IPW: Harga Rumah Sudah Tidak Rasional Lagi

Doddy Rosadi

Rabu, 15 Oktober 2014 | 11:06 WIB
IPW: Harga Rumah Sudah Tidak Rasional Lagi
Warga ramai mengunjungi stan-stan pengembang dalam Pameran Rumah Rakyat 2014. (suara.com/Kurniawan Mas'ud)

Suara.com - Kenaikan harga tanah yang terjadi dalam dua sampai tiga tahun belakangan membuat para pengembang relatif ‘terjebak’ dengan patokan harga yang sudah tinggi. Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda mengatakan, banyak pengembang yang kesulitan untuk membangun rumah menengah sampai atas karena harga tanah yang sudah tinggi tidak terjangkau oleh daya beli yang ada.

“Untuk kalangan investor sekalipun, harga rumah yang tinggi dinilai sudah tidak rasional lagi. Pasar berangsur-angsur bergeser ke segmen menengah dengan menyasar kaum end user. Namun kembali lagi harga tanah yang tinggi membuat para pengembang kesulitan mematok harga jual. Lokasi perumahan menengah pun relatif semakin menjauh dari pusat kota. Beberapa pengembang mulai memilih untuk membangun secara vertikal dan mengambil pasar apartemen segmen menengah,” katanya, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (15/10/2014).

Kata dia, untuk konsumen yang lebih menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) relatif masih terhambat suku bunga yang tinggi. Menyikapi hal itu banyak pengembang yang membuat strategi cicilan uang muka yang dapat diangsur bahkan selama 3 tahun. Hal ini juga sebagai antisipasi pihak pengembang dalam hal pengetatan penjualan rumah secara inden yang diberlakukan Bank Indonesia.

“Aksi wait and see yang diperkirakan akan melunak setelah pemilu, ternyata masih berlanjut menyusul kondisi politik yang masih belum terlalu kondusif. Manuver-manuver politik di parlemen membuat khawatir beberapa pihak akan kondisi perekonomian mendatang. Hal ini membuat banyak pengembang yang memilih aksi tidak menaikkan harga tanahnya sambil menunggu perkembangan,” jelasnya.

Di sisi lain, berdasarkan survei Indonesia Property Watch, tingkat penjualan yang terjadi di triwulan III/2014 kembali mengalami penurunan sebesar -9,4% (qtq) setelah pada triwulan II/2014 menurun juga sebesar -0,9% (qtq). Nilai transaksi penjualan pasar perumahan di wilayah Jabodebek-Banten tercatat sebesar Rp1.291.705.200.350.

“Penurunan ini juga terjadi untuk jumlah unit terjual yang menurun  25,7% di mana sebenarnya para triwulan II/2014 telah mengalami kenaikan 6,9%. Pasar perumahan semakin bergeser ke segmen menengah dengan komposisi 45,3% dibandingkan dengan segmen kecil sebesar 43,5% dan segmen atas 11,2%,” ungkapnya.

Ali menambahkan, sampai akhir tahun 2014 diperkirakan pasar akan mengalami perlambatan meskipun proses transisi ke pemerintahan baru relatif berjalan lancar. Hal ini lebih dikarenakan pasar perumahan saat ini masih mencari bentuk keseimbangan baru setelah terjadi percepatan yang signifikan dua tahun belakangan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Perbaiki Rumah Tidak Layak Huni, Pemerintah Siapkan Dana Rp1,5 Triliun

Perbaiki Rumah Tidak Layak Huni, Pemerintah Siapkan Dana Rp1,5 Triliun

Bisnis | Selasa, 07 Oktober 2014 | 15:25 WIB

Over Supply, Pasar Properti Berpotensi Alami Kejenuhan

Over Supply, Pasar Properti Berpotensi Alami Kejenuhan

Bisnis | Jum'at, 03 Oktober 2014 | 11:17 WIB

Posisi Menpera Masih Jadi Anak Tiri di Kabinet Jokowi-JK

Posisi Menpera Masih Jadi Anak Tiri di Kabinet Jokowi-JK

Bisnis | Selasa, 30 September 2014 | 12:09 WIB

6,7 Juta Keluarga Masih Tinggal di Rumah Kumuh

6,7 Juta Keluarga Masih Tinggal di Rumah Kumuh

Bisnis | Jum'at, 26 September 2014 | 18:35 WIB

Terkini

Coba Hilangkan Bukti, Pembacok Bobotoh Persib di Bogor Buang Celurit ke Selokan

Coba Hilangkan Bukti, Pembacok Bobotoh Persib di Bogor Buang Celurit ke Selokan

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 23:22 WIB

Golkar Bidik Naikkan Kursi di Pemilu 2029, Target Lampaui 102 Kursi DPR!

Golkar Bidik Naikkan Kursi di Pemilu 2029, Target Lampaui 102 Kursi DPR!

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 23:13 WIB

Pendapatan Meroket 1.368%, Tapi Saingan ChatGPT Ini Malah Rugi Rp1.300 Triliun!

Pendapatan Meroket 1.368%, Tapi Saingan ChatGPT Ini Malah Rugi Rp1.300 Triliun!

Bisnis | Senin, 26 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Polres Bogor Ringkus Pelaku Pembacokan Bobotoh di Karadenan, Celurit Jadi Bukti

Polres Bogor Ringkus Pelaku Pembacokan Bobotoh di Karadenan, Celurit Jadi Bukti

Jabar | Senin, 26 Oktober 2026 | 22:57 WIB

Operasi Patuh Maung 2026 di Banten, Ini Daftar Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara

Operasi Patuh Maung 2026 di Banten, Ini Daftar Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara

Banten | Senin, 26 Oktober 2026 | 22:51 WIB

Ditangkap di Karadenan Bogor! Pembacok Bobotoh Terancam 15 Tahun Penjara

Ditangkap di Karadenan Bogor! Pembacok Bobotoh Terancam 15 Tahun Penjara

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 22:45 WIB

Olah TKP Kasus Pembunuhan Ibu-Anak Asal Bogor, Polda Jatim Cek Tungku Pembakaran Jasad

Olah TKP Kasus Pembunuhan Ibu-Anak Asal Bogor, Polda Jatim Cek Tungku Pembakaran Jasad

Jabar | Senin, 26 Oktober 2026 | 22:40 WIB

Jatuh Bangun Bisnis, Pengusaha Perlu Tahu Kapan Harus Bertahan atau Berubah

Jatuh Bangun Bisnis, Pengusaha Perlu Tahu Kapan Harus Bertahan atau Berubah

Lifestyle | Senin, 26 Oktober 2026 | 22:40 WIB

Alasan Danantara Mau Tutup dan Likuidasi 750 BUMN

Alasan Danantara Mau Tutup dan Likuidasi 750 BUMN

Bisnis | Senin, 26 Oktober 2026 | 22:33 WIB

Tak Ada Pinjaman Baru di APBD 2027, Sekda Jabar sebut Fokus Rasionalisasi Belanja

Tak Ada Pinjaman Baru di APBD 2027, Sekda Jabar sebut Fokus Rasionalisasi Belanja

Jabar | Senin, 26 Oktober 2026 | 22:30 WIB

×