Sarung tenun Samarinda adalah kain tradisional khas Ibu Kota Kalimantan Timur yang memiliki nilai sejarah.
Menurut cerita, kain tersebut awalnya dibawa oleh pendatang dari Suku Bugis di Sulawesi yang mencari suaka setelah runtuhnya Kesultanan Gowa Tallo.
Harga sarung tenun ini pun mencapai ratusan ribu rupiah karena proses pembuatannya yang bisa memakan waktu berminggu-minggu bergantung pada corak dan warnanya.
Ada banyak corak khas dari sarung tenun ini dan berikut 5 di antaranya:
1. Lebba Suasa
Lebba Suasa ini merupakan corak yang pertama kali dibuat oleh para pengrajin tenun Samarinda.
Namun kini corak lebba suasa sudah tidak dikeluarkan lagi karena jarang digemari di pasaran.
Corak ini terdiri dari dua warna, yaitu warna hitam dan putih dan di tepi atau sisi sarung diberi corak warna merah.
2. Kamummu (Hatta)
Corak Kamumu berwarna biru yang dikombinasikan dengan warna hitam dan disebut corak Hatta karena tidak lepas dari faktor sejarah.
Hal itu lantaran saat Bung Hatta sebagai Wakil Presiden Indonesia berkunjung ke Samarinda dan Koperasi RUWI (Rukun Wanita Indonesia) Cabang Samarinda memberikan sarung Samarinda kepada Moh. Hatta.
3. Ayaman Palupuh
Corak ini terdiri dari dua macam yaitu tabba biasa dan tabba galak dan disebut ayaman palupuh karena corak ini menyerupai bambu.
4. Rawa-rawa Masak
Rawa-rawa yaitu nama sejenis buah jambu dan rawa-rawa yang masak berwarna merah muda atau lembayung.
Corak ini dinamakan demikian karena berwarna lembayung seperti warna rawa-rawa masak.
5. Coka Manippi
Corak Manippi mempunyai latar belakang cerita tentang putri bangsawan Kutai yang suatu hari bermimpi masuk kedalam surga.
Di dalam mimpi tersebut sang putri melihat warna-warni yang sangat menawan hatinya dan ketika terbangun dari mimpinya sang putri sangat gundah dan merindukan warna yang ada dalam mimpi tersebut.
Kemudian sang putri memanggil penenun untuk menenun sarung dengan warna-wani yang ada dalam mimpinya. Corak itu kemudian disebut Coka Manippi yang artinya ditaklukkan oleh mimpi.
Menurut riwayatnya di zaman dulu, corak Coka Manippi dilarang dipakai oleh masyarakat biasa karena khusus dipakai oleh keluarga bangsawan Kutai.