SuaraBandungBarat.Id – Bertakbir pada hari raya Idul Fitri, merupakan salah satu amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Bertakbir juga merupakan, salah satu bentuk syukur kita kepada Allah SWT. Atas semua nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
yuridullahu bikumul-yusra wala yuridu bikumul-'usra wa litukmilul-'iddata walitukabbirullaha 'ala ma hadakum wa la'allakum tasykurun.
Artinya : “...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengucapkan bilangan (hari Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur,” (QS. Al-Baqarah:185).
Bertakbir sifatnya wajib untuk dikumandangkan, yaitu pada 2 hari raya kaum muslim, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.
Pada kesempatan kali ini, insyaallah akan mempelajari tentang beberapa sunnah Nabi SAW tentang bertakbir pada Hari Raya Idul Fitri.
Waktu yang disyariatkan untuk mengumandangkan takbir Idul Fitri yaitu sejak terbenamnya matahari di hari terakhir Ramadhan atau pada malam tanggal 1 Syawal.
Baca Juga: Lebih Utama Salat Idul Fitri di Masjid atau di Lapangan? Begini Penjelasannya
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ta'ala ‘anhu menafsirkan surat Al-Baqarah: 185 di atas bahwasanya:
“Wajib bagi kaum muslimin apabila mereka telah melihat hilal Syawal, untuk bertakbir mengagungkan Allah Ta'ala sampai selesai hari raya mereka.”
Adapun batas berakhirnya Takbir Idul Fitri adalah setelah melaksanakan Sholat Idul Fitri.
Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abi Dzi’bin dari Az-Zuhri, bahwasannya Nabi Muhammad SAW keluar menuju lapangan pada Idul Fitri, Beliau bertakbir hingga tiba di lapangan dan sampai selesai sholat. Setelah selesai shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah; dishahihkan oleh Al-Albani).
2. Lafadz Takbir Sesuai Sunnah
Inilah lafadz takbir Idul Fitri dan Idul Adha, yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi SAW.