Gejolak Rupiah, Pedagang Tempe "Kelenger"

Siswanto

Rabu, 26 Agustus 2015 | 14:53 WIB
Gejolak Rupiah, Pedagang Tempe "Kelenger"
Ilustrasi tempe. (suara.com)

Suara.com - Sejumlah perajin tempe di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terancam gulung tikar karena kenaikan kedelai impor di tingkat pengecer menembus Rp8.200 per kilogram, padahal sebelumnya Rp7.000 per kilogram.

"Kenaikan harga kedelai itu akibat dampak pelemahan nilai rupiah hingga mencapai Rp14 ribu per dolar AS," kata Adhari, seorang perajin tempe warga Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, Rabu (26/8/2015).

Menurut dia, saat ini pelaku usaha tempe bingung setelah harga kedelai naik sehingga mengancam keberlangsungan perajin usaha kecil itu di mana saat ini produksi tempe telah berkurang sekitar 60 persen.

Apalagi, perajin tempe di Kabupaten Lebak tidak memiliki lembaga usaha seperti koperasi dan asosiasi yang bisa melindungi mereka.

Para perajin tempe di sini sejak dulu menggunakan kedelai impor dari Argentina dan Amerika Serikat karena pasokan kedelai lokal relatif terbatas, selain kualitasnya di bawah kedelai impor.

Kenaikan harga kedelai membuat perajin mengeluarkan modal untuk produksi dua kali lipat dari biasanya, semula untuk 60 kilogram kedelai, namun kini menjadi 32 kilogram.

"Kami sangat terpukul dengan kenaikan kedelai karena keuntungan relatif kecil akibat biaya produksi cukup tinggi," kata Adhari.

Kebanyakan pedagang di sini bermodal relatif kecil, sedangkan harga satuan tempe di pasaran tidak naik.

Soleh, seorang perajin tempe warga Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak mengaku terpukul oleh kenaikan harga kedelai impor ini yang kian menipiskan modalnya.

"Kami kalau dulu terbantu dari koperasi untuk kebutuhan kedelai, namun saat ini dipasok dari pengecer," katanya. "Kami memperkecil ukurannya namun harga tetap sama sebesar Rp1.000."

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Wawan Ruswandi, mengatakan 245 perajin tempe di daerahnya terpukul oleh kenaikan harga kedelai impor.

"Kami akan melaksanakan intervensi melalui subsidi maupun operasi pasar, sebab kenaikan kedelai impor akibat melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS," kata Wawan. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ekonom UNS: Kembalikan Tahun Anggaran Negara dan Fiskal

Ekonom UNS: Kembalikan Tahun Anggaran Negara dan Fiskal

Bisnis | Rabu, 26 Agustus 2015 | 14:15 WIB

DPR Apresiasi Buyback Saham BUMN, Tapi Harus Hati-hati

DPR Apresiasi Buyback Saham BUMN, Tapi Harus Hati-hati

Bisnis | Rabu, 26 Agustus 2015 | 13:04 WIB

Dolar Tembus Rp14 Ribu, Produsen Handicraft Bali Untung Besar

Dolar Tembus Rp14 Ribu, Produsen Handicraft Bali Untung Besar

News | Rabu, 26 Agustus 2015 | 12:28 WIB

Rupiah Terpuruk, Pengrajin Tahu Solo Kena Dampak

Rupiah Terpuruk, Pengrajin Tahu Solo Kena Dampak

Bisnis | Rabu, 26 Agustus 2015 | 12:20 WIB

Terkini

Tak Berhenti di Pelatihan, Dosen IKADO Dampingi Warga Simo Gunung Kembangkan Bisnis Digital

Tak Berhenti di Pelatihan, Dosen IKADO Dampingi Warga Simo Gunung Kembangkan Bisnis Digital

Jatim | Rabu, 23 September 2026 | 23:46 WIB

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Sulsel | Rabu, 23 September 2026 | 23:41 WIB

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:35 WIB

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:21 WIB

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Jawa Tengah | Rabu, 23 September 2026 | 23:05 WIB

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:47 WIB

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Otomotif | Rabu, 23 September 2026 | 22:44 WIB

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

News | Rabu, 23 September 2026 | 22:27 WIB

Dari Goma hingga Menchi Katsu, Cita Rasa Jepang Makin Akrab dengan Selera Indonesia

Dari Goma hingga Menchi Katsu, Cita Rasa Jepang Makin Akrab dengan Selera Indonesia

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:26 WIB

Siswa SD Tewas Tersedak Kelengkeng MBG, Kenapa Juknis Buah Belum Spesifik?

Siswa SD Tewas Tersedak Kelengkeng MBG, Kenapa Juknis Buah Belum Spesifik?

Sumsel | Rabu, 23 September 2026 | 22:12 WIB

×