi pada Brigadir J dan Kuat Maruf.
Brigadir J saat itu mengaku tidak tahu mengapa Kuat Maruf marah kepadanya.
"Saksi Putri Candrawathi lalu meminta Ricky Rizal Wibowo agar memanggil Nofriansyah Joshua Hutabarat," kata jaksa.
"Ricky Rizal Wibowo lalu turun ke lantai satu rumah Magelang dan memanggil Nofriansyah Joshua Hutabarat sambil bertanya, 'ada apa Yos?'."
"Dan dijawab oleh Nofriansyah Joshua Hutabarat, 'nggak tahu Bang, kenapa Kuat marah sama saya'," ungkap Jaksa membacakan dakwaan.
Saat itu juga Bripka RR mengajak Brigadir J ke kamar Putri Candrawathi lantaran hal itu menjadi perintah dari istri Ferdy Sambo.
Kemudian Bripka RR menunggu di dekat pintu kaca di depan kamar Putri Candrawathi agar tidak terjadi keributan.
Putri Candrawathi ketika itu menyebut telah memaafkan sikap Brigadir J. Namu Putri meminta sang ajudan untuk mengundurkan diri.
Brigadir J keluar kamar Putri, dan Bripka RR melihat Brigadir J menangis.
"Saksi Putri Candrawathi mengatakan kepada Nofriansyah Joshua Hutabarat, 'saya mengampuni perbuatanmu yang keji terhadap saya. Tapi, saya minta kamu untuk resign'," kata Jaksa.
"Lalu, Nofriansyah Joshua Hutabarat keluar kamar sambil menangis dan turun bersama Ricky Rizal Wibowo," kata jaksa.
Petaka tengah malam
Tak ada yang menyangka, keinginan Putri mengubur peristiwa memalukan itu akhirnya diungkapkan pada sang suami atas sarang Kuat Maruf.
Sekitar tengah malam, Putri Candrawathi kemudian menelepon Ferdy Sambo.
Kepada suaminya, Putri mengatakan ingin segera pulang ke Jakarta.
Ferdy Sambo latas mendegar curhatan Putri, jika Brigadir J telah bersikap kurang ajar padanya.
Saat itu, Putri Candrawathi tidak menceritakan secara lengkap apa yang sebenarnya terjadi di Magelang.
Putri berjanji akan menceritakannya langsung setiba di rumah, Jakarta.
Bukan itu saja, Putri Candrawathi kemudian berpesan pada Ferdy Sambo tidak memberi tahu para ajudan terkait insiden yang dialaminya.
Dia mengatakan tak ingin keselamatan pihak lain terancam gara-gara kejadian yang dialaminya.
Menurut Putri Candrawathi, Brigadir J telah berani mengancam untuk tidak menceritakan apa yang terjadi di rumah Magelang.
Melalui kuasa hukumnya, Putri mengatakan jika Brigadir J mengancam akan menembak Ferdy Sambo dan anak-anak, jika perkosaan tersebut bocor.
"Awas (Putri) kalau kamu bilang sama Ferdy Sambo," kata kuasa hukum menirukan ucapan Brigadir J berdasar pengakuan Putri.
"Saya tembak kamu, Ferdy sambo dan anak-anak kamu," ujar kuasa hukum. (*)