Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.760.000
Beli Rp2.630.000
IHSG 6.195,427
LQ45 619,275
Srikehati 301,815
JII 377,408
USD/IDR 17.858

Indonesia Terjepit Jika Terjadi Perang Kurs di Asia

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 20 Agustus 2015 | 14:43 WIB
Indonesia Terjepit Jika Terjadi Perang Kurs di Asia
Gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (12/8). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Tindakan Vietnam yang membiarkan mata uangnya, dong melemah 1 persen, Rabu (19/8/2015) kemarin mendorong spekulasi akan terjadi perang kurs di kawasan asia. Sebelumnya Cina yang melakukannya.

Sejak kemarin pelemahan itu membuat dong senilai 21.890 untuk 1 dolar Amerika. Penurunan nilai ini untuk mendorong daya saing peroduk ekspor Vietnam di Asia. Vietnam melakukan devaluasi mata uangnya sudah ketika kali tahun ini.

Analis perekonomian dari Universitas Gajah Mada, Tony Prasetiantono menjelaskan perang kurs di Asia ini mungkin saja bisa terjadi. Namun tidak semua negara siap.

Negara-negara yang bisa melakukan itu adalah mereka yang mempunyai struktur ekspornya elastis. Selain itu mempunyai produk industri manufaktur.

"Indonesia kan primary product (pertanian, perikanan, pertambangan, dan kehutanan), kita tidak elastis," jelas Tony di Kantor Bank Permata di Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Kata dia, produk ekspor Vietnam pun sudah siap menghadapi daya saing di pasar global. Terutama mitra dagang utamanya, Cina. Produk ekspor Vietnam bisa tidak berpengaruh dengan pelemahan mata uang. Namun tidak dengan Indonesia.

"Indonesia akan terjepit, stick in the middle. Saya harus akui itu," kata dia.

Selain itu, Indonesia tidak bisa devaluasi mata uang karena harus membayar utang luar negeri. Jika rupiah dibiarkan melemah, maka akan berbahaya untuk cadangan devisa.

"Kalau rupiahnya Rp15 ribu (perdolar AS), kita mati juga. Karena Indonesia banyak utang luar negeri," kata dia.

Keberanian Cina lemahkan yen

Cina mempunyai alasan khusus mengambil langkah sengaja melemahkan mata uang yen. Belangan upah buruh di Cina itu naik seiring kenaikan perekonomian. Selain upah buruh naik, harga tanah di sana pun naik.

"Investor saat ini menyasar ke Vietnam dan Indonesia, harga tanah naik. Dengan keadaan itu, nggak mungkin Cina turunkan upah buruh. Makanya Cina turunkan harga yuan. Saat ini clear," papar dia.

Cina berani menurunkan yuan karena mempunyai cadangan devisa yang banyak. Cadangan devisi Cina saat ini 3,8 triliun dolar AS. Lalu, ekspor Cina ke Amerika serikat masih kuat. Sehingga tidak khawatir terjadi inflasi.

"Ekspor terbesar Cina itu pasti ke Amerika. Penduduk Amerika 300 juta orang dengan pendapatan yang besar," papar Tony.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Badan Nuklir Cina Bersihkan Area Terdampak Ledakan Kimia

Badan Nuklir Cina Bersihkan Area Terdampak Ledakan Kimia

News | Rabu, 19 Agustus 2015 | 16:05 WIB

Tiga Warga Cina Tewas Dalam Ledakan di Bangkok, Thailand

Tiga Warga Cina Tewas Dalam Ledakan di Bangkok, Thailand

News | Selasa, 18 Agustus 2015 | 09:02 WIB

Ancaman Mengerikan Pascaledakan Kimia di Tianjin, Cina

Ancaman Mengerikan Pascaledakan Kimia di Tianjin, Cina

News | Selasa, 18 Agustus 2015 | 06:15 WIB

Terkini

Bank Indonesia Optimistis Inflasi Terkendali, Apa Buktinya?

Bank Indonesia Optimistis Inflasi Terkendali, Apa Buktinya?

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:54 WIB

Harga Emas Antam Tetap Dibanderol Rp 2.774.000/Gram Hari Ini, Saatnya Beli?

Harga Emas Antam Tetap Dibanderol Rp 2.774.000/Gram Hari Ini, Saatnya Beli?

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:50 WIB

Fitch Ratings Proyeksi Profitabilitas ARTO dengan Dukungan Ekosistem GOTO

Fitch Ratings Proyeksi Profitabilitas ARTO dengan Dukungan Ekosistem GOTO

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:46 WIB

Tinggalkan Perang Bunga, BTN Kini Kejar CASA Lewat Ecosystem Banking

Tinggalkan Perang Bunga, BTN Kini Kejar CASA Lewat Ecosystem Banking

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:36 WIB

Harga Emas di Pegadaian Turun Semua Hari Ini, Cek Daftarnya di Sini!

Harga Emas di Pegadaian Turun Semua Hari Ini, Cek Daftarnya di Sini!

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:35 WIB

Fitch Afirmasi Peringkat Bank Jago (ARTO) di Level A dengan Outlook Stabil

Fitch Afirmasi Peringkat Bank Jago (ARTO) di Level A dengan Outlook Stabil

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:29 WIB

IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini

IHSG Diproyeksi Menguat Lagi, Investor Bisa Cermati Saham-saham Ini

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:25 WIB

Ratusan Bank dan Bank Syariah Resmi Merger Massal, Ini Dampaknya!

Ratusan Bank dan Bank Syariah Resmi Merger Massal, Ini Dampaknya!

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:15 WIB

Dari Sedekah Muncul Ide Usaha, Sandal Produksi Rumahan Ini Kini Tembus Pasar Nasional

Dari Sedekah Muncul Ide Usaha, Sandal Produksi Rumahan Ini Kini Tembus Pasar Nasional

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:12 WIB

Rapor Perbankan April 2026: Bank Mandiri Solid, Bagaimana dengan BCA?

Rapor Perbankan April 2026: Bank Mandiri Solid, Bagaimana dengan BCA?

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 08:10 WIB