Indonesia Belum Masuk Fase Krisis

Ardi Mandiri

Sabtu, 05 September 2015 | 07:13 WIB
Indonesia Belum Masuk Fase Krisis
Rupiah Terpuruk

Suara.com - Perekonomian Indonesia belum masuk fase krisis, meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah, kata ekonom Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Edy Suandi Hamid.

"Namun, kalau pemerintah terlalu percaya diri dan hanya menyalahkan faktor eksternal, bukan tidak mungkin krisis akan terjadi," katanya pada diskusi ekonomi terkini, di Yogyakarta, Jumat (4/9/2015).

Oleh karena itu, kata dia, pemerintah harus mengambil langkah untuk mereduksi dampak eksternal dan melakukan koordinasi kebijakan yang lebih baik di dalam negeri untuk mengoptimalkan semua potensi yang ada.

Misalnya, bagaimana secara detil membuka jalan bagi semua kementerian dan daerah agar bisa menyerap anggaran secara optimal dan membelanjakannya sesuai dengan perencanaan.

"Pemerintah harus mengambil langkah untuk mereduksi dampak ekonomi eksternal yang berpengaruh pada perekonomian nasional. Salah satunya dapat dicapai dengan merevisi program yang boros devisa dan berdampak ganda," katanya.

Ia mengatakan hal itu lebih tepat daripada menyalahkan kebijakan ekonomi negara lain atau memaksa swasta utuk melakukan sesuatu yang tidak dalam kendali pemerintah.

Selain itu, kata dia, situasi sekarang seharusnya dijadikan momentum untuk mempercepat realisasi anggaran belanja infrastruktur. Pembangunan infrastruktur akan menstimulasi perekonomian yang lesu saat ini.

"Dalam jangka panjang hal itu bisa menggenjot pembangunan ekonomi dengan cepat. Namun, pembangunan infrastruktur harus diarahkan ke wilayah yang potensinya masih banyak sehingga bisa mengoptimalkan sumber daya daerah di luar Jawa," katanya.

Jadi, kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) itu, pembangunan infrastruktur jangan berbasis pada kepadatan penduduk tetapi pada potensi ekonomi sehingga tidak hanya berpusat di Pulau Jawa.

Pakar ekonomi UII Sahabudin Sidiq mengatakan tren pelemahan nilai tukar rupiah salah satunya disebabkan oleh tingginya permintaan mata uang dolar AS di dalam negeri saat ini.

Menurut dia, banyak perusahaan swasta nasional yang dalam jangka pendek harus membayar utang dari luar negeri sehingga mempengaruhi permintaan dolar AS.

Di sisi lain, tingginya ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku impor juga menjadi masalah tersendiri.

"Industri dalam negeri kita masih bergantung pada sumber daya yang tidak berasal dari negeri sendiri sehingga mereka sangat terhantam ketika terjadi penurunan nilai tukar rupiah," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pemerintah juga perlu memikirkan solusi jangka panjang untuk membangun industri bersifat "resources based" material yang dapat diperoleh dari pasokan dalam negeri. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

PM Najib: Ekonomi Malaysia Lebih Kuat

PM Najib: Ekonomi Malaysia Lebih Kuat

News | Kamis, 03 September 2015 | 11:17 WIB

Di Depan Bos IMF, BI Klaim Keadaan Indonesia Lebih Baik

Di Depan Bos IMF, BI Klaim Keadaan Indonesia Lebih Baik

Bisnis | Rabu, 02 September 2015 | 12:47 WIB

Terkini

Siswa SD Tewas Tersedak Kelengkeng MBG, Kenapa Juknis Buah Belum Spesifik?

Siswa SD Tewas Tersedak Kelengkeng MBG, Kenapa Juknis Buah Belum Spesifik?

Sumsel | Rabu, 23 September 2026 | 22:12 WIB

5 Tapol Diintimidasi Jelang Upaya Praperadilan, Setapol Minta Komnas HAM Turun Tangan

5 Tapol Diintimidasi Jelang Upaya Praperadilan, Setapol Minta Komnas HAM Turun Tangan

News | Rabu, 23 September 2026 | 22:12 WIB

Erdogan di Sidang Umum PBB: Gaza Adalah Kuburan Terbesar bagi Anak-anak, Israel Negara Teroris

Erdogan di Sidang Umum PBB: Gaza Adalah Kuburan Terbesar bagi Anak-anak, Israel Negara Teroris

News | Rabu, 23 September 2026 | 22:00 WIB

Wushu Indonesia Tambah 3 Perunggu di Asian Games 2026, Target Final Gagal Tercapai

Wushu Indonesia Tambah 3 Perunggu di Asian Games 2026, Target Final Gagal Tercapai

Sport | Rabu, 23 September 2026 | 21:59 WIB

Eliano Reijnders: Persib Sudah Move On dari Kekalahan Persija, Kami Bangkit

Eliano Reijnders: Persib Sudah Move On dari Kekalahan Persija, Kami Bangkit

Bola | Rabu, 23 September 2026 | 21:59 WIB

Soal MBG, Sosiolog Nilai Rakyat Sengaja Diadu di Isu Marjinal agar Akar Masalah Tak Tersentuh

Soal MBG, Sosiolog Nilai Rakyat Sengaja Diadu di Isu Marjinal agar Akar Masalah Tak Tersentuh

News | Rabu, 23 September 2026 | 21:52 WIB

PT KEL Ditertibkan Satgas PKH, Kuasa Hukum Minta Prabowo Evaluasi

PT KEL Ditertibkan Satgas PKH, Kuasa Hukum Minta Prabowo Evaluasi

News | Rabu, 23 September 2026 | 21:40 WIB

4 Rekomendasi Tablet untuk Kerja di Bawah Rp5 Juta, Memori Luas RAM Besar

4 Rekomendasi Tablet untuk Kerja di Bawah Rp5 Juta, Memori Luas RAM Besar

Tekno | Rabu, 23 September 2026 | 21:34 WIB

Satgas PKH Masuk, Alat Berat Berdatangan: Kuasa Hukum PT KEL Pertanyakan Penguasaan Tambang

Satgas PKH Masuk, Alat Berat Berdatangan: Kuasa Hukum PT KEL Pertanyakan Penguasaan Tambang

News | Rabu, 23 September 2026 | 21:32 WIB

Pendidikan Gratis di PTN Makin Serius Dikaji, Prabowo Bentuk Tim Khusus

Pendidikan Gratis di PTN Makin Serius Dikaji, Prabowo Bentuk Tim Khusus

News | Rabu, 23 September 2026 | 21:26 WIB

×